REFLEKSI KEJUJURAN TIMUR vs KEJUJURAN BARAT


“Frasa kejujuran” timur pada judul diatas bukanlah sebuah generalisasi tentang kejujuran budaya timur dan begitupun juga generalisasi kejujuran budaya barat. Untuk lebih jelas akan kita uraikan berikut dalam note ini, bukan sebagai aspek pembanding untuk membanding-bandingkan antara Indonesia, negeri tercinta ini, dengan aspek budaya salah satu suku di wilayah Ohio, Amerika serikat. Tapi lebih merupakan sebagai sebuah refleksi terhadap arti penting sebuah nilai kejujuran kita sebagai bangsa Indonesia.

Beberapa waktu yang silam, suatu berita mengagumkan (menurut hemat saya), di berikatan oleh metro TV yaitu berita tentang sebuah kantin kejujuran di salah satu sekolah dasar di Indonesia. Bagaimana tidak selama ini kita hanya mengenal kantin “mba Atik”, “kantin “wong jowo”, “kantin mas mantep” dll. kok tiba-tiba ada kantin bernama kantin kejujuran. Apa nama pemiliknya namanya “kejujuran” layaknya kantin “mas mantep”, kantin “mba Atik”???? hahhahahhah ternyata bukan. Kantin tersebut beratribut “kejujuran” dikarenakan orientasi kantin tersebut adalah penanaman nilai sebuah kejujuran sejak dini yang di mana kantin tersebut tidak memiliki kasir. Yang ada hanyalah sebuah kotak (kardus) tempat di mana para siswa menaruh uang mereka setelah mengambil (membeli) sesuatu dari dalam kantin tersebut dan mereka sendiri yang mengambil dari kotak tersebut apabila mereka punya kembalian atau tidak punya uang pas lebih tepatnya. Hal ini sungguh sebuah contoh yang baik. Hal ini juga sontak menjadi bahan siaran metro tv dan mendapat banyak perhatian masyarakat.

Masih tentang kejujuran: Suatu waktu di Amish County, sebuah wilayah pemukiman oleh suku Amis yang cukup terpencil (itulah disebut mengapa disebut county) jauh dari keramain kota Cleveland, Ohio. Suku ini terkenal primitive dan sangat tertutup dengan kebudayaan luar apalagi terhadap pesatnya kemajuan technology. Mereka umumnya adalah churchgoing family yang sangat kental dengan pengabdian kepada perintah bible. Mereka tidak menggunakan listrik, kedaraan bermotor dll. Mereka hidup dengan sangat alamiah, sangat kontras dengan kehidupan kota-kota besar di Amerika Serikat pada umumnya. Tapi ada yang unik dari mereka (bagi kita unik, tapi bagi mereka hal tersebut adalah sudah merupakan suatu kebiasaan), pada saat sedang mengunjungi salah satu rumah yang juga berfungsi sebagai home industry pembuatan kue. Hal itu terjadi pada saat ingin membayar kue kok tidak ada kasirnya??? Tiba-tiba salah seorang pembuat kue berkata put your money there (box), and if you have changes please take it yourself, “letakkan saja uangnya di kotak itu dan ambillah kembaliannya sendiri”. Wah sontak kuteringat dengan kanti kejujuran. Ya hal itu sama dengan inisiatif oleh sebuah sekolah di Indonesia yang membuat “kantin kejujuran” tapi tidak sepenuhnya sama..lalu apa yang beda dalam kesamaannya tersebut?????

Pertama: Kantin kejujuran baru memiliki “nafas” dalam hitungan bulan, sedangkan kantin suku Amis tersebut sudak dahulu kala dan sudah menjadi turun-temurun. Tak pelak mereka sempat tersenyum kecil ketika melihatku sedang menggenggam uang untuk membayar kue yang telah aku makan karena kebingungan mencari kasir. Kedua: aktifitas mereka khususnya “kasir kejujuran” ala Amish tersebut tersebut sama skali tidak menjadi incaran media dan mungkin juga bukan sebuah komoditas yang prospektif bagi media untuk menayangkan berita “kejujuran” tersebut dikarenakan hal tersebut sudah biasa bahkan mereka sudah hidup dalam sistem tersebut sudah sejak dahulu kala.

Sungguh sebuah ironis kita budaya timur terkenal dengan keramah-tamahan kok masih terjadi bom di sana-sini, masih ada juga beberapa tukang becak suka yang mengolok-olok para wisatwan asing yang ingin berkunjung menyaksikan keramahtamahan negeri tercinta ini. Bahkan yang sangat penting adalah kejujuran masih menjadi sebuah komoditas langka bagi kita… Sebegitu mahalnya nilai sebuah kejujuran di negeri kita sampai-sampai setiap ada langkah yang unik dari implementasi kejujuran itu sendiri pasti tak lepas dari pemberitaan media dan orang-orang akan ramai membicarakannya tanpa mau mencontohnya. apakah kejujuran bagi kita adalah sebuah kebutuhan? Sebuah cita-cita? Sebuah keinginan? Atau sebuah hal yang sangat sulit untuk kita akan lakukan? Atau hal yang tak pernah terpikirkan sama sekali untuk kita perbaiki????? Mari kita refleksikan bersama-sama…thanks..

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

One thought on “REFLEKSI KEJUJURAN TIMUR vs KEJUJURAN BARAT

  1. Pingback: penduduk Jawa Barat itu sebenarnya berapa sih….? | Indonesia Search Engine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s