MENYOAL IKUTNYA “SIBUYA” BERDEMO, “HINAAN ATAU SINDIRAN???”


MENYOAL IKUTNYA “SIBUYA” BERDEMO, “HINAAN ATAU SINDIRAN???”
Haeril Halim

Peristiwa ikutnya kerbau “SiBuYa” berdemo menimbulkan wacana multi tafsir, tidak terkecuali presiden republik Indonesia, bapak Susilo Bambang Yudhoyono, current president yang terpilih secara spektakuler dalam pilpres 2009 dengan raihan suara lebih dr 60% suara. Apa yang membuat SBY merasa perlu untuk mengeluarkan pendapat mengenai sebuah demo beberapa waktu silam yang dimana para demonstran membawa serta kerbau sebagai teman berdemo adalah asosiasi binatang yang bernama kerbau tersebut beliau tafsirkan sebagai simbol dari kemalasan padahal itu bukan sebuah konvensi yang general misalnya pada suku batak dan minang yang memberi penghargaan yang tinggi pada kerbau. Tapi hal tesebut bukan menjadi fokus tulisan ini.

Dalam sebuah kesempatan di media nasional bapak presiden sempat mengucapkan (menanggapi demo tersebut) bahwa “ada yang membawa kerbau, katanya SBY seperti kerbau yang badannya gede’ tapi malas bekerja”. Kok seorang president mengucapkan kalimat seperti ini? Sebagai orang yang terdidik apa lagi sebagai penerima penghargaan komunikasi politik terbaik se-Asean paling tidak SBY bisa memparaprase kalimat tersebut agar nampak lebih sophisticated atau sebagai kalimat orang terdidik. Ya itu jikalau SBY mau memperlihatkan status sosialnya melaui bahasa sebagaimana bahasa bisa mencerminkan identitas seseorang salah satu ukurannya yaitu tingkat keformalan bahasa (grammatikal and lexikal). Tapi dalam kasus ini mungkin saja bapak president SBY melalui bahasa memperlihatkan bahwa dirinya yang menjadi korban dalam kasus SiBuYa tersebut dengan menggunakan uneducated phrase di setting formal (dalam rapat kenegaraan) agar mendapat perhatian dari mereka yang mendengarkan. Setidaknya begitu kiranya jika kita memandangnya dari segi ilmu bahasa atau linguistik. Bagaimanapun juga untuk mengetahui makna original dari ujaran SBY tersebut yaitu dengan cara menanyakan langsung ke beliau.

Terlepas dari itu semua SBY juga menjaga penyimbolan dirinya sebagai kepala Negara yang dilinduingi oleh undang-undang. “Menurut undang-undang di Negara manapun itu tidak boleh dilakukan demo yang menghina seorang president karena presiden adalah simbol negara”, kira-kira begitulah maksud ucapan beliu waktu itu walaupun frasenya tidak sama persis dengan yang beliau ucapkan.

Dikarenakan wacana ini bersifat ragam tafsir jadi tidak ada salahnya dalam kesempatan ini, melaui tulisan ini, saya menyumbangkan interpretasi saya sebagai warga Negara yang ikut prihatin melihat kondisi ini, bukan dalam kapasitas untuk membuat judgement benar atau salah.

Kekhususan SiBuYa” ini membuat president SBY memasukkan wacana tersebut dalam agenda rapat pemerintah. Wah hebat benar SiBuYa ini dibicarakan dalam rapat yang hadiri oleh para mentri dan ingin dibuatkan undang-undang pula agar ke depan SiBuYa tidak ikut nongkrong dalam aksi demonstrasi lagi! Memang pada waktu itu, 28 januari 2009, adalah tepat 100 hari pemerintahan jilid ke kedua pemerintahan SBY dimana hampir di berbagai daerah di Indonesia dilakukan aksi damai bertujuan untuk menyuarakan “ketidakpuasaan” rakyat terhadap kinerja pemerintah. Tak mengherankan memang jika SBY tersontak kaget melihat peristiwa di bundaran HI tersebut. Bagaimana tidak seekor kerbau “polesan” berada di nadi ibukota republik ini diikutkan dalam sebuah aksi demonstrasi. “Polesan” tersebut berupa coretan putih “SiBuYa” di perut kerbau yang sangat menarik perhatian orang yang menyaksijan demonstrasi tersebut. Plus di bokong SiBuYa tertempel kertas putih bergambar wajah pria berpeci hitam, berjas biru, sedang tersenyum lebar. Yang lebih menarik perhatian lagi tulisan TURUN tepat berada diatas peci hitam. Spontan, dan itu sangat lumrah jika orang menafsirkan bahwa ini isyarat buat SBY tuk segera turun karena dinilai gagal.

Dari sudut pragmatisme bahasa, makna dari aksi tersebut dengan melibatkan SiBuYa sangat memukul telak SBY, sangat jelas situasi dan konteks peristiwa komunikasi ini tepat di hari keseratus bayi pemerintahan SBY. jikalau hal ini terjadi setelah seratus hari masa pemerintahan jilid II ini maka maknanya akan berbeda walaupun dengan polesan sedemikian rupa ssehingga sama persis dengan aksi 28 januari tersebut. Jadi dasar bagi seorang SBY menafsirkan hal ini adalah aspek waktu. Dari sudut pragmatisme bahasa memang itu benar waktu peristiwa komunikasi baik verbal maupun non-berbal sangat menentukan makna dan perlokusi (efek terhadap si pendengar/reaksi) sebuah aktifitas tutur. Tapi kalau memang SBY bersudut pandang sama dengan saya, melihatnya dari sudut pragmatism bahasa, tidak ada salahnya. Tapi yang menjadi persoalan apabila seorang presiden menafsirkan suatu fenomena atas dasar emosionil walaupun tafsirannya tepat tetap akan bernilai negatif. Bagaimanapun juga SBY harus melihat dengan jernih konteks kejadian aksi SiBuYa ini dengan kata lain mencermati aspek apa saja yang melatar belakangi aksi “sindiran keras” tersebut. Apakah SiBuYa akan ikut turun aksi di jantung ibu kota jakarta jika memang sebenarnya tidak ada masalah dalam pemerintahan SBY??? Sungguh bodoh bagi anak bangsa ini jika melakukan sebuah aksi tanpa adanya stimulant apalagi terhadap seorang kepala negara. Tidak ada awan dan angin kok tiba-tiba hujan? Begitulah kira-kira analoginya. Tapi jika memang latar belakang demo tersebut dikarenakan pemerintahan jilid dua yang bersih (tidak ada masalah dalam pemerintahan) mana mungkin si SiBuYa akan turun? Itu sungguh sebuah hinaan terhadap simbol Negara jika hal tersebut terjadi. Tapi kalau “kehadiran” SiBuYa di HI tersebut dilatar belakangi oleh adanya beberapa masalah dalam pemerintahan yang masyarkat anggap unsolvable atau tidak ada solusi atau tidak dicarikan solusi oleh pemerintah maka dengan segala rasa hormat kepada bapak presiden itu adalah sebagai ekspresi sindiran rakyat atau semacam kritikan bukan sebuah hinaan karena mempunyai stimulant yang melatar belakanginya.

Bereaksi terhadap suatu peristiwa apalagi terhadap sebuah kritikan adalah lumrah tapi jadikan hal tersebut sebagai motivasi tuk lebih serius khususnya bagi pemerintahan SBY jilid II dengan adanya aksi si SiBuYa ini maka mau tidak mau presiden dan jajarannya harus meningkatkan kinerja dan sekiranya memaafkan SiBuYa atas aksinya tersebut apabila telah melukai hati pemerintah. Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang sayang terhadap rakyatnya, layaknya orang tua yang terus sabar mendidik anaknya walaupun anaknya tersebut sering melakukan salah. Dan sebagai orangtua sudah semestinya harus berbuat baik, selalu mencontohkan hal-hal yang baik kepada anaknya.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ‘10 Grantee IELSP batch VI priode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s