Summari Program Tafsir Al Misbah Mengenal Surah Al An’Anm Episode 25 Ramadhan


Episode kali ini membahas surah Al An’anm ayat 146-150. Secara umum ayat-ayat ini berbicara tentang dua hal yaitu pengharaman oleh Allah terhdap orang yahudi dan kekeliruan logika orang-orang musyrik:

1. Allah mengharamkan bagi orang-orang Yahudi segala binatang yang memiliki kuku dan lemak yang melekat pada tulang. Pelarangan oleh Allah kepada mereka dikarenakan perbuatan dosa yang mereka perbuat. Sesungguhnya Allah menurunkan cobaan atau siksa kepada mereka sebagai media edukasi bagi mereka agar mengambil hikmah dari cobaan yang mereka lalui. Jadi jelas cobaan itu mempunya unsur edukasi untuk kita semua dan hanya orang-orang yang mau berfikir yang bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang mereka lalui yang baik maupun yang buruk.

2. Allah memberikan pelarangan bagi umat-umat terdahulu melalui wahyu seperti umat nabi Musa melalui wahyu-wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Musa dan begitupun dengan nabi-nabi lainnya hingga Rasulullah. Dalam kondisi sekarang dimana wahyu sdh tidak turun lagi masih tetap terjadi kemungkinan pelarangan bagi kita seperti pelarangan memakan makanan jenis tertentu dari dokter dengan alasan kesehatan dll.

3. Sesungguhnya banyak diantara logika-logika kaum musyrik itu mengada-ngada. Contohnya mereka mengatakan bahwa “seandainya orang tua kami bukan penyembah berhala, seandainya kami adalah orang yang bersyukur…” mereka menggunakan firman Allah bahwa segala sesuatunya terjadi atas ijin Allah dan mereka menganggap mereka menjadi kafir karena Allah yang mengijinkan mereka untuk menjadi kafir. Tentu sebuah logika yang salah. Allah memang memberikan ijin kepada semua hambanya untuk melakukan hal-hal yang menurut hambanya baik sekalipun itu hal buruk karena Allah telah memberikan mereka akal-pikiran-hati untuk bisa mengambil keputusan sendiri terhadap pilihan-pilihan dalam hidupnya. Jadi logiknya Allah member ijin kepada hambanya untuk bebas berkehendak apapun itu tapi Allah tidak pernah merestui mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam.

4. Boleh jadi akal kita terbatas untuk memahami suatu hal tapi hati itu selalu lebih luas pemahamannya dari pada akal kita. Penolakan iblis untuk sujud kepada Adam dikarenakan logika mereka yang salah bahwa mereka lebih tinggi derajatnya dari pada Adam karena mereka terbuat dari api sedangkan Adam dari tanah. Padahal sesungguhnya iblis tidak memahami esensi dari perintah itu sendiri.

5. Allah menghendaki seseorang untuk beragama, agama apapun itu asalkan sesuai dengan kehendak akal dan hatinya. Terhadap segala keputusan yang seseorang ambil maka itu menjadi tanggungjawab dia secara pribadi.

6. Allah menuntuk kita untuk selalu mencari hikmah, amal dan ilmu yang tersebar luas dimuka bumi ini dimanapun dan dari siapapun itu. Tuntutlah ilmu sampai kenegeri Cina. Pengibaratan Allah tentang hikmah “petiklah hikmah sekalipun itu berasal dari mulut orang yang gila”. Jadi untuk belajar dan mencari hikmah tidak terbatas hanya kepada sesame muslim tetapi kepada seluruh umat manusia. Dan itulah yang sampai saat ini kita lakukan sekarang dengan mengikuti perkembangan sains dan teknologi tanpa memandang siapa yang menemukan dan mengembangkan sains dan teknologi tersebut berasarkan suku maupun agama.

sekian..wassalam…

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s