Summari Tafsir Al Misbah Episode 20 Ramadhan


gak terasa kita sudah kita di episode 19 ramadhan, semoga puasa kita diterima di sini Allah SWT..amin..ok untuk episode kali ada beberapa hal penting yang bisa kita share dari pembahasan program tafsri Al Misbah:

1. Konsistensi itu milik siapa saja, tak terkecuali orang kafir yang selalu konsisten untuk berpaling dari ajaran Allah SWT. Allah mengibaratkan dalam Al Qur’an bahwa walaupun dikumpul semua tanda-tanda kebesaran Allah dan sekalipun dikumpul semua orang-orang yang telah mati untuk bersaksi atas ke besaran Allah maka mereka akan tetap konsisten untuk tidak percaya bahkan cenderung menjauh. Itu dikarenakan karena mata hati mereka yang telah “buta”.

2. Sebagaimana Pieer Bourdeu seorang filsuf prancis mengatakan bahwa bahasa adalah di dunia ini adalah panggung kontestasi antara yang kuat dan yang lemah, begitupun juga dalam Al Qur’an digambarkan bahwa hidup ini adalah kontestasi antara kebaikan dan keburukan. Bedanya dalam teori Bourdeau yang kuat yang akan memenangkan kontestasi sedangkan Al Qur’an tidak melihat kekuatan sebagai penentu kemenangan melainkan hakikat kemenangan itu sendiri adalah kebenaran, baik tanpa kuasa atau kekuatan yang sesungguhnya adalah fana.

3. Dalam menggoda manusia untuk melakukan kejahatan setan selalu menggunakan kata-kata manis untuk membumbui pikiran manusia agar terlena dengan ajakannya yang sesat. Inilah yang membuat saat ini banyak diantara manusia yang bangga akan sesuatu perbuatan buruk yang dilakukannya.

4. Dalam Islam dikenal suara terbanyak sebagaimana dalam demokrasi. Cuma yang membedakannya adalah Islam tidak mengenal suara terbanyak yang dilakukan oleh pemimpin yang tidak capable untuk mengambil keputusan. Jadi untuk menerima keputusan dengan suara terbanyak harus memperhatikan aspek siapa yang mengambil keputusan itu kalau mereka capable dibidang tersebut maka itu akan menjadi labih baik. Pengibaratannya, dalam sebuah rumah tangga yang beranggotakan 7 orang, ayah dan ibu dan 5 anaknya. suatu hari mereka memutuskan untuk pergi berkemah pada musim hujan, maka keputusan terbanyak yang diambil pada waktu itu adalah 5 suara dari anak-anak mereka yang setuju untuk pergi berkemah sedangkan kedua orang tua mereka tidak setuju. Suara terbanyak di sini tidak patut untuk kita ambil dikarenakan ke 5 anak tersebut mengambil keputusan untuk pergi camping pada musim hujan dikarenakan ketidaktahuan mereka akan kondisi pegunungan pada saat musim hujan yang tentunya sangat berbahaya untuk keselamatan mereka. Sebaliknya keputusan kedua orang tua tersebut adalah tepat dan wajib untuk diikuti karena mereka mengambil keputusan berdasarkan pengalaman mereka tentang kondisi pegunungan pada saat musim hujan. Jadi poin penting di sini adalah tidak selamanya keputusan dengan suara terbanyak itu baik tergantung siapa yang mengambil keputusan tersebut apakah mereka capable or not.

Sekian tuk summari kali ini..see you tomorow..wassalam..

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s