GUSDUR DAN DEVIASI INTELEKTUALNYA


“Sosok Gusdur atau Abdurrahman Wahid adalah sosok yang kontroversial”, begitu orang-orang menyebut Gusdur pada umumnya. Sebenarnya yang membuat Gusdur kontroversi itu bukan karena gayanya yang terkesan ngawur dalam merespon sebuah fenomena tapi lebih pada aksi-aksi intelektualnya yang deviatif. Hal ini tidak salah dikarenakan backround gusdur yang kental dengan pesantren (Budaya Timur) dan piawai memahami pola-pola pemikiran dari barat.

Apa yang dilakukan Gusdur menurut hemat saya adalah sebuah langkah deviasi intelektual. Deviasi dalam ilmu bahasa khususnya dalam study kesusastraan itu adalah segala sesuatu yang diluar dari sistem yang ada, dalam hal ini Grammar/sistim/struktur. Deviasi sering diartikan melanggar grammar padahal sebenarnya deviasi itu sebuah alternatif diluar sistem yang membentuk makna tersendiri tanpa harus “mengejek” struktur atau melanggar hukum. Faktanya dalam banyak puisi ada begitu banyak expresi yang tidak sesuai grammar tapi membentuk sebuah makna yang indah. Begitupun juga dalam komunikasi sehari-hari kita umumnya menggunakan ekpresi “ungrammatical” tapi toh masih bisa dimengerti oleh lawan bicara. Ya begitulah kita bisa mengkiaskan hukum. Ini disebabkan hukum tak mampu 100% mewakili realitas makanya. Dalam sebuah wawancara di TV one bapak ketua Mahkamah Agung Mahfud MD berpendapat hukum memang sebuah hukum kita harus menghargai para pendahulu yang sudah merumuskan hukum tapi dalam penegakkan hukum dibutuhkan tidak saja rasio yang sejalan dengan hukum yang ada tapi juga hati yang jernih tuk memahami realitas yang sesungguhnya.

Hukum tidak membentuk intelektual namun menjaga keseimbangan intelektual. Banyak perkembangan intelektual yang tidak berasal dari hukum normatif yang ada, dalam konteks ini hukum yang dibuat oleh manusia. Contohnya hukum konvensional yang secara kultural jalankan dan terima bahwa jangan tidur telat biar besok pagi bisa berfikir jernih di sekolah, kantor ataupun di kampus. Tapi pada kenyataannya banyak karya-karya besar anak bangsa yang lahir dari tidak tidur cepat setiap malamnya. Fenomena tidak tidur cepat jika penting untuk dilakukan tidak melanggar konvensi cultural yang mengajarkan kita untuk tidur cepat setiap malam hari. Seperti kata papanya Rido Roma, bang haji roma irama dalam lagunya “begadang jangan begadang kalau tiada artinya begadang sih boleh saja asal ada perlunya” . Inilah salah satu bentuk deviasi. Deviasi yang menghasilkan sesuatu yang baru dan tidak merugikan pihak lain tidak ada salahnya. Konteks deviasi yang saya maksudkan disini yaitu terhadap hukum-hukum yang sudah dirumuskan oleh manusia tuk kemaslahatan bersama.

Begitulah sosok Gusdur dalam memutuskan sesuatu tidak ngawur tapi melalui pemikiran mendalam dengan dasar ilmu timur dan barat yang dimilikinya lalu diaplikasikan dalam masyarakat Indonesia yang sebagian besar hanya melek budaya timur. Saya tidak dalam posisi mendukung budaya barat karena banyak juga nilai barat yang saya tidak setujui yang bertentangan dengan budaya Indonesia. Ketika memberi pandangan tentang kasus penyanyi dangdut yang mempionirkan goyangan ngebor, sesungguhnya Gusdur sedang mensintesakan simbol-simbol budaya timur dan budaya barat, tudingan porno aksi terhadap Inul vs kepemilikan hak asasi oleh Inul. banyak yang berpendapat Gusdur pro Inul tapi sebenarnya dia tidak pro Inul dia hanya menghaturkan pendapatnya mengenai kasus Inul. Mungkin hal inipun disalah artikan Inul dengan berkesimpulan bahwa dirinya didukung oleh Gusdur sebagai tokoh nasional yang disegani. Inilah salah satu ciri budaya timur juga yaitu membanggakan “restu” dari seseorang yang secara strata terpandang di dalam masyarakatnya.

Gusdur tidak melanggar nilai-nilai budaya timur dengan berpandangan tidak melarang inul tuk bergoyang tapi dia mencoba mengintroduksi sebuah pemahaman tentang HAM di masyarakat Indonesia yang masih samar-samar. Skali lagi penegakkan hukum juga perlu hati nurani, tidak hanya rasionalitas belaka. Keseimbangan antara hati dan fikiran akan menghasilkan sebuah pandangan yang bijaksana tuk kehidupan masyarakat yang sangat kompleks.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s