GEMA HASIL UN DAN MASA DEPAN KARAKTER GENERASI MUDA INDONESIA by Haeril Halim


Di negara tercinta ini Ujian Nasional sering disingkat UN mengalami ujian yang berat boleh dikata. Ujian tersebut datang dalam bentuk kecaman, kritikan terhadap sistem penentu kelulusan para siswa-siswi Indonesia tersebut. Memang hasil UN sudah diumumkan dan bahkan ujian susulan sebagai alternatif untuk perasaan para siswa-siswi di Indonesia ini juga sudah dilaksanakan di tingkat SMA dan SLTP sederajat. Ironis memang melihat UN sedang diuji oleh penolakan mulai dari kalangan praktisi, pemerhati pendidikan, para siswa-siswi, dan tak terkecuali orang tua siswa walaupun tidak 100% setiap dari mereka yang kontra terhadap pelaksanaan UN.

Melihat hasil UN tahun ini cukup menyedihkan bahkan di kota Jakarta pun yang selama ini klaim berfasilitas lengkap tidak luput dari ketidaklulusan. Selama ini banyak yang mengklaim bahwa adanya kesenjangan dalam pemberian fasilitas antar sekolah-sekolah yang terletak di kota dan di pedalaman adalah salah satu faktor ketidakadilan pemerintah dalam dunia pendidikan. Hipotesis ini terbantahkan dengan fakta diatas bahwa beberapa sekolah di jakartapun dilanda kesedihan UN. Tak pelak di berbagai kota di Indonesia para siswa banyak yang histeris mengetahui dirinya tidak lulus bahkan ada yang mencoba melakukan upaya bunuh diri.
Memang yang menjadi masalah adalah mengapa ujian nasional yang berlangsung beberapa hari itu menentukan nasib siswa siswa di seluruh Indonesia? Pertanyaan tersebut dijawab oleh kementrian pendidikan dengan kebijakan ujian susulan. Kebijakan ini di satu sisi bijaksana di sisi lain hal masih menjadi persoalan karena kelulusan masih ditentukan oleh pusat. Sebenarnya menurut mentri pendidkan bapak Mohammad Nuh “kriteria kelulusan itu bukan cuma ujian nasional, masih ada ujian sekolah dan etika-prilaku siswa sehari hari disekolah. Walaupun lulus UN tapi klo tidak lulus ujian sekolah sama juga tidak lulus”. Jadi para siswa harus memahami criteria yang disebutkan bapak mentri diatas.

CERMINAN KARAKTER GENERASI MUDA BERDASARKAN HASIL UJIAN NASIONAL

Langkah pemerintah dengan tetap mempertahankan UN adalah sangat tepat untuk mengukur bagaimana karakter bangsa yang sesungguhnya. Terbukti dengan adanya UN terungkap misteri karakter generasi muda Indonesia saat ini yang ternyata sangat rapuh. Ujian nasional bukan ujian satu-satunya dalam hidup, masih banyak ujian yang lain yang lebih berat. Jikalau tidak lulus UN saja mau bunuh diri, bagaimana kalau seandainya tidak lulus masuk perguruan tinggi yang nota bene secara struktural lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan UN? Sekarang pemerintah sudah mendapat cerminan tentang karakter generasi mudah yang ternyata sangat rapuh. Pemerintah harus serius menangani masalah ini dikarenakan pemuda adalah tempat bertumpuhnya harapan bangsa ini di masa depan. Bagaimana seandainya di masa yang akan datang negara ini dipimpin oleh seorang yang rapuh karakternya? Sungguh itu sebuah kondisi yang sangat kita hindari. Oleh karena itu pemerintah harus lebih intensif untuk memecahkan masalah ini untuk kepentingan bangsa di masa akan datang.
Budaya Lulus dan Tidak Lulus

Di dalam masyarakat kita masih mempercayai bahwa kelulusan tahap pertama itu lebih tinggi derajatnya (sacral) dibandingkan dengan kelulusan pada ujian susulan. Hal ini dikarenakan kurangnya persiapan sejak dini dari lingkungan keluarga untuk mempersiapkan pendidikan karakter seorang anak. Fenomena tidak lulus adalah sebuah hal lumrah dalam dunia pendidikan. Mereka terbiasa dengan budaya lulus yang dialami oleh ayah dan ibu mereka di masa lalu. Pada hal setiap hari terjadi perubahan yang mengarah kearah yang lebih baik yang sangat jauh berbeda dengan kondisi pendidikan orang tua mereka di masa lalu. Mereka menganggap Ketidaklulusan merupakan sebuah aib ketimbang sebuah motivasi tuk berusaha lebih giat lagi. Apa lagi dengan adanya kebijakan ujian susulan harusnya dipahami sebagai pembelajaran untuk lebih serius lagi dalam belajar dan memberikan contoh yang baik kepada siswa-siswi yang belum merasakan ujian nasional. Sebuah bukti bahwa masyarakat kita tidak bisa belajar dari kegagalan adalah jumlah ketidaklulusan ujian nasional dari tahun ketahun yang cenderung meningkat.

SOLUSI YANG BIJAK

Kebijakan Ujian Nasional sudah baik jika ditinjau dari niat pemerintah untuk mengukur kemampuan nasional siswa-siswi di Indonesia. Terlebih lagi dengan adanya ujian susulan bisa memberi kesempatan bagi mereka yang belum lulus pada saat ujian nasional. Namun yang masih menjadi persoalan di masa depan adalah penentuan lulus tidaknya siswa di ujian nasional sebaiknya diberikan wewenang kepada pihak sekolah. Ini dengan pertimbangan bahwa pemerintah sudah mendapatkan cerminan karakter siswa-siswi Indonesia dari ujian nasional untuk menentukan kebijakan yang lebih pro kepada para siswa dan juga pemerintah. Dengan diberikan wewenang kepada pihak sekolah untuk menentukan apakah seorang siswa yang sudah menjalani ujian susulan lulus atau tidak itu sudah lebih bijak. Pihak sekolah juga pasti tidak dengan serta merta akan meluluskan seorang siswa yang tidak sepantasnya lulus mengingat sudah ada catatan mengenai seorang siswa-siswi berdasarkan hasil ujian nasional. Pemerintah harus melakukan control yang ketat dalam hal ini.

Masalah yang sering muncul kepermukaan juga adalah kendala fasilitas dan keseragaman materi pelajaran. Mengenai keseragaman fasilitas tuk menghindari kesenjangan antar sekolah sesungguhnya itu sebuah yang sangat sulit mengingat hal tersebut menyangkut soal dana yang sangat besar dan anggaran pendidikan kita mungkin belum sanggup menyelesaikan persoalan itu. Biarlah itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Tapi saya ingin berkomentar menyangkut soal keseragaman materi untuk seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Sebaiknya pemerintah membuat tim khusus yang menangani pembuatan materi ajar yang bisa digunakan sebagai acuan belajar seluruh sekolah-sekolah di Indonesia. Fakta yang ada selama ini pihak sekolah banyak yang bergantung pada penerbit buku untuk mendapat buku yang dijadikan pedoman ajar. Tiap penerbit biasanya menerbitkan buku untuk suatu bidang studi tapi dengan materi yang cukup berbeda dengan yang para siswa dapatkan saat ujian nasional. Solusi lain yaitu pemerintah melakukan kontrol kepada semua penerbit agar bisa menyajikan materi yang seragam. Langkah ini tidak akan menguras banyak budget pemerintah.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

One thought on “GEMA HASIL UN DAN MASA DEPAN KARAKTER GENERASI MUDA INDONESIA by Haeril Halim

  1. Pingback: Siswa SMP Ipiems Ciptakan Nata de Melo | Indonesia Search Engine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s