Summari Tafsir Al Misbah Surah Al An’Aam ayat 12-18 Episode 3 Ramadhan


Guys, I am here again to share beberapa kesimpulan program tafsir Al Misbah episode 3, langsung aja ya kita ke poin penting dalam pembahasan kali ini:

1. Surah ini membicarakan tentang ke Esaan Allah, kepastian siksanya bagi mereka yang tidak mendengar dan kepastian hari pembalasan. Bahwa keyakinan atau keimanan yang kokoh terhadap ke tiga aspek diatas akan berujung pada ganjaran pahala di sisinya.

2. Untuk beriman manusia diberik panca indra untuk digunakan mengenali lingkungan sekitaranya serta mengambil segala pelajaran yang ada. Kita harus betul-betul memanfaatkan potensi panca indra tersebut dengan dukungan potensi akal dan kalbu.

3. Pengetahuan itu terbagi atas dua pengetahuan tentang sesuatu yang bergerak dan pengetahuan tentang sesuatu yang diam. Boleh jadi kita hanya memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang bergerak tapi sangat minim pengetahuan tentang sesuatu yang diam (metafisik). Pergantian siang dan malam atau gravitasi bumi adalah contoh pengetahuan yang pertama yang telah menjadi kajian populer dalam sains dewasa ini tapi pengetahuan metafisik masih sangat minim. Hal ini mendakan terbatasnya potensi akal manusia. Kita dituntut untuk beriman kepada yang menguasai kedua kemampuan tersebut, jikalau manusia tidak mempu menguasai kedua kemampuan tersebut secara sempurna maka kepada siapa kita hendak berTuhan. Konsep islam sangat gambalang mengajarkan hal tersebut dengan ajaran ketauhidannya.

4. Surah ini jika kita kaitkan dengan perihal berpuasa, maka kita akan mendapati bahwa esensi puasa itu mencoba mengenali nilai-nilai keTuhanan yang dimana salah satu sifat Tuhan yaitu memberi makan dan tidak makan. Dalam berpuasa kita dilatih dalam kualitas ini. Itulah salah satu folosofi puasa.

5. Mengenai hari akhir, sangat jelas bahwa keberadaan manusia dihari akhir sangat ditentukan oleh seberapa baik dan buruk manusia menyikapi segala cobaan yang diterimanya di dunia ini. Menyikapi cobaan hidup dengan baik akan berujung pada tempat yang baik di akhirat kelak (surga) dan penyikapan yang buruk terhadap cobaan di dunia akan membawa kita pada tempat yang buruk pula (neraka). Tapi hal yang unik ada betapa baik dan buruk pun sebuah ujian bisa membawa kita kepada surga ataupun neraka. Jadi dikotomi antara penyikapan kita terhadap cobaan dan baik buruknya cobaan dalam versi kita tidak berujuang pada hal yang sama sebagaiman negatif akan menghasilkan negatif serta positif akan menghasilkan hal positif. Pengetahuan tentang ini sangat penting karena boleh jadi apa yang kita pikirkan baik untuk kita ternyata tidak baik atau dengan kata lain kita harus membedakan antara apa yang kita mau dan apa yang kita butuhkan.

6. Cara menyikapi perbuatan buruk seseorang terhadap kita berdasarkan tingkat kualitas dari yang terlarang, baik dan lebih baik:
a. BAIK. Membalasnya sesuai dengan kadar perbuatan orang lain tersebut. Contohnya jika kita dipukul seseorang maka tidak ada larangan untuk memukul balik sesuai dengan kadar rasa sakit yang kita terima walaupun hal ini tidak dianjurkan oleh islam tapi dalam kapasitas boleh atau tidak hal tersebut diperbolehkan.
b. LEBIH BAIK. ada dua cara yang pertama memohon kepada Allah SWT atas perbuatan seseorang tersebut karena telah menyakiti kita dan yang kedua lebih ke arah rekleksi bahwa mungkin jika kita berada di posis orang tersebut maka kita akan melakukan hal yang sama dan segera mendoakan agar orang yang menyakiti kita tesebut diampuni oleh Allah SWT.
c. YANG TERLARANG. Hal yang terlarang adalah apabila kita memberi porsi balasan yang lebih dari pada apa yang kita terima. Contohnya jika kita disalahpahami oleh orang tentang suatu perbuatan yang kita lakukan maka janganlah membalasnya dengan melakukan fitnah terhadap orang tersebut karena boleh jadi orang tersebut melakukannya karena belum mengetahui kita secara baik. Atau denga logika simpel jika seseorang memukul tanganmu maka janganlah engkau membalas dengan memukul kepalanya.

6. Syirik merupakan dosa yang tak terampuni tapi di sisi lain maha pengampunan Allah sangatlah besar. Lalu adakah ampunan bagi mereka yang pernah melakukan syirik dan kemudian bertaubat? Sesungguhnya ampunan Allah adalah milik semua mahluknya yang benar-benar bertaubat. Dosa syirik yang dibawa mati oleh seseoranglah yang tidak dimaafkan oleh Allah, tapi jilakau seseorang pernah melakukan syirik dan kemudian bertaubat maka niscaya ampunan Allah sangatlah luas. Fir’aun tidak diterima taubatnya pada saat menjelang nyawanya dicabut oleh Allah karena sudah termasuk kategor mati dalam keadaan syirik karena baru akan bertaubat diambang ajalnya.

Sekian tuk summari kali ini. Sampai jumpa besok..OK..

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s