PRAGMATISME JALANAN


Pada note ini saya akan sedikit menyinggung soal fenomena pragmatisme berbahasa anak jalanan di Makassar. Moga bisa menambah “kepekaan” berbahasa kita dengan mereka yang hidup di jalanan..

Dalam peristiwa berbahasa non-formal dalam kehidupan sehari-hari, grammatika berbahasa bukan faktor yang fundamental yang menentukan suksesnya sebuah aksi tutur-bertutur antara addresser and addressee (pembicara dan pendengar). Adalah pragmatisme berbahasa yang menjadi yang menjadi popular bagi sebagian kalangan dalam proses berkomunikasi antar sesama. Simplisitas dan kedekatan sosial merupakan factor penting dalam konteks non-formal ini.

Pragmatisme ini bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam keceriaan berbahasa para anak-anak jalanan. Suatu waktu saat sedang mengamati sekelompok anak jalanan yang sedang berkumpul di jalan tiba-tiba terdengar ucapan seorang anak “wee” (dengan nada tinggi) kepada seorang temannya yang sedang bercanda sambil membawa lari makanan si penutur tersebut. Ujaran “wee” adalah bentuk imperative dalam kosakata sehari-hari sebagian orang di Makassar. Itu bisa diartikan “kembalikan” (dalam hal ini si penutur meminta mengembalikan makanan miliknya yang dibawa oleh temannya tersebut). Expresi singkat ini dengan mudah dipahami oleh si pendengar dan berujung pada perlokusi dikembalikannya makanana milik si pembicara tersebut. Ini sesuai dengan konsep pragmatik Austin yaitu performative act. Tindak tutur yang dilakukan oleh si speaker adalah aksi performative dengan menggunakan kosakata yang secara alamiah memuat muatan perfomative.

Secara semantik bisa kita lihat mengapa si penutur lebih memilih ujaran yang singkat “wee” ketimbang berkata “kembalikan nasi itu”. Ini kita sebut sebagai aksis paradigmatik yang dimana sebuah kata tertentu lebih disukai tuk diucapkan ketimbang beberapa kata lainnya yang memiliki makna yang sama dan juga pasti memiliki konteks yang berbeda. Pemilihan “wee” lebih simple ketimbang “kembalikan nasi itu” dan secara sosiolinguistik hal ini memang lumrah di mana anak-anak yang mendapatkan kualitas pendidikan yang rendah memiliki perbendaharaan kata yang kurang atau pilihan terhadap aksis paradigmatiknya sangat terbatas. Juga faktor lain yang mempengaruhi yaitu factor psikologis atau suasana keakraban antara seorang pembicara dan pendengar juga mempengaruhi simplisitas seseorang dalam berbahasa. Kata “wee” secara semiotic dalam lingkungan berbahasa sehari-hari masyarakat Makassar mengindeks (menunjuk, sesuai salah satu fungsi tanda yaitu indeksikalitas) kan kepada kelompok tutur non-formal dan secara strata mereka kurang edukatif.

Sangat menarik melihat aktifitas tutur para anak jalanan dan sangat banyak aspek-aspek berbahasa dari mereka yang perlu dilakukan kajian agar mereka tidak menjadi komunitas terbelakang secara bahasa karena terkucilkan dari kebakuan bahasa Indonesia yg baik dan benar (EYD). Sekian Wsslm..

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s