Budaya Minta Meminta


Budaya Minta Meminta

“mintalah engkau, pasti kuberi”

By Haeril Halim English Dept 05 UH

Pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini bukan berarti saya adalah orang yang ahli dalam “minta meminta” dan bukan juga ahli dalam “minta dimintai”. Sebagai manusia, dalam hidup ini, pastilah kita pernah ikut andil dalam paradox minta meminta ini, baik itu kita yang meminta maupun sebagai orang yang di tempati meminta.

Sebagai manusia ciptaan Tuhan (yang pasti yang namanya manusia pasti di ciptakan oleh Tuhan, manusia hanya mampu membuat kursi, lamari itu pun hanya membentuk dari apa yang telah diciptakan oleh /tuhan yaitu kayu sebagai bahan dasar lemari dan kayu. Ets, kok jauh bangat ngelanturnya ya?…ok back to laptop..) pastilah kita tahu dimana tempat kita meminta (pastinya kepada pencipta kita dong, masa’ kepada pembuat lemari..he..he..he..). etz, jangan heran dulu pada kesempatan ini saya tidak akan membahas etika meminta kepada Tuhan ataupun membahasa bagaimana cara Tuhan member kepada ciptaannya. Cakrawala saya tentang “budaya Tuhan dalam memberi” masih terlampau dangkal akan hal itu oleh karena itu kita focus saja yang pada “budaya minta meminta kepada sesame ciptaan Tuhan”.

Menurut hukum minta meminta yang saya anut, tatkala seseorang meminta kepada kita maka kita harus memberinya jika hal itu berada dalam kesanggupan kita dan juga kita memberikan kepada “si peminta” berdasarkan apa yang dia minta. Jangan memberikan kepada seseorang apa yang dia tidak minta karena pasti itu tidak sejalan dengan hukum awam yang saya anut tentang hukum minta meminta yaitu “mintalah kamu pasti kuberi”. Lo wong orang minta gunting kok dikasih cangkul gak nyambung kan? Ya iyalah masa’ ya iya dong!!1. ets ngelantur lagi nich…baiklah back to laptop lagi ya…Tukul arwana pernah berkata minta mintalah kepadaku pasti kuberi asalkan tidak lebih dari Rp. 1500…he..he..he..

Kita sebagai orang Indonesia termasuk orang-orang yang kaya raya yang tentunya suka memberi. Kita mempunyai sumber daya alam dengan melimpah, dengan senang hati kita berikan kepada pihak asing untuk dikelolah dan dengan hati yang sangat ikhlas menerima apa yang menjadi percikan dari kekeyaan alam kita yang telah di eksploitasi oleh si “Asing” (baca: pihak asing). Si Asing meminta dan kita dengan senang hati memberi, faktanya budaya minta meminta yang saya anut terbuktikan???” atau untuk konteks kenegaraan hal itu bisa diperluas lagi kayak gini “mintalah kekayaan alamku pasti kuberi” (walaupun mendapatkan cipratannya saja ga pa-pa lah yang penting dapat, dari pada gak dapat atau dengan kata lain mendingangan ada walaupun sedikit dari pada tidak ada sama skali bisa melarat kita?loh faktanya sekarang masyarakat Indonesia banyak yang sedang mendekati gari finis “melarat” belum lagi yang sudah finis melarat dari jutaan tahun yang lalu…he..he.. saya tidak ngelantur loh dalam hal ini tapi saya Cuma mencoba menyajikan fakta yang ada di Negara tercinta ini dengan bahasa saya yang sangat amburadul (satu lagi nich budaya kita yang bangga akan keamburadulannya. Maafkan saya ya karena bangga akan keamburadulan saya. Semoga juga yang orang-orang yang merasa dirinya amburadul mencoba untuk menjauhkan dirinya dari keamburadulan baik itu warga kelas bawah, atas, menengah yang amburadul maupun para pejabat kita yang mungkin masih ada sebagaian kecil yang yang sangat senang akan keamamburadul (mudah-mudahan tidak ada yang amburadul dalam membuat kebijakan…amin). Pembaca yang budiman ini merupakan fakta yang ada di negara kita sebagai mahasiswa janganlah kita menjadi amburadul dalam setiap hal karena yakin dan percaya keamburadulan adalah bapaknya amburadul jadi amburadul tambah amburadul hasilnya tetap si mr. konstan “amburadul”.

Para pembaca yang budiman dalam member dan meminta haruslah disertai dengan alasan yang logis, memberikan kepada seseorang 70% ataupu lebih dari itu kan bisa disebut “insane” apalagi namanya kalau bukan “gila”. Marilah kita semua sadar akan hukum minta meminta dan memberi ini, kita sebagai bangsa yang kokoh yang berdiri tegak dari sabang sampai merauke yang dimana kita dibentengi oleh kekayaan alam kita sendiri belum mampu untuk mengelolah dengan baik apa yang kita miliki sehingga banyak pihak luar yang membabtis dirinya pandai dalam mengelolah sumberdaya alam datang meminta kepada kita dan kita memberinya dengan senang hati tanpa keraguan sedikitpun dan tanpa keuntungan yang “banyakpun”. ayo kita sama-sama dalam membangung Negara ini, walapun kita harus member kepada si peminta (baca: asing) berikanlah dengan senang hati tapi dengan pertimbangan yang logis yaitu harus seimbang pembagiannya. Kalaupu kita harus “pelit” (tidak mau memberikan sumberdaya alam kita untuk dikelolah oleh si “asker”) marilah kita sama –sama untuk terus belajar sehingga kita semua menjadi orang yang pandal mengelolah bangsa kita (baca:kekayaan alam kita) untuk kemakmuran kita bersama sehingga semua orang-orang yang dengan terpaksa lari mendekati garis melarat maupun yangt telah melarat bisa kita bawa keluar dari kemelaratan menuju kebahagiaan. Amin!!

Advertisements

Budaya Mentang-Mentang


Budaya Mentang-Mentang

By: Haeril Halim English Dept 05

Para pembaca yang budiman sebelum saya memulai topik tentang ini budaya mentang-mentang ini dengan sangat jujur akan saya katakan bahwa tulisan ini terinspirasi dari kapsul-kapsul Prie-GS yang saya dengarkan di radio Smart FM. Jadi kata-kata “budaya mentang-mentang ini” adalah asli milik si empunya mas prie gs. Kan tidak ada salahnya saya mencoba untuk membahasnya (tentunya dalam gaya bahasaku sendiri) juga kepada para pembaca yang belum sempat mendengarkan kapsul-kapsul beliau. Ijinkan aku ya?

Baiklah kita mulai saja.

Ada sesuatu yang unik dinegara kita ini, dimana banyak orang yang menganut budaya mentang-mentang dan anehya tanpa pernah sadar bahwa mereka menganut budaya mentang mentang ini. Banyak fenomena-fenomena disekitar kita yang bisa menjelaskan tentang hal ini baiklah kita lihat satu persatu apa-apa saja sih budaya mentang mentang ini disekeliling kita.

Mentang-mentang orang tua, seenaknya bentak-bentak anaknya, mentang-mentang anak seenaknya membangkang perintah orang tua.

Mentang-mentang tukang becak, seenaknya nrobos sana sisi tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Mentang-mentang penumpang kok seenaknya mau diantar oleh si tukang becak dengancara instan melalui jalur-jalur yang dilarang yang dapat mengaggu jalur lalu lintas.

Mentang-mentang tenaga pengajar bisanya cuma memanfaatkan kesempatan dan kesempitan terhadap anak muridnya yang cewek (kalo brani yang cowok dong, jangan cuma kepada wanita. Loh itukan namanya jeruk makan jeruk…he..he..)…mentang-mentang siswa takut untuk melaporkan shoft sexual harassment gurunya kepada pihak yang berwenang”. Mentang-mentang pihak yang berwenang eh malah takut akan kehilangan sosok figur guru pintar dan suka sangat suka melakukan soft harassment kepada mahasiswanya.

Mentang-mentang pejabat, eh malah memanfaatkan kursinya untuk memindahkan uang dari “saku” kantor ke saku pribadinya. Mentang-mentang rakyat kecil eh maunya menerima amplop untuk memilih pemimpin yang akan tidak memperhatikannya setelah terpilh nanti.

Itulah contoh beberapa kasus budaya mentang-mentang di negara kita yang meliputi bidang pemerinthan, pendidikan dan juga kehidupan masyarakat (ekonomi).

Marilah kita semua sadar akan budaya mentang-mentang ini. Sebenarnya saya juga memanfaatkan budaya mentang-mentang ini yaitu: mentang-mentang ada kesempatan nulis eh malah nyinggung orang (ets, yang pastinya orang yang tersinggung karena tulisan saya ini berarti dia masih sedang dimabuk cinta oleh budaya mentang-mentang ini. Memang budaya mentang-mentang ini menghasilkan sesuatu kepuasan bagi orang yang mentang-mentang tapi merugikan orang lain yang dimentang-mentangi, contohnya siswa cewek yang kerap terusik oleh budaya mentang-mentang gurunya yang suka dengan itu dech!!!

Ayo kita berantas budaya mentang-mentang di Negara kita khususnya dalam realitas pendidikan kita biar tidak ada lagi siswa baik itu cowok, cewek maupun lain dari keduanya itu yang mendapat perlakuan mentang-mentang dari gurunya.

CINTA, BENARKAH MEMILIKI ATAU TERMILIKI?


CINTA, BENARKAH MEMILIKI ATAU TERMILIKI?

By: Haeril Halim,English Dept 05 UH

Cinta, ya cinta!!! Ya that’s right, itulah cinta. Cinta kadang membuat orang tertawa, sedih, menangis, bahkan cinta bisa berujung kematian yang tak termaknai sebagai sebuah kematian oleh orang yang dimabuk cinta. Cinta itu tak bisa dibendung, air mata kadang mengalir dengan sendirinya tatkala mengingat cinta itu sendiri, bahkan saya yang sekarang ini lagi menulis tentang cinta tidak tahu kenapa tiba-tiba air mata ini serasa ingin keluar untuk menyambut sang cinta padahal sebenarnya tidak ada niat untuk mengingatnya apalagi mengenangnya karena cinta itu tidak untuk cukup untuk dikenang dengan meneteskan air mata. Beribu bahkan berjuta buku, novel, syair-syair yang terinspirasi karena cinta, bahkan cinta itu sendir tidak pernah bermaksud untuk membuat orang menangis, menulis puisi, atau mendekatkan seseorang denga kematian. Tidak percaya, tanyalah kepada cinta, saya yakin cinta tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita karena kita ini kasar sedangkan cinta itu sangat halus tanpa cacat sedikitpun, tapi toh kenapa cinta bisa menyebabkan seseorang sakit padahal dia itu suci dan bersih. Mungkin itulah pertanyaan klasik yang mungkin tak dapat dijawab oleh sang pecinta. Manusia telah berbuat banyak demi cinta, tapi pernahkah kita sadar apa yang telah cinta perbuat kepada kita? Saya pun tidak bisa semudah itu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Benarkah cinta itu memiliki ataukah termiliki? Mungkin kalau kita menanyakan kepada seseorang apakah cinta itu memiliki atau termiliki? Umumnya mereka akan menjawab ya pasti dong cinta itu memiliki. Simak baik-baik “cinta itu memiliki”, kalimat tersebut secara linguistik tidak ada salahnya karena sudah tersusun dengan baik strukturnya. Tapi coba lihat dari segi semantik maknanya, sepertinya ada yang ganjal. Cinta itu suci sedangkan manusia itu sangat sulit untuk tetap suci bahkan menusia sering yang menodai cinta tapi cinta yang murni tak akan pernah ternodai karena cinta itu hakikatnya suci bersih sedangkan manusia kadang suci dan kadang juga sangat tidak suci. Jadi kalau disimpulkan manusia tidak sejenis dengan cinta, sangat jauh berbeda. Tapi toh kenapa manusia selalu mengatakan bahwa cinta itu memiliki? Menurut hemat saya cinta itu tidak memiliki apa-apa (selain kesuciannya sendiri), tapi menusialah yang selalu sok untuk memiliki cinta bahkan mungkin jika diberi pilihan kepada cinta mungkin cinta tidak akan pernah mau untuk memiliki manusia karena manusia itu egois. Jadi berdasarkan penjelasan diatas, apakah cinta itu memiliki atau termiliki. Silahkan putuskan sendiri. Thanks.