INGIN MENJADI MESSI, ROSSI DAN OBAMA


Ada begitu banyak abstraksi angan dan cita-cita yg ada di kepala kita. Kadang angan tak bisa kita defenisikn secara tepat akibat benturan ketidaktahuan mengenai defenisi cita-cita. Secara awamia, angan dan cita itu beda-beda tipis tapi dalam ranah defenisial mereka adalah dua hal berbeda secara praktikal. Ketika melihat kepiawaian “adonan” bola Lionel Messi di lapangan maka seketika itu juga saya ingin menjadi messi. Melihat keakraban Valentine Rossi dengan arena balapan moto gp menginstruksikan adrenalinku tuk segera membayangkan tuk menggantikan Rossi pada saat itu juga, masalah Rossi marah atau tidak itu urusan belakangan. Ada juga obama yg sangat piawai beretorika dengan permainan symbol-simbol “hope” nya juga menambah inginku menjadi seperti Barrack Husein Obama. Ah makin banyak kumelihat makin banyak kuingin seperti apa yg kulihat. Yg menjadi persoalan ketika seorang teman mengetahui keinginanku tuk menjadi Messi, Rossi dan Obama dengan serta merta mereka pasti mengatakan “ah kamu ini ngawur”. Sejenak kupikirkan “iya juga ya mungkin saya ngawur”. Tapi kemudian saya terpikir kalo Rossi bisa kenapa saya tidak? Toh Rossi juga manusia biasa sama seperti saya, darahnya merah, hirupnya udara jg dan banyak kesamaan lainnya sebagai manusia biasa. Hal tersebut membangkitkan lagi spiritku tuk menjadi Messi, Rossi dan Obama.

Ah gara-gara Messi, Rossi dan Obama di dalam diriku terjadi konflik bahwa saya berada di penghujung antara mempercayai diriku bisa atau tidak menjadi Messi, Rossi dan Obama. Segera ingin kuminta pertanggungjawaban kepada ketiga orang tersebut tatkala bertemu dengan mereka. Apa yg salah ditengah keyakinanku tuk bisa menjadi Messi, Rossi dan Obama itu timbul jg prasangka bahwa iya juga mugkin saya lagi ngawur. Ah sungguh tidak enak berada dalam konteks seperti ini.

Telah lama konflik itu berlangsung dan tak ada perubahan apapun yg terjadi bahkan tak sedikitpun ciri Messi, Rossi dan Obama kumiliki tapi kenapa keyakinan itu masih tetap meyakinkan saya???? Waktu demi waktu saya sadar bahwa memang tidak ada salahnya ingin menjadi Messi, Rossi dan Obama dan omongan “ngawur” yg mungkin pasti terucap bagi orang lain jika mengetahui aku ingin jadi Messi, Rossi dan Obama tersebut adalah kurang tepat atau bisa kukatakan tidak sepatutnya terucap kepada siapapun juga khususnya kepada para “pengejar mimpi” karena dalam konteks ingin jadi Messi, Rossi dan Obama tidak cukup hanya berangan-angan dan membayangkan indahnya menjadi seperti mereka tapi kita harus juga menghargai proses menjadi Messi, Rossi dan Obama. Ketidaktahuanku atau ketidakinginanku tuk menghargai atau menjalani proses menjadi Messi, Rossi dan Obama adalah aspek yg sangat penting yg tidak saya laksanakan dan tentunya hal ini menempatkan inginku jadi Messi, Rossi dan Obama tersebut hanya berada dalam ranah angan-angan bukan cita-cita. Apabila kedua aspek tersebut yaitu “aspek ingin menjadi” dan “aspek berusaha menjadi” disatukan barulah akan menghasilkan apa yg kita sebut cita-cita. Jadi jangan pernah mengatakan saya bercita-cita menjadi sesuatu jika tidak ingin menghargai proses menjadi sesuatu tersebut….Sekian wassalam…

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Advertisements

KASIH SAYANG IBU LEBIH DARI SEBUAH LOGIKA


Logika adalah pembenaran terhadap suatu hal yang membuat hal tersebut bisa berterima atau dimengerti. Hikayat ada seorang ibu yang mempunyai 2 orang anak, yang satu berjualan es lilin dan yang satunya lagi menyediakan jasa penyewaan payung di sebuah mall.

Tatkala musim hujan tiba, si ibu dengan penuh perhatian memikirkan nasib anaknya yang berjualan es. “aduh kasian skali anak ku si andi, pasti es nya tdk bakal laku”, keluh sang ibu dgn sedih memikirkan anaknya tersebut. Memang secara logika mana ada orang yang mau mimun es pada saat musim hujan, apa lagi es lilin. Pada sisi lain sang ibu juga resah dan gelisa memikirkan anaknya yang menyewakan payung pada saat musim penghujan berakhir. Logika lagi, siapa juga yang akan menyewa payung pada saat musim kemarau. Melihat kegelisahan sang ibu yang tak henti-hentinya baik di musim penghujan maupun musim kemarau, sang ayah mengingatkan istrinya bahwa ia tidak usah sedih. Kalau musim hujan ingat si Adi saja yang pasti sewa payugnya bakalan ramai dan begitupun sebaliknya ingat si Andi ketika musim kemarau datang soalnya pasti bakalan banyak orang yang akan membeli es. Sejenak logika simple ini berterima oleh sang ibu. Tapi berselang berapa saat terlihat sang ibu sedih lagi mengingat anaknya yang sedang jualan es karena waktu itu memang sedang musim hujan dan begitupu sebaliknya pada saat musim kemarau.

Ya memang akal pikiran kita sering mengandalkan logika yang bisa menenangkan kita, tapi hal itu bakalan berbeda bagi sang ibu yang kasih sayangnya tidak pernah dibatasai oleh logika. Sedih memikirkan sang anak adalah salah satu cara pengekspresian kasih sayang ibu kepada anaknya khususnya kita yang dibesarkan dengan budaya timur. Kita bisa berterima dengan logika seperti diatas tapi yakin dan percaya bahwa kasih sayang seorang ibu melebihi semua itu.

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Gambaran betapa kasih sayang seorang ibu itu tak terukur dengan logika..

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

StuNed – Master Programmea


StuNed – Master Programme

Sep 17, 2010

Persyaratan Umum

1.Warga negara Indonesia;

dibuktikan dengan: fotokopi KTP atau Kartu Dinas Pegawai Negeri, fotokopi paspor (berlaku sampai satu tahun setelah program studi dimulai). Diserahkan pada saat penyerahan aplikasi. Khusus untuk fotokopi paspor diserahkan setelah kepastian memperoleh beasiswa

2.Pendidikan minimal S1 dari universitas di Indonesia dan dapat menunjukkan bukti prestasi akademik (IPK min. 2,75);

dibuktikan dengan: transkrip dan ijazah yang dilegalisir dengan tanggal dan tahun kelulusan tercantum jelas di dalamnya.

3.Pengalaman kerja (setelah lulus S1) minimal 2 tahun di institusi terakhir;

dibuktikan dengan: pernyataan resmi dari pimpinan organisasi di atas materai yang menyatakan bahwa stafnya diizinkan untuk studi di luar negeri dan menjamin posisinya sampai yang bersangkutan kembali ke Indonesia; surat ini boleh diserahkan setelah pengumuman hasil seleksi, sebelum keberangkatan ke Belanda; khusus untuk pegawai pemerintah dan staf pengajar diminta untuk melampirkan fotokopi Surat Keputusan pengangkatan pegawai (SK); untuk staf LSM diminta menyertakan Laporan Tahunan LSM yang paling akhir.

4.Mempunyai latar belakang pendidikan atau bidang kerja yang sesuai dengan pilihan studi program master;

dijelaskan oleh: pelamar dalam motivation statement.

5.Bersedia mengikuti dan menyelesaikan seluruh perkuliahan selama menerima beasiswa.

6.Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik (TOEFL computer based skor min. 213, atau ITP 550, IELTS 6); hanya International TOEFL atau TOEFL ITP yang diakui yang dapat kami terima. Nilai TOEFL berlaku hanya sampai 1 tahun. Untuk program dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar harus dapat menunjukkan bukti atas kemampuan bahasa Belanda;

dibuktikan dengan: hasil skor yang asli, tidak boleh fotokopi.

7.Kondisi kesehatan yang baik;

dibuktikan dengan: hasil tes kesehatan setelah kepastian memperoleh beasiswa.

8.Diterima di salah satu program master yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi di Belanda untuk tahun ajaran 2010/2011

dibuktikan dengan: surat penerimaan dari universitas di Belanda yang mencantumkan dengan jelas tanggal awal dan akhir program studi yang dipilih, total biaya perkuliahan dan nama program studi.

9.Tidak ada batas umur; prioritas diberikan untuk para mid-career professional.

10.Aplikasi StuNed – program master klik disini [akan kami lampirkan segera]

Pilihan program studi

Semua program studi master sesuai petunjuk di atas atau yang terdapat di situs http://www.studyinholland.nl dengan masa studi maksimum dua tahun.

Batas akhir pendaftaran: 30 April 2011

Sumber Asli Kutipan : http://www.nesoindonesia.com/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/beasiswa/stuned/stuned-master-programme

Beasiswa Pemerintah Swiss 2011 2012


Beasiswa Pemerintah Swiss 2011 2012 program s1 s2 s3
EMBASSY OF SWITZERLAND IN INDONESIA
PROGRAM BEASISWA PEMERINTAH SWISS (Swiss Government Scholarship Program 2011-2012)
Tahun Akademik 2011/12

Pemerintah Swiss melalui Federal Commission for Scholarships for Foreign Students (FCS) menawarkan beasiswa dalam jumlah terbatas untuk negara berkembang termasuk Indonesia.

Beasiswa tersebut ditawarkan untuk mahasiswa PASCA SARJANA (POSTGRADUATE) yang ingin melakukan riset atau meraih gelar master di salah satu perguruan tinggi di Swiss.

Penerima beasiswa dapat melakukan riset atau kuliah di perguruan tinggi di Swiss yang tercantum pada halaman 3 dan 4. Program studi atau pendidikan berikut TIDAK termasuk
dalam tawaran beasiswa ini:
1. Ilmu Kesenian
2. Pendidikan Strata 1
3. Pendidikan Sekolah Perhotelan
4. Pertukaran mahasiswa
5. Part-time studies
6. On-the-job studies
7. Studi jarak jauh (correspondence course)

Beasiswa berlangsung selama 9 (sembilan) bulan (1 tahun akademik). Dalam kondisi tertentu beasiswa dapat diperpanjang maksimal hingga tahun ajaran ke-2 sesuai dengan pertimbangan FCS dan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Persyaratan

1. Warga Negara Indonesia (diprioritaskan WNI yang sedang tinggal dan berkarir di Indonesia)
2. Ijazah perguruan tinggi (minimal Sarjana Strata-1 atau sederajat)
3. Batas umur pada waktu melamar harus di bawah 35 tahun (lahir setelah tanggal 31 Desember 1975)
4. Menguasai bahasa yang digunakan dalam program studi yang dipilih (Bahasa Jerman/Bahasa Prancis/Bahasa Itali dan/atau Bahasa Inggris)
5. Surat konfirmasi dari professor/universitas di Swiss yang menyatakan bahwa pihak universitas menyetujui rencana riset atau menerima pelamar beasiswa sebagai mahasiswa program master serta memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai. Jika surat penerimaan dari universitas belum dapat dikeluarkan, minimal pelamar harus
melampirkan korespondensi dengan pihak universitas yang menyatakan pelamar telah mendaftar untuk program master.
6. Memiliki rencana riset dan motivasi yang menjelaskan secara rinci dan jelas tujuan dari riset/studi beserta kemungkinan integrasi profesional jika kembali ke Indonesia.

Untuk memperoleh konfirmasi yang dimaksud, pelamar harus aktif berhubungan langsung dengan universitas di Swiss. Informasi kontak dan alamat dapat dilihat di situs resmi universitas.

Prosedur permohonan

Formulir pendaftaran beasiswa dapat diperoleh hingga tanggal 15 Oktober 2010 dan hanya disediakan untuk pelamar yang sesuai dengan persyaratan tersebut di atas.
Untuk memperoleh formulir, pelamar harus mengirim surat permohonan singkat yang berisi keterangan dan dokumen sebagai berikut :
1. Nama lengkap
2. Tanggal lahir
3. Ketrampilan bahasa asing. Sebutkan bahasa resmi di Swiss yang dikuasai dengan baik (Jerman, Prancis atau Itali, tergantung lokasi dari universitas yang dituju)
4. Program studi dan perguruan tinggi yang dituju
5. Fotokopi surat penerimaan dari profesor atau konfirmasi/korespondensi dengan perguruan tinggi yang dipilih.
6. a. Untuk peminat beasiswa riset: proposal riset (± 5 halaman) termasuk informasi pengalaman riset yang relevan dengan bidang riset yang akan didalami
b. Untuk peminat beasiswa master: karangan singkat berisi motivasi untuk kuliah di Swiss dan prioritas bidang studi yang dipilih untuk karir di masa depan dan pengembangan profesional lainnya setelah beasiswa usai(± 2 halaman).
7. Curriculum vitae
8. Alamat e-mail

Surat permintaan formulir pendaftaran beasiswa dikirim melalui e-mail ke: jak.vertretung@eda.admin.ch .

Formulir akan dikirim melalui e-mail.
Pelamar harus sudah mengembalikan formulir pendaftaran dilampiri lengkap dengan dokumen-dokumen pendukung paling lambat pada tanggl 31 Oktober 2010, ke Kedutaan Besar Swiss (Bagian Kebudayaan) di Jl. H.R. Rasuna Said Kav. X3/2, Jakarta 12950.

Dokumen lamaran beasiswa boleh disampaikan melalui pos atau kurir.
Formulir dan dokumen tersebut diserahkan dalam rangkap 3 (tiga). Setiap set dokumen harus tersusun dalam urutan sebagai berikut:
1. Formulir pendaftaran yang sudah diisi lengkap (harus diketik dan dicetak)
2. Fotokopi ijazah S1
3. Terjemahan ijazah S1
4. Transkrip nilai
5. Terjemahan transkrip nilai
6. Surat rekomendasi dari 2 dosen/profesor
7. Proposal riset atau motivasi studi
8. Curriculum Vitae
9. Konfirmasi riset dari professor yang bertanggungjawab/surat penerimaan dari perguruan tinggi yang dituju atau bukti korespondensi dengan universitas yang dituju yang menyebutkan bahwa Anda telah resmi mendaftar di program master
10. Surat pemeriksaan medis (formulir tersedia bersama formulir pendaftaran)
11. Dokumen lain (sertifikat kursus bahasa, dll.)
Sertifikat yang difotokopi harus dilegalisir sesuai aslinya. Dokumen-dokumen (sertifikat, surat rekomendasi, dll.) yang tidak dikeluarkan dalam Bahasa Inggris, Jerman, Perancis atau Itali harus diterjemahkan ke dalam salah satu bahasa tersebut dan dilegalisir serta dilampirkan
pada dokumen yang bersangkutan.

Harap diingat bahwa hanya aplikasi yang lengkap dan disusun rapi yang akan dipertimbangkan. Hanya beberapa pelamar yang terseleksi yang diundang untuk wawancara dan test bahasa. Wawancara dan test bahasa ini hanya dilaksanakan di Kedutaan Besar Swiss di Jakarta. Federal Commission for Scholarships for Foreign Students (FCS) akan mengumumkan penerima beasiswa pada bulan Mei 2011.

Jumlah beasiswa

CHF 1.920,-/bulan (untuk biaya hidup)
Catatan: Harap diingat, bahwa tidak semua program pasca-sarjana dan perguruan tinggi membebaskan penerima beasiswa dari biaya perkuliahan. Beasiswa hanya mencakup biaya hidup di Swiss. Untuk itu setiap pelamar sangat perlu mengklarifikasi kepastian pembebasan uang kuliah untuk program studi yang dipilih dengan perguruan tinggi yang bersangkutan.

Biaya perjalanan dan asuransi

Penerima beasiswa dari Indonesia harus menanggung biaya perjalanan ke Swiss sendiri. Perjalanan pulang ke Indonesia akan ditanggung FCS (tidak termasuk anggota keluarga). Biaya perjalanan pulang tidak akan ditawarkan apabila penerima beasiswa tinggal di Swiss lebih dari 6 bulan setelah menyelesaikan studinya di Swiss, atau apabila bekerja atau pindah ke negara ketiga. Asuransi kesehatan (kecuali untuk gigi) dan asuransi kecelakaan akan disediakan.

Kewajiban penerima beasiswa

Penerima beasiswa harus bertempat tinggal di tempat studinya di Swiss dan harus mengikuti semua aturan hukum yang berlaku bagi orang asing yang bertempat tinggal di Swiss serta aturan yang berlaku di perguruan tinggi. Anggota keluarga tidak dapat dibawa oleh penerima
beasiswa pada tahun pertama namun diperbolehkan untuk mengunjungi Swiss sebagai turis dengan biaya sendiri.

Penerima beasiswa harus memberikan pernyataan tertulis untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi / risetnya di Swiss.
Beasiswa FCS tidak dapat diambil secara bersamaan dengan beasiswa lain. Apabila penerima beasiswa menerima beasiswa lain atau bantuan keuangan (mis.: gaji), beasiswa akan dibatalkan.

Alamat situs perguruan tinggi di Swiss

1. Universität Basel
http://www.unibas.ch
2. Universität Bern
http://www.unibe.ch
3. Université de Fribourg
http://www.unifr.ch
4. Université de Genève
http://www.unige.ch
5. Ecole polytechnique fédérale de Lausanne
http://www.epfl.ch
6. Université de Lausanne
http://www.unil.ch
7. Universität Luzern
http://www.unilu.ch
8. Université de Neuchâtel
http://www.unine.ch
9. Universität St. Gallen
http://www.unisg.ch
10. Eidgenössische Technische Hochschule Zürich
http://www.ethz.ch
11. Universität Zürich
http://www.unizh.ch
12. Università della Svizzera italiana
http://www.unisi.ch

Situs-situs yang berguna:

http://www.swissuni.ch
http://www.swissuniversity.ch
http://www.crus.ch/information-programme/study-in-switzerland.html?L=2
http://www.sbf.admin.ch/htm/themen/bildung/stipendien/eskas_en.html

Informasi dan pertanyaan:

Kedutaan Besar Swiss
Kontak: Ibu Melinda Djohansjah
Tel.: +62 21 525 6061 Pesawat: 319
*****

Sumber Asli Kutipan: http://www.beasiswaz.com/beasiswa-pemerintah-swiss-2011-2012/

Asian Graduate Student Fellowships 2011


Asian Graduate Student Fellowships 2011

The Asia Research Institute of NUS invites applications from citizens of Asian countries enrolled for a fulltime advanced degree at a university in an Asian country (except Singapore) for consideration for the award of Asian Graduate Student Fellowships. These fellowships are offered to current graduate students doing their Master’s or PhD degrees and working in the Humanities and Social Sciences on Southeast Asian topics, and will allow the recipients to be based at NUS for an ‘in residence fellowship’ for a period of three months. The aim of the fellowship is to enable scholars to make full use of the wide range of resources held in the libraries of NUS and the Institute of Southeast Asian Studies. Scholars will be expected to commence on 3 May 2011, and to make a presentation on their work at the Singapore Graduate Forum on Southeast Asian Studies at the end of July 2011.

Successful candidates can expect the following benefits:
1) A monthly allowance of SGD1,000.
2) A monthly housing allowance of SGD250.
3) A settling-in allowance of SGD150.
4) A sum of $100 on a reimbursement basis for miscellaneous expenses
5) A one-time round trip travel subsidy by the most economical and direct route on a reimbursement basis upon being accepted for the fellowship.
6) Access to library and computer resources on campus.

Applicants are invited to e-mail/facsimile/mail their application forms (CLICK HERE), a 2-page outline of their research proposal in English (this may be accompanied by a longer statement in a Southeast Asian language) to the address below by 15 November 2010. Arrangements should also be made by which at least two letters of reference, one of which is from your principal supervisor, are sent confidentially to the same address by the same deadline.
The 2-page research proposal must include the following details:
1) Whether the data collection or fieldwork stage of the research has already been completed;
2) how the fellowship will contribute to the research;
3) the types of sources to be consulted in Singapore;
4) proposed work plan during the fellowship.
You can look forward to excellent library and internet computer facilities at NUS’ main library (http://www.lib.nus.edu.sg/), the library at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) (http://www.iseas.edu.sg/library.html) and the Lee Kong Chian Reference Library at the National Library (http://www.nlb.gov.sg/) to facilitate your research for the dissertation. NUS’ main library has 2 million volumes covering all topics while ISEAS’ library has 200,000 on Southeast Asian topics, half of which are in Southeast Asian languages.

Selvi
Asia Research Institute
NUS Bukit Timah Campus
469A Tower Block #10-01
Bukit Timah Road, Singapore 259770
E-mail : arikk@nus.edu.sg
Fax: 65 67791428

Untuk informasi beasiswa lebih lengkap mengenai beasiswa untuk pelajar Asia Asian Graduate Student Fellowships 2011 dari NUS (National University of Singapore), dapat Anda akses di situs resminya: http://www.ari.nus.edu.sg

Other Scholarships That Would Be Match

1. API Fellowships Program 2011
2. Singapore Fellowship Grant from Asian Civilisations Museum
3. Beasiswa Graduate Study at Abu Dhabi MASDAR Institute

Original Source: http://www.facebook.com/notes/informasi-beasiswa-dalam-dan-luar-negri/asian-graduate-student-fellowships-2011/436380714889

Jam Terbang (by Prie GS)


tulisan ini adalah asli milik kang prie, seorang budayawan yang juga seorang motivator. Semoga tulisan ini bisa membawa inspirasi buat teman-teman semua..

Saya mengerti kenapa sebutan jam terbang dikenakan untuk menggambarkan pengalaman. Ini semula pasti karena pengalaman memang disetarakan dengan terbang. Begitu berat mencari pengalaman itu sehingga beratnya sama dengan terbang. Orang yang jagoan di darat, bisa menjadi pihak penakut di angkasa sana. Muhammad Ali contohnya.

Sejak muda Ali sudah bertubuh bongsor dan ditakuti teman-teman sekolahnya. Jika nilai sekolahnya jelek, ia cukup mengancam teman sekelasnya untuk membocorkan jawaban. Rumus ini selalu sukses karena pihak yang terancam itu enggan terlibat keributan.

Ali yang menakutkan ini adalah Ali yang ganti ketakutan ketika harus terbang. Tetapi jika ia benar-benar menolak terbang, sejarah tidak akan mengenal Muhammad Ali seperti yang sekarang. Karena untuk meraih Emas Olimpiade, ia harus pergi ribuan mil dari kampungnya dan menempuh ketinggian puluhan ribu kaki. Orang ini mengingat dengan rasa malu ketika untuk terbang di kali pertama ia harus membelitkan parasut di tubuhnya. Bagi sebagian besar orang, terbang adalah keputusan yang menakutkan tak terkecuali saya.

Tapi cuma dengan terbang itulah jarak-jarak yang jauh ditaklukkan, perjalanan panjang dipendekkan dan hari dipadatkan cuma menjadi jam. Semenatra ini, cuma terbang yang memiliki kemampuan sebesar itu walau dengan risiko yang juga sebesar itu. Hukum yang sudah amat tua ini terjadi lagi: untung yang tinggi, selalu ada di dalam risiko tinggi.

Tetapi biar kata risiko itu tidak mendapat tekanan ucapkanlah secara terbalik, bahwa cuma memang di sebuah risiko tinggi terletak keberuntungan tinggi. Maka setiap hendak mengumpulkan pengalaman demi pengalaman yang berat itu, mari membayangkan buah pengalaman yang nilainya selalu akan sepadan.

Untuk bisa menulis bahkan sekadar kolom ini saja, saya butuh belajar menulis lebih dari 20 tahun. Jangka waktu sepanjang itupun tidak membuat saya menjadi benar-benar ahli. Ada kalanya, kolom ini selesai dalam hitungan jam, tetapi tak sedikit yang harus selesai dalam hitungan hari. Ternyata saya tidak benar-benar selalu menjadi pakar untuk bidang yang sudah saya tekuni bertahun-tahun ini. Kadang-kadang kerepotan juga menemukan ide.

Jika ide sudah ketemu, kadang-kadang tidak lancar dalam penuangan. Bahkan orang yang sudah menekuni pekerjaannya pun, masih harus akrap dengan kesulitan. Tetapi percayalah, betapapun sulitnya, di tangan sebuah jam terbang, kolom ini rampung juga seperti biasa.

Saya juga teringat tentang sebuah undangan sebagai pembicara pertama yang gagal saya datangi lebih karena saya gagal berkompromi dengan ketegangan. Saya malu sekali ketika seroang teman menebak dengan tepat apa alasan ketidakdatangan saya itu: tegang. Saya sangat ingin bicara, tetapi saya takut sekali bicara, karena jam terbang belum saya punya.

Ingin tetapi ketakutan ini sungguh penderitaan. Jadi menempuh jam terbang memang penuh penderitaan. Tetapi sebenar-benarnya penderitaan ialah ketika seseorang sama sekali belum memiliki jam terbang.

Kini, di setiap kesempatan, ketika saya sedang bekerja dalam rangka menempuh ”jam terbang” hingga terbang dalam pengertian sebenarnya, saya mencoba menikmati keduanya. Sama sekali membebaskan diri dari derita menempuh jam terbang pasti tidak mungkin. Kesakitan tetaplah kesakitan, derita tetaplah derita dan ia tak bisa dilenyapkan.

Ia menjadi berharga justru ketika terasakan. Tetapi merasakan kesakitan itu sambil membayangkan seluruh manfaat jam terbang ini, adalah sebenar-benarnya kegembiraan. Begitu mendarat, selalu terpancar kelegaan di wajah para penumpang. Dan kelegaan semacam itu tak akan pernah mereka dapatkan jika mereka tak pernah terbang. Maka terbanglah!
(Prie GS/bnol)

Sumber Kutipan : http://www.priegs.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=44

My Perspective Toward Ramadhan


Ramadhan adalah momen tepat penengejawantahan nilai-nilai ketuhanan di dunia dan pemvertikalisasian nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini kita pelajari. Relasi horizontal antara manusia dan Tuhannya tidak akan lengkap tanpa hubungan baik manusia kepada sesama. Dengan logika sederhana tidak mungkin seseorang bisa memiliki hubungan baik kepada Tuhannya jika tidak peduli untuk berbagi kepada mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Ramadhan ini terasa spesial selain bisa berukumpul dengan keluarga juga bisa saling berbagi empati kepada mereka yang kurang beruntung seperti teman-teman pengamen, penjual Koran dll. Bagiku esensi puasa itu mencoba mengenali nilai-nilai keTuhanan yang dimana salah satu sifat Tuhan yaitu memberi makan dan tidak makan. Dalam berpuasa kita dilatih dalam kualitas tersebut. Itulah folosofi berpuasa.

Hal menarik lainnya adalah banyaknya kepedulian dalam bentuk ucapan selamat ramadhan dari teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda. Mereka sangat toleran terhadap kami yang menjalankan puasa. Disinilah letak indahnya beroleransi. Akhirnya, dua pembelajaran penting yang kudapatkan yaitu kesadaran akan nilai-nilai keTuhanan dalam berpuasa dan semangat toleransi untuk kehidupan yang lebih damai.

*Essai singkat ini adalah essay yang saya kirim dalam lomba kuis Ramadhan “Apa Arti Ramadhan Untukmu” yang diselenggarakan oleh Kedubes Amerika Serikat.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Cinta dan Perkawinan Menurut Plato


Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
________________________________________________________
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

(Source: dikutip langsung dari http://www.dudung.net/print-artikel/cinta-dan-perkawinan-menurut-plato.html)

Senyum Orang Gila


TULISAN DI NOTE KALI INI ADALAH TULISAN ASLI DAN ORIGINAL DARI SEORANG BUDAYAWAN “PRIE GS” DAN SUDAH MENDAPAT PERSETUJUAN LANGSUNG DARI BELIAU (VIA CHAT FB KEMAREN) UNTUK DIPUBLISH DI NOTE INI..MOGA BERMANFAAT..

Saya suka melewati jalan itu. Salah satu daya tariknya adalah karena di situ mangkal orang gila yang selalu tersenyum. Kesan pertama saya ialah, betapa senyum itu selalu memberi kesejukan bagi penontonnya, tak peduli apakah ia datang dari orang gila. Kedua, betapa senyum selalu mencerahkan wajah pelakunya.

Meskipun orang itu jelas-jelas telah divonis sebagai gila, tetapi karena selalu tersenyum, ada gambaran damai di wajahnya. Ketiga, inilah yang menurut saya utama: saya yang merasa waras saja, jarang tersenyum sebanyak itu dan semurni itu. Baik secara kuantitas maupun secara kualitas, senyum saya jelas bukan tandingannya.

Ada memang banya senyum kuantitatif di wajah saya. Tetapi itu pun jumlahnya tak seberapa. Yang tak seberapapun, itu berisi senyum-senyum yang terpaksa. Terpaksa sok sabar, sok baik dan sok ramah. Keadaan sok ini membuat diam-diam batin saya malah terancam lelah. Bibir saya tersenyum tetapi hati saya melayang entah ke mana.

Senyum itu, sejatinya nyaris lahir dari ruang hampa. Jadi, senyum kuantitatif ini cepat sekali menghilang dari wajah saya. Secepat itu datangnya, secepat itu pula perginya tanpa meninggalkan jejak apa-apa. Sungguh berbeda dari senyum orang gila yang seperti menetap selalu di bibirnya.

Selebihnya, wajah ini kembali tertarik untuk melayani soal-soal yang membuat bibir cemberut dan wajah berkerut. Pagi hari, cukup hanya dengan membaca koran pagi, kening ini sudah mulai mengernyit. Ada artis yang berdandan sebagai wanita solehah cuma gara-gara hendak mencalonkan diri sebagai petinggi dan ketika kalah cuma kembali pada dandanannya yang asli.

Atau setiap hari ada saja dikabarkan orang mati karena menenggak oplosan, sebuah kematian yang pasti tidak membanggakan bagi keluarga yang ditinggalkan. Dan intensitas ketegangan di wajah ini bisa ditingkatkan jika kita mau menonton televisi. Semua acara lengkap di dalamnya, mulai dari yang mengundang kejengkelan hingga kemarahan.

Jika senyum kuantitatif saja tak seberapa jumlahnya, lebih langka lagi pasti jumlah senyum kualitatif di wajah saya. Ia hanya datang kadang-kadang saja. Tergantung apakah hari sedang cerah. Tetapi jika rezeki sedang seret, tanggal tua, kebutuhan menumpuk, kok datang seseorang hanya untuk minta sumbangan, bisa mengepul uap di kepala saya. Tetapi itupun sudah sebab yang serius. Padahal untuk kesal, saya ini tak butuh penyulut yang serius.

Hanya karena waktu sudah mendesak, dan itupun karena kesalahan saya sendiri, istri yang bergerak terlalu lambat, anak-anak yang masih sibuk dengan ini-itunya, sudah menyulut kemarahan saya. Padahal jika pun saya benar-benar telambat, dunia ini masih baik-baik saja. Saya tidak akan dipecat dari pekerjaan apalagiketerlambatan ini tidak ada hubungannya dengan pecat-memecat. Keadaan ini hanya karena dorongan instink saya agar segera bisa sampai ke tujuan.

Jadi sikap buru-buru itu, lebih banyak tidak disebabkan oleh waktu, tetapi oleh perasaan saya sendiri. Rasa buru-buru itu memang seperti menetap di dalam sini. Ada banyak sekali persolaan hidup, termasuk di dalamnya adalah soal yang remeh-temeh cukuplah untuk mengusir senyum dari wajah saya. Maka setiap melewati jalan, di tempat orang gila itu mangkal, saya seperti menemukan kembali senyum saya yang hilang.

UNTUK INFO TTG KANG PRIE BISA KUNJUNGI LANGSUNG DI WWW.priegs.com, ATAU BISA ADD JG MELALUI FB “Prie Gs”..

GEMA HASIL UN DAN MASA DEPAN KARAKTER GENERASI MUDA INDONESIA by Haeril Halim


Di negara tercinta ini Ujian Nasional sering disingkat UN mengalami ujian yang berat boleh dikata. Ujian tersebut datang dalam bentuk kecaman, kritikan terhadap sistem penentu kelulusan para siswa-siswi Indonesia tersebut. Memang hasil UN sudah diumumkan dan bahkan ujian susulan sebagai alternatif untuk perasaan para siswa-siswi di Indonesia ini juga sudah dilaksanakan di tingkat SMA dan SLTP sederajat. Ironis memang melihat UN sedang diuji oleh penolakan mulai dari kalangan praktisi, pemerhati pendidikan, para siswa-siswi, dan tak terkecuali orang tua siswa walaupun tidak 100% setiap dari mereka yang kontra terhadap pelaksanaan UN.

Melihat hasil UN tahun ini cukup menyedihkan bahkan di kota Jakarta pun yang selama ini klaim berfasilitas lengkap tidak luput dari ketidaklulusan. Selama ini banyak yang mengklaim bahwa adanya kesenjangan dalam pemberian fasilitas antar sekolah-sekolah yang terletak di kota dan di pedalaman adalah salah satu faktor ketidakadilan pemerintah dalam dunia pendidikan. Hipotesis ini terbantahkan dengan fakta diatas bahwa beberapa sekolah di jakartapun dilanda kesedihan UN. Tak pelak di berbagai kota di Indonesia para siswa banyak yang histeris mengetahui dirinya tidak lulus bahkan ada yang mencoba melakukan upaya bunuh diri.
Memang yang menjadi masalah adalah mengapa ujian nasional yang berlangsung beberapa hari itu menentukan nasib siswa siswa di seluruh Indonesia? Pertanyaan tersebut dijawab oleh kementrian pendidikan dengan kebijakan ujian susulan. Kebijakan ini di satu sisi bijaksana di sisi lain hal masih menjadi persoalan karena kelulusan masih ditentukan oleh pusat. Sebenarnya menurut mentri pendidkan bapak Mohammad Nuh “kriteria kelulusan itu bukan cuma ujian nasional, masih ada ujian sekolah dan etika-prilaku siswa sehari hari disekolah. Walaupun lulus UN tapi klo tidak lulus ujian sekolah sama juga tidak lulus”. Jadi para siswa harus memahami criteria yang disebutkan bapak mentri diatas.

CERMINAN KARAKTER GENERASI MUDA BERDASARKAN HASIL UJIAN NASIONAL

Langkah pemerintah dengan tetap mempertahankan UN adalah sangat tepat untuk mengukur bagaimana karakter bangsa yang sesungguhnya. Terbukti dengan adanya UN terungkap misteri karakter generasi muda Indonesia saat ini yang ternyata sangat rapuh. Ujian nasional bukan ujian satu-satunya dalam hidup, masih banyak ujian yang lain yang lebih berat. Jikalau tidak lulus UN saja mau bunuh diri, bagaimana kalau seandainya tidak lulus masuk perguruan tinggi yang nota bene secara struktural lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan UN? Sekarang pemerintah sudah mendapat cerminan tentang karakter generasi mudah yang ternyata sangat rapuh. Pemerintah harus serius menangani masalah ini dikarenakan pemuda adalah tempat bertumpuhnya harapan bangsa ini di masa depan. Bagaimana seandainya di masa yang akan datang negara ini dipimpin oleh seorang yang rapuh karakternya? Sungguh itu sebuah kondisi yang sangat kita hindari. Oleh karena itu pemerintah harus lebih intensif untuk memecahkan masalah ini untuk kepentingan bangsa di masa akan datang.
Budaya Lulus dan Tidak Lulus

Di dalam masyarakat kita masih mempercayai bahwa kelulusan tahap pertama itu lebih tinggi derajatnya (sacral) dibandingkan dengan kelulusan pada ujian susulan. Hal ini dikarenakan kurangnya persiapan sejak dini dari lingkungan keluarga untuk mempersiapkan pendidikan karakter seorang anak. Fenomena tidak lulus adalah sebuah hal lumrah dalam dunia pendidikan. Mereka terbiasa dengan budaya lulus yang dialami oleh ayah dan ibu mereka di masa lalu. Pada hal setiap hari terjadi perubahan yang mengarah kearah yang lebih baik yang sangat jauh berbeda dengan kondisi pendidikan orang tua mereka di masa lalu. Mereka menganggap Ketidaklulusan merupakan sebuah aib ketimbang sebuah motivasi tuk berusaha lebih giat lagi. Apa lagi dengan adanya kebijakan ujian susulan harusnya dipahami sebagai pembelajaran untuk lebih serius lagi dalam belajar dan memberikan contoh yang baik kepada siswa-siswi yang belum merasakan ujian nasional. Sebuah bukti bahwa masyarakat kita tidak bisa belajar dari kegagalan adalah jumlah ketidaklulusan ujian nasional dari tahun ketahun yang cenderung meningkat.

SOLUSI YANG BIJAK

Kebijakan Ujian Nasional sudah baik jika ditinjau dari niat pemerintah untuk mengukur kemampuan nasional siswa-siswi di Indonesia. Terlebih lagi dengan adanya ujian susulan bisa memberi kesempatan bagi mereka yang belum lulus pada saat ujian nasional. Namun yang masih menjadi persoalan di masa depan adalah penentuan lulus tidaknya siswa di ujian nasional sebaiknya diberikan wewenang kepada pihak sekolah. Ini dengan pertimbangan bahwa pemerintah sudah mendapatkan cerminan karakter siswa-siswi Indonesia dari ujian nasional untuk menentukan kebijakan yang lebih pro kepada para siswa dan juga pemerintah. Dengan diberikan wewenang kepada pihak sekolah untuk menentukan apakah seorang siswa yang sudah menjalani ujian susulan lulus atau tidak itu sudah lebih bijak. Pihak sekolah juga pasti tidak dengan serta merta akan meluluskan seorang siswa yang tidak sepantasnya lulus mengingat sudah ada catatan mengenai seorang siswa-siswi berdasarkan hasil ujian nasional. Pemerintah harus melakukan control yang ketat dalam hal ini.

Masalah yang sering muncul kepermukaan juga adalah kendala fasilitas dan keseragaman materi pelajaran. Mengenai keseragaman fasilitas tuk menghindari kesenjangan antar sekolah sesungguhnya itu sebuah yang sangat sulit mengingat hal tersebut menyangkut soal dana yang sangat besar dan anggaran pendidikan kita mungkin belum sanggup menyelesaikan persoalan itu. Biarlah itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Tapi saya ingin berkomentar menyangkut soal keseragaman materi untuk seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Sebaiknya pemerintah membuat tim khusus yang menangani pembuatan materi ajar yang bisa digunakan sebagai acuan belajar seluruh sekolah-sekolah di Indonesia. Fakta yang ada selama ini pihak sekolah banyak yang bergantung pada penerbit buku untuk mendapat buku yang dijadikan pedoman ajar. Tiap penerbit biasanya menerbitkan buku untuk suatu bidang studi tapi dengan materi yang cukup berbeda dengan yang para siswa dapatkan saat ujian nasional. Solusi lain yaitu pemerintah melakukan kontrol kepada semua penerbit agar bisa menyajikan materi yang seragam. Langkah ini tidak akan menguras banyak budget pemerintah.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.