PENGABDIAN ALA MBAH MARIDJAN By Haeril Halim


PENGABDIAN ALA MBAH MARIDJAN
Haeril Halim

Budaya ketimuran sangat akrab dan menjunjung tinggi budaya pengabdian. Pengabdian seseorang diaplikasikan dalam berbagai ragam bentuk dan jenisnya. Yang paling kentara adalah pengabdian antara budak dan majikan yang menjadi ciri khas “profesionalisme” ketimuran. Seseorang yang taat dan patuh pada majikan akan dianggap pekerja yang baik dan akan mendapatkan penghargaan lisan sebagai “pekerja yang baik”. Setidaknya begitulah konsep yang dipercaya orang Indonesia khususnya di budaya Jawa.

Nampaknya eksistensi budaya mengabdi ini yang telah mengkristal dalam diri orang timur dan hal ini membuat orang barat “gusar”. Budaya pengabdian dianggap sebagai budaya yang kurang menghargai profesionalisme. Bagaimana tidak orang timur bisa hidup mengabdi dengan upah kecil seperti yang masih rutin dilakukan warga kraton Jogyakarta. Mereka sangat patuh dengan kata sang sultan bahkan konon kabarnya gaji mereka sangat sedikit tapi mereka senang dan bahagia mengabdikan hidup mereka kepada sang sultan. Pengenalan akan konsep HAM dan budaya kerja professional adalah budaya tandingan yang disusupkan di budaya timur oleh barat dengan berbagai mediasi yang sangat teratur dan intelek. Pengadopsian konsep HAM dan Profesionalisme adalah wajar tapi pengadopsiannya harus berjalan sinergis dengan kondisi lingkungan bermasyarakat agar bisa mendapatkan tempat dan apresiasi oleh lingkungan sekitar.

Saya tidak akan berbicara soal HAM dan profesionalitas di tulisan namun adalah konsep pengabdian ala mbah Maridjan yang membuat saya menulis tulisan ini. Secara pribadi saya salut dengan pengabdian mbah Maridjan. Ancaman panasnya kabut asap atau “wedus gembel” gunung merapi tidak mengurangi sedikitpun rasa pengabdiannya kepada ayah Sultan untuk selalu menjaga dan berada di sekitar merapi. Pelepasan rasa individualis mbah Maridjan telah disingkirkan hanya untuk melaksanakan amanah sang Sultan. Bahkan konon kabarnya sejak lama Mbah Maridjan sudah diajak untuk mengungsi oleh petinggi kraton saat ini namun perintah tersebut diabaikannya karena lebih menyakralkan perintah oleh Sultan sebelumnya (Ayah dari sri Sultan).

Secara pribadi saya berpendapat bahwa ada dua aspek penting dari konsep pengabdian yaitu pelaksanaan dari apa yang diamanahkan (implementasi fisik) dan pensugestian diri bahwa apa yang kita lakukan adalah berguna buat orang lain dan diri kita sendiri (implementasi psikis). Yang pertama akan mengalami kebosanan tanpa dilengkapi oleh aspek yang kedua. Begitupun juga tidak akan mungkin bisa terlaksana implementasi psikis tanpa ada implementasi fisik. Bagaimana mungkin kita bisa percaya sesuatu baik apabila kita belum melaksanakannya. Dalam konsep ibadah implementasi fisik adalah aktifitas gerak yang kita lakukan dalam menjalankan ritual-ritual keagamaan dan implementasi psikisnya adalah perasaan tenang dalam melakukan aktivitas tersebut. Aspek kedualah yang menjaga stabilitas kehidupan beragama ditengah hantaman budaya global yang katanya menjadi identitas masyarakat dunia.

Walaupun tersiar kabar bahwa mbah Maridjan telah bersedia untuk dievakuasi sebelum akhirnya wafat dalam keadaan sujud tapi aspek kedualah yang telah membuatnya selama ini bertahan untuk tinggal menjaga gunung Merapi atas perintah sang Sultan. Terlepas dari semua itu Mbah Maridjan telah memperlihatkan budaya pengabdian ala timur yang menjadi ciri khas budaya Jawa atau lebih spesifik lagi budaya Kraton Jogyakarta. Pengabdian semacam ini adalah kontrol sosial dari pengaruh-pengaruh luar yang mencoba merusak tatanan masyarakat yang ada. Boleh kita memperbaharui konsep pengabdian atas tuntutan zaman tapi adalah kurang tepat jika kita menghilangkannya karena hal tersebut adalah kekayaan budaya timur yang tidak dipunyai oleh budaya lain.

Sekian Wassalam…

Haeril Halim, 23 tahun, Alumni Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin 2010, Grantee IELSP 2009 Ohio University Amerika Serikat, Asisten Pengajaran bahasa Inggris pada MKU dan jurusan Sastra Inggris Unhas.

*Tulisan sangat dadakan sifatnya serta non-ilmiah dan hanya sebagai draft tulisan yang belum selesai jadi segala kesalahan penulisan atau tata bahasa harap dimaklumi.

2 thoughts on “PENGABDIAN ALA MBAH MARIDJAN By Haeril Halim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s