RSS

“LANGUAGE LITERACY”: Menilik Proses Evolusi Bahasa

10 Dec

Bahasa sebagai alat komunikasi adalah tesis awal dalam perkembangan ilmu bahasa. Tesis tersebut tumbuh seiring dengan kompleksitas relasi manusia dengan manusia, manusia dengan istitusi, dan manusia dengan bahasa itu sendiri. Bahasa berevolusi tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap pertama tersebut diatas berkonteks pada sistem komunikasi sehari-hari antara orang tua dan anak, dimana terjadi proses pembelajaran bahasa antara orang yang sudah mengetahui bahasa dengan orang yang belum mengetahui bahasa. Dalam konteks nyata kita dapat lihat bagaimana perjuangan orang tua dalam memberikan pelajaran bahasa kepada balita hingga mereka bisa berbahasa dengan penuh makna kepada dirinya sendiri, kepada orang tuanya dan berakhir kepada orang lain selain ayah, ibu, saudara, kakek, dan nenek. Makna adalah pembelajaran penting dalam proses perekrutan bahasa oleh manusia saat usai dini dalam lingkungan keluarga, tentunya dengan medium kasih sayang dan kesabaran dari kedua orang tua.

Tahap kedua, ketika seseorang sudah mendapatkan pembelajaran bahasa makna dari orang tuanya, maka manusia akan mencoba berhubungan dengan institusi. Dengan bahasa jugalah mereka akan berinteraksi dengan intitusi tersebut. Bahasa jugalah yang menentukan sukses tidaknya interaksi kedua pihak tersebut. Institusi awal tersebut adalah sekolah dan ia umumnya mengikat dengan apa yang kita sebut bahasa formal dengan restriksi-restriksi DOs dan DON’Ts atau apa yang harus dan tidak harus dalam berbahasa. Disinilah letak paksaan berbahasa muncul. Paksaan-paksaan berbahasa tersebut diiming-imingi oleh kesuksesan yang akan diperolah pada institusi-institusi yang lebih besar setelah keluar dari institusi pertama tersebut (kesuksesan mendapatkan pekerjaan). Kesuksesan dan ketidaksuksesan dalam institusi ini akan berujung pada angka-angka simbolik yang diterjemahkan dengan apa yang kita sebut peringkat atau ranking. Semakin tinggi simbol-simbol angkanya maka semakin sukses kecakapan berbahasanya dan begitupun sebaliknya.

Ketiga, relasi manusia dengan bahasa dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dimana manusia mencoba menkontekstulisasikan perilaku bahasanya. Disini manusia mencoba menghayati, bukan sekedar mempelajari, kedua kemampuan bahasa yang mereka dapatkan; Kapan harus berbahasa makna dan kapan harus berbahasa formal. Pemahaman yang mendalam akan hal ini akan berujung pada dua hal : menjadi seorang penutur yang baik dalam keluarga dan menjadi seorang professional dalam dunia kerja. Inilah dikotomi bahasa dalam masyarakat kita dimana dalam lingkungan keluarga bahasa informal dipandang sebagai simbol keakraban dan bahasa formal (dalam dunia kerja) diidentikkan dengan profesionalitas).

Bahasa melakukan perjalanan-perjalanannya yang begitu kompleks sering tanpa kita sadari. Kompleksitas tersebut adalah murni buatan manusia. Manusia adalah pengguna bahasa, manusia adalah raja dari bahasa itu sendiri dan manusia adalah faktor yang menentukan jalannya bahasa dengan didampingi oleh power-power yang lahir dari institusi. Institusi punya peran yang besar dalam mengendalikan bahasa tapi yang harus kita ingat adalah manusai adalah pengendali institusi-institusi tersebut. Jadi realitas bahasa adalah manusia dengan institusi itu sendiri, formal dan tidak formal hanyalah embel-embel bahasa yang sering nampak dipermukaan saja.

Salam,
Haeril Halim

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2011 in My Articles

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 175 other followers

%d bloggers like this: