INDONESIA ENGLISH LANGUAGE STUDY PROGRAM (IELSP) BATCH IX/Cohort 9 “Frequently Asked Questions” Deadline 10 Januari 2011


“Frequently Asked Questions”

1. Apakah IELSP itu?

Indonesia English Language Study Program adalah program beasiswa yang menawarkan kesempatan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 (delapan) minggu.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris peserta, khususnya dalam English for Academic Purposes. Selain itu, peserta akan memiliki kesempatan untuk mempelajari secara langsung kebudayaan dan masyarakat Amerika Serikat karena peserta akan mengikuti program immersion dalam kelas internasional dimana mereka akan bergabung dengan peserta lain dari berbagai bangsa dan negara. Dalam program ini, peserta tidak hanya akan belajar Bahasa Inggris, namun juga akan mengikuti berbagai program kultural yang akan memberikan pengalaman yang sangat berharga.

2. Siapa yang berhak mendaftar?

IELSP terbuka untuk mereka yang berumur 19 – 24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi mana pun di Indonesia dari berbagai jurusan. Pendaftar juga harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450. Peserta terpilih juga harus bersedia untuk meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di Amerika Serikat selama waktu tersebut.

3. Apa saja persyaratannya?

– berumur 19 – 24 tahun, dan

– aktif sebagai mahasiswa S1 minimal tahun ketiga (semester 5 keatas) di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia (BELUM DINYATAKAN LULUS/MENEMPUH SIDANG KELULUSAN)

– memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450 (bukan Prediction Test)

– memiliki prestasi akademik yang baik

– aktif dalam berbagai kegiatan atau organisasi

– memiliki komitmen penuh untuk segera kembali ke tanah air segera setelah program ini selesai

– tidak memiliki pengalaman belajar di Amerika Serikat atau negara lain selain Indonesia

– memiliki sifat-sifat: aktif, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan berpikiran luas.

– Menguasai komputer

4. Bagaimana cara mendaftar?

Untuk mendaftar, dapat mengambil formulir di kantor Indonesian International Education Foundation (IIEF), Menara Imperium Lt. 28 Suite B, Jl. HR Rasuna Said Kav 1, Jakarta 12980. Formulir juga dapat di-download dari website IIEF di http://www.iief.or.id. Formulir boleh di fotokopi.

5. Dokumen apa saja yang harus disertakan dalam formulir pendaftaran?

Pendaftar harus melampirkan dokumen-dokumen berikut dalam formulir pendaftaran yang telah dilengkapi:

– 1 (satu) buah pasfoto berwarna ukuran 4×6

– 1 (satu) buah fotokopi Kartu Identitas (KTP)

– 1 (satu) buah surat keterangan resmi dari universitas bahwa yang bersangkutan masih aktif terdaftar di universitas tersebut

– transkrip nilai dari semester 1

– 1 (satu) buah fotokopi Ijazah SMA (tidak perlu diterjemahkan)

– 1 (satu) buah fotokopi Daftar Nilai Ujian SMA (tidak perlu diterjemahkan)

– 1 (satu) buah Surat Referensi dari dosen di universitas – menggunakan form khusus yang terlampir dalam Formulir Pendaftaran. Form Referensi yang telah dilengkapi harap dimasukkan kedalam amplop tertutup dan disertakan bersama Formulir Pendaftaran yang telah dilengkapi. Surat Referensi dari Dosen Matakuliah Bahasa Inggris lebih baik.

– 1 (satu) buah fotokopi nilai TOEFL® (International TOEFL® atau TOEFL® ITP)

6. Apakah yang dimaksud dengan TOEFL® ITP?

Institutional TOEFL® adalah paper-based TOEFL® yang berskala institusional atau nasional yang biasanya banyak dipergunakan untuk melamar pekerjaan atau melamar beasiswa di dalam negeri. Materi yang di test terdiri dari: Listening, Structure dan Reading.

Bagaimana jika hasil TOEFL® ITP belum diumumkan ketika mengirimkan aplikasi?

Tes TOEFL® ITP harus dilakukan sebelum tanggal dateline tetapi hasil TOEFL® ITP dapat disertakan setelah tanggal dateline. Kemudian pada aplikasi di halaman 4, diisi dengan pilihan bahwa masih menunggu hasil TOEFL® ITP (I am currently still waiting for my TOEFL® score) dan dicantumkan tanggal, bulan dan tahun ujian serta test center tempat ujian TOEFL® ITP.

Dimana sajakah tempat ujian TOEFL® ITP?

Untuk informasi mengenai tempat ujian TOEFL® ITP dapat menghubungi Indonesian International Education Foundation (IIEF) di no telepon (021)-8317330 atau email: testing@iief.or.id

7. Apakah fotocopy nilai transkrip dan surat aktif kuliah harus di terjemahkan dalam bahasa Inggris?

Fotocopy nilai transkrip wajib dilegalisir tetapi tidak harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Surat aktif kuliah tidak harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tetapi disertai cap dan tanda tangan dari pihak universitas.

8. Formulir dapat diisi dengan tulisan tangan atau diketik?

Pengisian formulir aplikasi sebaiknya diketik tetapi diperbolehkan diisi dengan tulisan tangan.

9. Formulir ditujukan ke mana?

Formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan dialamatkan ke:

IELSP

Indonesian International Education Foundation (IIEF)

Menara Imperium Lt. 28 Suite B

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan

Jakarta 12980

(harap menuliskan IELSP di sudut kiri atas amplop)

10. Kapan batas waktu pendaftaran?

Untuk Gelombang IX, formulir yang telah dilengkapi dan disertai oleh dokumen persyaratan harus diterima olehIIEF paling lambat tanggal 10 Januari 2011.

11. Apakah saya harus sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat sebelum mendaftar?

Seseorang tidak perlu sudah memiliki paspor dan visa Amerika Serikat untuk bisa mendaftar. Jika terpilih, peserta akan diberikan waktu untuk mengurus paspor. Visa Amerika Serikat akan diurus oleh IIEF sebelum keberangkatan. Perhatian: Penerima beasiswa dijadualkan untuk berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Juni dan Oktober 2011 (catatan: keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat).

12. Apakah ada biaya tertentu yang harus saya bayar dalam program beasiswa ini?

Program ini merupakan beasiswa penuh, dan peserta tidak dipungut biaya apapun. Penerima beasiswa akan ditanggung seluruh biaya kecuali biaya pembuatan paspor.

13. Kemana saya harus bertanya untuk mendapatkan informasi?

Untuk informasi dapat menghubungi:

Indonesian International Education Foundation (IIEF)

Menara Imperium Lt. 28 Suite B

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan Jakarta 12980

Telp: 021 – 831 7330,Fax: 021 – 831 7331 (pada jam kerja)

Email: scholarship@iief.or.id

DOWNLOAD APPLICATION FORM DISINI

HUBERT H. HUMPHREY FELLOWSHIP PROGRAM FOR MID-CAREER PROFESSIONALS Deadline April 15, 2011


HUBERT H. HUMPHREY FELLOWSHIP PROGRAM
FOR MID-CAREER PROFESSIONALS

Hubert H. Humphrey fellowships enable Indonesian mid-career professionals to participate in non-degree programs that combine academic course work at the graduate level with professional development activities in the U.S. for a period of one academic year (9 months). Candidates are typically administrators in leadership positions with a minimum of five years of work experience who represent either the public or non-profit private sectors, including Non-Governmental Organizations (NGO’s) who are committed to public service.

Applicants will possess:

* a Sarjana (S1) degree with a minimum GPA of 2.75 (4.0 scale)
* a minimum institutional TOEFL score of 525 or IELTS of 5.5.

PRIORITY DISCIPLINES

Agricultural Development/Agricultural Economics; Communications/Journalism; Economic Development; Finance and Banking; Human Resources Management; Public Policy Analysis and Public Administration; Technology Policy and Management; Urban & Regional Planning; and Public Health Policy and Management (including HIV/AIDS policy and prevention, drug abuse education, treatment, and prevention). Researchers, treatment providers, prevention specialists, and program planners at governmental or non-governmental organizations will also be considered).

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at the AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:

* Completed application form. This includes a clearly written and concise study objective.
* Copy of your most recent, less than two years old, TOEFL or IELTS score report.
* One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
* Copy of academic transcript (English translation).
* Copy of identity document (KTP or passport).

CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed via e-mail to the following address: infofulbright_ind@aminef.or.id. We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.

DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is April 15, 2011.

Note: Program requirements are subject to change without notice.

further information please visit http://www.aminef.or.id

FULBRIGHT FOREIGN LANGUAGE TEACHING (INDONESIAN) ASSISTANT (FLTA) PROGRAM Deadline April 15 2011


FULBRIGHT FOREIGN LANGUAGE TEACHING (INDONESIAN) ASSISTANT (FLTA) PROGRAM

Applicants must be English language teachers or currently in training to become the English language teacher and must be able to demonstrate a commitment to language teaching upon return to Indonesia following the award. The program is for one academic year (9 months) and requires the grantee to teach Indonesian language and culture in the U.S. for 20 hours per week and to Enroll in at least two U.S. Studies and / or ESL methodology classes per semester under a full tuition waiver.

Applicants who are no older than 29 years of age by October 1, 2011 and will possess:

* a Bachelor’s (S1) degree with a minimum GPA of 3.0 (scale 4.00)
* leadership qualities
* a good understanding of Indonesian and international cultures
* a demonstrated commitment to the chosen field of study
* a willingness to return to their home institution upon completion of the Fulbright program
* a minimum institutional TOEFL score of 550 or IELTS 6.0.

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at the AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:

* Completed application form. This includes a Concise Clearly written and objective study.
* Copy of your most recent, less than two years old, TOEFL or IELTS score report.
* One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
* Copy of academic transcript (Bahasa translation).
* Copy of identity document (KTP or passport).

CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed via e-mail to the following address: infofulbright_ind@aminef.or.id. We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.

DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is 15 April 2011.

Note: Program requirements are subject to change without notice.

 

DOWNLOAD APPLICATION FORM HERE

FULBRIGHT-DIKTI MASTER’S DEGREE PROGRAM Deadline April 15, 2011


FULBRIGHT-DIKTI MASTER’S DEGREE PROGRAM

Preference will be given to applicants who serve as faculty members of state and private institutions of higher education in Indonesia. Applicants will possess:

* a Bachelor (S1) degree with a minimum GPA of 3.0 (4.00 scale)
* leadership qualities
* a good understanding of Indonesian and international cultures a
* demonstrated commitment to the chosen field of study
* a willingness to return to Indonesia upon completion of the Fulbright-DIKTI program
* a minimum institutional TOEFL score of 550 or IELTS score of 6.0

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at:

Fulbright-DIKTI Scholarship Program
Direktorat Ketenagaan, Ditjen Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan Nasional

u.p. Direktur Ketenagaan
Gedung D lt. 5.
Jl. Jend. Sudirman, Pintu 1 Senayan
Jakarta 10002

Please return your complete application package by the application deadline that includes:

* Completed application form. This includes a clearly written and concise study objective.
* Copy of your most recent, less than two years old, institutional TOEFL or IELTS score report.
* One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
* Copy of academic transcript and diploma (English translation).
* Copy of identity document (KTP or passport).

CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed to the following address: ditnaga.dikti.go.id

DIKTI does not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to DIKTI.

DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is April 15, 2011.

Note: Program requirements are subject to change without notice.

DOWNLOAD APPLICATION FORM HERE

Fulbright Master Degree Program (Deadline April 15 2011)


FULBRIGHT MASTER’S DEGREE PROGRAM

Preference will be given to applicants who serve as faculty members of state and private institutions of higher education in Indonesia. Applicants will possess:

* a Bachelor (S1) degree with a minimum GPA of 3.0 (4.00 scale)
* leadership qualities
* a good understanding of Indonesian and international cultures
* demonstrated commitment to the chosen field of study
* a willingness to return to Indonesia upon completion of the Fulbright program
* a minimum institutional TOEFL score of 550 or IELTS score of 6.0

DISCIPLINES

All disciplines and fields of study are eligible for a Fulbright award. The fields of study covered by the Fulbright scholarship program in the past were limited to the Social Sciences and Humanities. Since 2004, however, the policy has been changed to include also other disciplines with the exception of fields related to patient care or medical training nor to continue their study at medical school.

HOW TO APPLY

Candidates should complete the appropriate application forms. Forms are available either by mail or in person at the AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Please return to AMINEF your complete application package by the application deadline that includes:

* Completed application form. This includes a clearly written and concise study objective.
* Copy of your most recent, less than two years old, institutional TOEFL or IELTS score report.
* One letter of reference, either from your current employer or previous lecturer.
* Copy of academic transcript (English translation).
* Copy of identity document (KTP or passport).

CONTACT INFORMATION

Specific questions regarding the application process may be addressed via e-mail to the following address: infofulbright_ind@aminef.or.id. We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.

DEADLINE

The deadline for the submission of application materials for all programs is April 15, 2011.

Note: Program requirements are subject to change without notice.

Further information visit http://www.aminef.or.id

 

DOWNLOAD APPLICATION FORM HERE

Teroris versus Koruptor by Haeril Halim


TERORIS VERSUS KORUPTOR
Haeril Halim

Baru saja bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pidato politik mengenai terorisme secara khusus merespon penyergapan para tersangka teroris yang dilakukan oleh tim Densus 88 Mabes Polri beberapa waktu lalu. Tak pelak ini adalah sebuah prestasi Kepolisian Indonesia di mata rakyat Indonesia dan rakyat International. Tidak hanya sampai disitu, Polri juga melakukan serangkain upaya lanjutan untuk melacak blog milik seorang yang diduga teroris dengan cara bekerja sama dengan FBI. “dahulu aksi terorisme mengincar para wisatawan asing di Indonesia untuk dijadikan target sasaran sekarang pola itu mengalami perubahan dimana mereka menjadikan pemerintah sebagai sasaran. Hal ini mereka lakukan untuk mendirikan sebuah Negara Islam”, kira-kira begitulah apa yang di sampaikan oleh bapak presiden dalam pidatonya.

Ada yang unik dari pernyataan presiden tersebut diatas yang dimana beliau sempat mengklaim bahwa modus baru ini merupakan kelanjutan sebuah peristiwa sejarah yang tidak tuntas di masa lalu. Ya dahulu memang ada aksi separatis yang bertujuan untuk mendirikan Negara islam dan mereka disebut gerakan separatis dan aksi mereka memperjuangkan aspirasi kelompok tidak bertujuan menakut-nakuti sebagai mana defenisi teror yang terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III “Usaha ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan”. Sedangkan arti kata teroris (kata benda) dalam kamus yang sama “teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Contoh kalimatnya: berombolan teroris telah mengganas dengan membakar rumah penduduk dan merampas hasil panen”. Di dalam kamus Webster New World Edisi ke VI teror (asal kata teroris) diartikan sebagai “1. A Person or thing causing such fear (Intense for fear) terribleness done by a party or group…” artinya seorang atau sesuatu yang menyebabkan ketakutan yang dilakukan oleh sekelompok orang (untuk tujuan politik). Jadi jelas bisa kita lihat defenisi dari kedua sumber yang berbeda ini mendefenisikan terror itu sebuah aksi yang menimbulkan ketakutan dan diasosiasikan dengan aktivitas politik. Apakah defenisi ini sesuai defenisi tersirat bapak president diatas yang menyatakan terorisme sekarang ini merupakan kelanjutan dari proses sejarah yang tidak tuntas di masa lalu yang ingin mendirikan Negara Islam?? Dahulu mereka tidak disebut teroris tapi gerakan separatis. Kedua terminologi ini dalam ranah praktis sangat berbeda. Ini sangat jelas sebuah pengalihan asosiasi terorisme dari politik ke agama. Kenapa agama menjadi sasaran? Dari mana defenisi tersirat ini didapatkan oleh bapak SBY sedangkan makna denotasi kamus sendiri berkata lain? Ataukah defenisi terror yang seperti ini akan muncul di kamus edisi baru kelak? Ini yang harus di jelaskan oleh bapak SBY sebagai kepala Negara dan wajar jika kita sebagai anak bangsa yang cinta kepada Indonesia mempertanyakan hal ini.

Sesungguhnya jikalau kita menggunakan defenisi terror yang tersebut diatas, teroris sesungguhnya adalah para koruptor yang secara tidak langsung membuat kekhawatiran terhadap rakyat. Walaupn aksi para koruptor ini bukan aksi fisik tapi secara psikologis membuat rakyat ini takut dan cemas akan hari esok jika para koruptor masih tetap dibiarkan bergentayangan di bumi pertiwi ini dan melumat habis uang pemerintah sehingga rakyat miskin akan bertambah miskin dan menderita. Hal inilah sebenarnya yang harus dituntaskan oleh bapak SBY karena adanya kesenjangan antara yang kaya dan miskin itu menimbulkan efek psikologis sehingga ada sekelompok orang yang khilaf berbuat nekad sampai melakukan aksi pengeboman yang memakan korban yang tak lain juga adalah warga Negara Indonesia sendiri. Apabila kesenjangan sosial (menangkap dan menghukum semua para koruptor) itu bisa teratasi maka secara psikologis bisa menciptakan keharmonisan dalam masyarakat dan yakin dan percaya mereka akan berfikir dua kali untuk melakukan aksi-aksi nekat yang merugikan orang lain tersebut. Kapan ya negeri tercinta ini bebas dari koruptor???

Menarik melihat pemahaman terorisme dari bapak SBY apakah defenisi tersebut merupakan hasil sintesa dari bapak presiden mencermati fenomena terorisme yang ada di negeri ini? ataukah hanya merupakan defenisi pinjaman (taken for granted) dari sang Negara Adidaya, Amerika Serikat yang mengasosiasikan aksi terorisme agama Islam. Sampai sekarang belum ada bukti akurat yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan akademik tentang siapa sebenarnya pelaku penyerangan gedung World trade Center yang menjadi ikon perekonomian Amerika Serikat. Ataukah defenisi dari pemerintah Amerika itu sendiri hanya politis belaka? Buktinya kamus Webster terbiatan Cleveland, Ohio pada tahun 2002 tersebut tidak mengasosiakan terror dengan agama tertentu malahan mengasosiasikannya dengan politik. Kita harus kritis melihat fenomena ini. Ada sebuah upaya untuk mencitra burukkan Islam di masyarakat Amerika dan masyarakat Internasional.
Kerugian material dengan runtuhnya gedung kembar di Washington tersebut belum seberapa jika kita melihat berapa besar kerugian material yang disebabkan oleh invasi Amerika ke Afganistan dan Irak bahkan sangat banyak kerugian nyawa yang tak bisa digantikan dengan apapun. Keruntuhan gedung WTC jika dilihat dari sisi ekonomi bukanlah sebuah kerugian material oleh pemerintah Amerika serikat karena dalam era modern seperti ini bisa dikatakan setiap perusahaan mempunyai asuransi jika terjadi suatu bencana maka asuransilah yang akan menanggung semua beban (jaminan asuransi). Fakta yang ada juga menunjukkan banyak perusahaan asuransi yang terancam gulung tikar pasca penyerangan tersebut dikarenakan asuransi-asuransi yang menjamin WTC mungkin tidak mampu menutupi segala biaya asuransi gedung kembar tersebut. Ini hanya sebuah hipotesi patut dikaji lebih dalam lagi tuk mendapatkan kesimpulan yang lebih valid.

Satu lagi yang penting tuk menyikapi aksi separatis dan aksi pengeboman di Indonesia (saya tidak menyebutnya gerakan terorisme karena saya berdasar pada defenisi kedua kamus diatas) adalah pemerintah sebaiknya berinisiatif untuk membuka dialog dengan mereka yang terlibat aksi separatis dan aksi pengeboman. Kalau bapak SBY bisa membentuk Sekretariat Gabungan yang diketuai oleh Abu Rizal Bakri untuk melancarkan sumbatan komunikasi diantara para parpol koalisi kenapa tidak membangun sebuah komite khusus untuk menjembatani aspirasi bagi mereka yang sudah terhipnotis dengan nikmatnya aksi pengeboman karena bagaimanapun juga mereka mayoritas warga negara Indonesia. Saya kira lebih baik menyadarkan teroris dengan membuka ruang bagi mereka untuk berbicara tentang aspirasi mereka dari pada harus membunuh dan membinasakan teroris karena hanya akan menimbulkan kebencian yang mendalam dari mereka yang sudah masuk dalam lubang hitam aksi tak bermanusiawi tersebut. Langkah ini jika dilihat dari konteks demokrasi adalah cukup bijak. Dikarenakan ini masalah yang sangat serius jadi sebaiknya bapak presiden dengan segala otoritasnya mengambil langkah yang terbaik buat kemaslahatan bersama dan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan pancasila.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Tulisan ini adalah secercah opini yang sifatnya non-ilmiah, maka untuk itu tidak layak untuk dikutip

TERORISME DAN TELA’AH STRUKTUR by Haeril Halim


TERORISME DAN TELA’AH STRUKTUR

Haril Halim

Membicarakan terorisme dari sudut pandang penyimpangan prilaku dari sebuah ajaran atau dogma sudah sangat popoler dibahas bahkan pembahasan yang berlebihan seperti ini terkesan menyudutkan salah satu agama. Padahal sesungguh tidak ada ajaran agama manapun yang mengajarakan pengikutnya untuk melakukan aksi terror kepada orang lain. Jangankan melarang aksi terror, menyakiti perasaan seseorangpun dilarang oleh agama karena akan mengakibatkan sebuah afek yang awalnya bersifat personal tapi kemudian bisa membesar menjadi masalah sosial.

Apa yang tulisan ini tawarkan adalah sebuah perspektif baru dalam memahami terorisme yaitu dengan landasan pemikiran bahwa aksi teror itu lahir dari sebuah keadaan tidak adil atau injustice phenomenon. Titik awal terorisme lahir bukan karena adanya sekelompok orang yang menyalah artikan ajaran agama mereka tapi terlebih dari suatu kondisi sosial yang menstimulasi mereka untuk melakukan prilaku menyimpan kemudian merasionalisasikan tindakan mereka sebagai jihad atau perang suci di jalan Tuhan. Hal ini berlandaskan pada teori sebab akibat yaitu tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa adanya sebab yang mendahuluinya.

Memahami terorisme sebagai sebuah fenomena sosial tidaklah salah jika kita melakukan pendekan struktur untuk mengakrabi fenomena ini. Layaknya sebuah bahasa, terorisme juga memiliki struktur. Para ahli sosial seperti Levi Strauss yang memberikan penekanan lebih terhadap study tentang struktur karena sedikit banyak sebuah struktur akan memberikan kita gambaran terhadap apa yang distrukturinya.

Layaknya sebuah struktur bangunan, struktur terorisme juga memilik titik-titik yang saling menghubungkan satu sama lain. Titik-titik ini terhubung satu sama lain membentuk apa yang kita sebut jaringan terorisme. Ironisnya walapun titik-titik ini berfungsi menghubungkan satu sama lain tapi secara struktur mereka memiliki kekuatan yang berbeda beda. Ada yang menopang beban yang ringang dan ada yang berat. Hal seperti ini kasat mata bisa kita saksikan dimana terorisme juga memiliki seorang pemimpin yang diibaratkan sebagai titik yang menopang tanggung jawab terbesar secara struktural.

Secara kultural seorang pemimpin sangat dihargai dan tewasnya seorang pemimpin merupakan simbol dari kehancuran sebuah organisasi. Sekali lagi hal ini sesuatu yang kasat mata. Tertangkapnya Amrozi dan Imam Samudra yang di klaim sebagi petinggi kelompok terorisme yang sempat beberapa kali melakukan aksi tak manusiawi di Indonesia secara struktural merupakan pukulan telak bagi organisasi yang dipimpinnya. Tapi apakah cukup hannya dengan kepuasan kasat mata? Reward dari kepuasan kasat mata ini tidak lebih hanyalah sebuah pujian dan ucapan selamat atas suksesnya pemerintah menangkap pimpinan jaringan terorisme. Apakah hal ini berarti hilangnya terorisme dari negeri ini?

Mengapa diatas terdapat penggunaan frasa “secara kasat mata” karena ini juga merupakan prilaku cultural yang hanya fokus terhadap apa yang kita lihat. Meminjam istilah seorang pemikir dan juga ahli sosiologi kritis asal prancis Pierre Bourdieu yang mengatakan bahwa perilaku individu yang kasat mata merupakan hasil olahan dari pola kognitif suatu kelompok masyarakat atau lebih dikenal habitus. Contohnya jika dengan kekuasaan atau paksaan kita berhasil membuat seseorang tidak melakukan kebiasaan yang sangat senang dilakukannya, secara kasat mata kita berhasil tapi sesuangguhnya tidak bergeraknya fisik orang tersebut melakukan kebiasaannya bukan berarti matinya habitus yang mengontrol perilakunya.

Jika dikaitkan dengan terorisme tewasnya Amrozi dan Imam samudra belum tentu mematikan habitus para kader-kader teroris, serendah apapun posisi mereka secara struktural. Pergantian pemimpin terjadi dalam dimensi waktu tapi penghapusan habitus menurut Bourdieu tidak tergantung pada dimensi waktu. Intinya kesuksesan memberangus habitus itu may be yes, may be no jika hanya dengan pemorak-morandaan struktur.

Sesuai tesis awal tulisan ini yaitu terorisme lahir dari sebuah injustice phenomenon maka langkah terbaik untuk menumpas terorisme tidak dengan perlawanan senjata, pertumpahan darah, hukuman mati atau penyebaran dogma-dogma baru untuk berubah habitus para kader-kader teroris. Tidak dapat disangkali walapun pemimpin terorisme sudah dihukum mati tapi yang masih tersisa adalah para kader-kader yang secara struktural masih rendah (waktu bisa menjadikan mereka diakui sebagai pemimpin) dan permata berharga atau nafas terorisme itu sendiri yaitu habitus. Tapi apa yang penting untuk pemerintah lakukan untuk menghapus habitus para teroris yaitu dengan menghadirkan kondisi yang betul-betul berkeadilan bagi seluruh rakyat tanpa memandang Ras, Suku atau Agama.

Jika solusi diatas masih terlaku abstrak, langkah praktis yang bisa dilakukan adalah membuka ruang publik untuk mereka yang merasa tidak mendapatkan keadilan atau aspirasi mereka belum tercapai. Walaupun aspirasi mereka sangat sulit untuk dicocokkan dengan konteks sosial bernegara kita, yang ada niscaya dengan metode dialog akan dilahirkan solusi-solusi baru yang lebih berkeadilan tanpa harus mentaklik butakan aspirasi awal mereka dan menggap aspirasi mereka sebagai harga mati yang harus dicapai. Solusi-solusi baru yang dimaksud di sini adalah solusi yang diambil apabila menemui jalan buntu yang kedua belah pihak setujui bersama tanpa harus menghilangkan sama sekali aspirasi awal keduanya.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Tulisan ini adalah secercah opini yang sifatnya non-ilmiah, maka untuk itu tidak layak untuk dikutip



MENCARI HANDUK TATKALA SEDANG MENGENAKAN HANDUK?


Judul diatas adalah fenomena lucu yang mengelitik skaligus sarat makna akan pemahamanku tentang existensiNya. Suatu ketika tatkala mau mandi, sy kebigungan mencari handuk sampai-sampai sy membongkar segala isi kamar dengan maksud menemukan handuk ku tersayang tersebut tp apa yang terjadi setelah 15 menit kebingungan mencari handuk, sy duduk dan melihat kebawah ternyata handuk yang sy cari tesebut sudah kukenakan jauh sebelum sy mandi, ketika lagi beres2 kamar. Dengan sedikit senyum menyindir diri sendiri akibat “silly mistake” tersebut, tiba2 itu mengingatkanku tentang cerita tentang ikan dan samudra yang pernah say baca di buku imam Khomeini yang berjudul Rahasia Bismillah. Kira2 seperti ini hikayat antara ikan dan samudra tersebut:

Suatu hari segerombolan ikan di lautan yang luas sedang mengutarakan aspirasi kepada pimpinan kelompoknya untuk member mereka gambaran atau arah bagi mareka. Mereka menuntut agar diberi petunjuk untuk menemui sang lautan. “ wahai yang mulia”, kami bermaksud mengahadap lautan” berilah kami petunjuk dimana dan bagaimana kami bisa menghadap lautan yang telah meberi kita kehidupan, bukankah karena ia (lautan) kami semua ada dan tanpa dia kami semua tiada”. Pemimpin ikan tersebut terdiam sambil sedikit tergelitik karena pernyataan sekelompok ikan tersebut. “sudah lama kami hidup tapi tidak tahu dimana tempatnya dan di mana arahnya”, tambah sekelompok ikan tersebut.

Menanggapi kehendak keras dari pengikutnya tersebut sang pemimpin ikan tersebut hanya mangatakan “kawan-kawan pertanyaan seperti itu tidak layak bagi kalian dan orang2 seperti kalian”. “lautan terlalu luas untuk kalian capai, itu bukan urusanmu. Itu juga bukan posisimu. Diamlah”. “cukuplah kalian yakini bahwa kalian berada karena adanya dan tidak akan ada tanpa keberadaannya”, tambah sang pemimpin tersebut.
Mendegar respon dari pemimpinnya, maka para ikan tersebut berkata “jawaban ini tidak akan ada gunanya bagi kami. Larangan tidak akan menahan kami untuk bertemu dengan lautan. Kami harus menujunya”
Gusar dengan hasrat bodoh anak2 buahnya, sang pemimpin dengan singkat berkata “saudara2 lautan yang kalian cari, yang kalian ingin temui ada bersamamu dan kalian bersamanya. Ia meliputi kalian dan kalian meliputinya. Yang meliputi tidak terpisah dari yang diliputi”.

Mendengar jawaban pemimpinnya seakan mereka mendapat kesan bahwa mereka dihalang-halangi tuk bertemu lautan, mereka bangkit tuk membunuh sang pemimpin

Kemudian sang pemimpin bertanya “kenapa kalian ingin membinuku”

Ikan2 tersebut berkata “karena, menurutmu, lautan yang kami cari adalah lautan yang di situ kita berada. Bukan kah kita berada di dalam air bukan lautan. Apa hubungan air denga lautan? Kamu hanya ingin menyesatkan kami. Kamu hanya memperdayakan kami.

“demi Allah bukan begitu”. Jawab sang pemimpin. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya sebetulnya lautan dan air itu satu dalam hakikat. Diantara keduanya tidak ada perbedaan. Air adalah nama lautan dari segi hakikat dan wujud. Lautan adalah nama baginya dari segi kesempurnaan, kekhususan keluasan, dan kebesaran diatas semua fenomena”.

Ya kurang lebih begitulah posisi sy ketika saya mencari handuk padahal, saya sedang mengenakannya. Sy tidak sadar bahwa sy sedang memakai handuk tp toh kenapa ada hasrat tuk mencari dimana handuk sy berada yang nyatanya ada pada diri saya sendiri, that’s silly mistake.

Dalam kasus ikan tersebut, sama dengan ketidaksadaran sy. Mereka mencarai lautan yang menghidupi mereka tapi mereka tidak tahu dengan jelas apa lautan itu. Lautan yang mereka cari dan mereka ingin temui sesungguhnya ada bersama mereka. Ia meliputi mereka. YANG MELIPUTI TIDAK TERPISAH DENGAN YANG DILIPUTI. Lautan itu adalah yang dimana ikan2 tersebut berada. Lautan bersama mereka dan mereka bersama lautan.

Dalam konteks keagamaan begitu banyak fenomena ketidaksadaran yang sejenis dengan kisah tersebut diatas yang termanifestasikan dalam banyak bentuk atau dalam pengalaman kita sehari2. Hikayat tersebut memberika kita “enlightenment” yang sangat sederhana bahwa hubungan Tuhan-ciptaan seolah-olah hubungan antara penghuni lautan dan lautan. Tentunya perbandingan tersebut belum cukup tuk menggambarkan kebesaran hakikat Tuhan. Itu hanya contoh sederhana untuk upaya penyederhanaan hakikat yang sangat jauh dari lingkup pengalaman kita.

Hal lain yang juga bisa di tarik dari sini bahwa beragama dengan hanya modal kepercayaan tanpa ilmu adalah sesuatu yang kurang lengkap di kehidupan saat sekarang ini. Gunakan hati untuk mempercayai tp gunakan juga akal untuk mengenali apakah yang kita percayai tersebut sudah benar atau masih perlu perbaikan. Karena ciri mukmin sejati adalah mereka yang mampu mensinkronkan antara hati dan fikirannya. Demikian wassalam..thanks

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

ETOS KERJA by Haeril Halim


ETOS KERJA
Haeril Halim

“bekerjalah dengan gembira, tetapi gembiralah juga karena bekerja” itulah sepenggal kalimat yang kutemukan dari buku catatan general knowledge ku. Sepintas sepenggal kalimat itu memberikan saya general meaning yang tiba-tiba saja muncul bahwa dalam bekerja itu kita harus banyak senyum agar kerja itu barokah dan menyenangkan orang lain, mungkin hal tersebut muncul dikarenakan pengalaman saya melihat beberapa sales yang tetap tersenyum menawarkan produknya dalam kondisi sesualit apapun, tapi toh itu bukan general view tentang aktifitas sales pada umumnya, ada juga yang bermuka kecut, jutek, ya gimana mau laku yak???? Tapi toh defenisi itu terbantahkan ketika melihat dikotomi para sales yang bekerja yang dimana ada yang senyum dan ada juga yang jutek. Ya hal tersebut memberiku pelajaran bahwa dalam menarik makna sebuah kalimat atau situasi kita harus mempertimbangkan dari berbagai sisi, defenisiku tersebut diatas dilator belakangi oleh pengalamanku yang selama ini banyak berinteraksi dengan sales atau banyak menyaksikan kinerja para sales.

Segera setelah itu saya mendapatkan makna baru dari kalimat tersebut, ini ditenggarai oleh pengamatan saya terhadap para pekerja teras yang ya ada di rumahku. Bising yang mereka ciptakan dari aktifitas pembuatan membuat atap untuk teras rumah ku sendiri pun mengusik aktifitas belajarku. Tapi toh kembali saya pada principal hidup saya bahwa segala sesuatunya baik itu negatif maupun positif terdapat pelajan bagi mereka yang mau berfikir. Bising dari luar rumah itupun sangat mengganggu kupingku tapi toh pada saat kutengok keluar rumah mereka tanpa sedikitpun terganggu dengan bising itu walaupun suara bising itu tepat berada ditangan mereka pada saat memotong besi atau atap dengan alat pemotong besi dalam terminologi tukangnya disebut gurinda. Mereka sangat nyantai dan bahagia plus penuh dengan canda tawa dengan teman mereka sekalipun mereka sesekali nampak serius bekerja tanpa canda sedikitpun tanpa terganggu ributnya suara gurindah tersebut. Subhanallah, mereka menciptakan makna baru terhadap kalimat diatas yang dengannya saya boleh menangkap makna baru tersebut dengan rasionalisasi “bahwa bekerja gembira dan gembira dalam bekerja tidak harus dengan senyum setiap waktu tapi ada fragment-fragment yang dimana senyum, tawa canda dan keseriusan itu dibutuhkan dan pelajaran paling penting yang sangat menamparku tentang bekerja adalah Resistensi. Ya itulah resistensi yang bisa membuat mereka tidak mendengar suara bising tersebut. Saya setuju dengan defenisi bapak Jansen Sinamo tentang 8 etos kerja; Kerja adalah RAHMAT; AMANAH; ; PANGGILAN; AKTUALISASI; IBADAH; SENI; KEHORMATAN; PELAYANAN. Maka tidak ada salahnya jika saya menurut versi saya pribadi menambahkan satu eto kerja lagi; Kerja adalah RESISTENSI.

Begitu banyak tanda-tanda di sekitar kita bisa dijadikan pelajaran dan hidup adalah proses belajar dan proses belajar itu memerlukan proses dialektis tuk membuat kita lebih bijak lagi dalam menyikapi masukan-masukan yang berasal dari lingkungan untuk lebih baik lagi dan tentunya dengan pemahaman yang lebih bijak tuk mencapai pemahaman yang paripurna. THANK YOU SO MUCH….

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

FUNGSIONALITAS ELEMEN TANDA *Sebuah Sentilan Semiotika by Haeril Halim


FUNGSIONALITAS ELEMEN TANDA
Haeril Halim

Semiotika, sebagaimana umum dipahami adalah studi tentang tanda. Ada dua pionir studi kesemiotikaan, Ferdinan De Saussure, seorang linguis asal Eropa dan Charles Sander Pierce yang notabene seorang filosof di Amerika. Teori mereka berdua the signified-signifier and the Icon-index-symbol theories oleh Saussure dan Pierce saling berdialektika satu sama lain walaupun mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Orang-orang setelahnya lah yang mengkonstraskan pemikiran mereka berdua yang berujung pada dikotomi dan trikotomi tanda.

Saussure menekankan hubungan dualitas antara “penanda” dan “petanda”. Dengan kata lain penanda adalah “bunyi atau coretan yang bermakna” (aspek material bahasa) sedangkan petanda adalah konsep ide dari penanda atau apa yang ada dipikiran kita tentang penanda. Dikotomi ini dilatarbelakangi oleh background Saussure sebagai seorang strukturalis yang “hobi” akan pengoposisibineran terhadap sesuatu hal, contohnya kalau ada siang pasti ada malam, lemah lawanya kuat dan lain lain sebagainya. Konsepsi tanda ala Pierce terbagi atas tiga yaitu tanda ikonik, simbolik, dan indeksikal. Adanya kesenjangan antara konsep dan realitas membuat Pierce mencoba menjembatani kemelut dunia perlambangan dengan konsep trikotomisnya yang boleh dikatakan selaras dengan ajaran trinitas yang dia percayai sebagai seorang kristiani. Menurut Pierce tanda itu menghasilkan hubungan ikonik atau hubungan kesamaan seperti ujung pensil dengan geometri. Hubungan indeksikal dapat kita lihat yaitu awan gelap di langit yang dengan otomatis menunjukkan pikiran kita untuk berkesimpulan bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Sedangkan simbol adalah hubungan tanda dengan tanda lainnya sebagai hubungan kesepatakan atau konvensi seperti terlihat dalam traffic light yaitu lampu merah adalah tanda berhenti, kuning tanda untuk berhati-hati/pelan dan hijau tanda sebagai instruksi untuk jalan.

Bagaimanapun juga semiotika adalah bidang ilmu yang kompleks dan sangat tidak matematis seperti dalam konsep tersebut diatas oleh Saussure dan Pierce bahwa tidak selamanya “merah” adalah tanda berhenti dan sebagainya. Pengaplikasian semiotika secara parsial memang mudah kita pahami dalam contoh yang sederhana seperti tanda lalu lintas tersebut diatas namun apabila kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang menuntut kita untuk memahami tanda secara kompleks, tidak secara terpisah atau parsial seperti ikon, indeks, simbol maupun tanda maupun petanda versi Saussure. Sifat tanda yang selalu berubah adalah faktor yang berkontribusi dalam kompleksitas ini. Sebagai contoh mitos-mitos lokal yang “awetkan” oleh orang-orang tua terdahulu melalui tradisi lisan, tidaklah akan memadai analisnya dengan analisis parsial tersebut diatas. Namun sebagai alternatif perlu kita pertimbangakan dalam memahami kompleksitas tanda dalam suatu masyarakat yaitu dengan melihatnya dalam perspektif fungsionalitas elemen tanda.

Fungsionalitas elemen tanda bisa kita pahami dengan melihat apa fungsi tanda tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut adalah contohnya:

Fungsi Pemersatu atau fungsi integritas. Tanda-tanda kebudayaan yang khas dalam setiap wilayah atau kebudayaan adalah tanda-tanda yang berfungsi untuk mengikat orang-orang yang berkecimpung dalam sebuah kebudayaan. Contohnya ketegasan dalam berbicara orang-orang bugis Makassar adalah tanda linguistik yang mengikat seseorang dimanapun dia pergi sekalipun berada jauh dari arenanya. Mitos-mitos “tobarani” atau mitos-mitos penggambaran sebagai orang berani dan tegas dalam literatur bugis Makassar akan secara otomatis mengintegrasikan antara kata dan perbuatan orang-orang yang merasa dirinya bugis Makassar.

Contoh lain adalah kerusuhan yang terjadi antar dua kelompok mahasiswa dikarenakan pembakaran lambang kampus dari salah satu pihak yang berusuh. Dari analisis Pierce “lambang universitas” hanya akan diketahui dengan pendekatan simboliknya bahwa suatu lambang adalah simbol dari universitas tertentu contohnya universitas Hasanuddin yang lambangnya ayam jantan. Tapi dengan melihat fungsi perlambangan dapat kita ketahui bahwa analisis ala Pierce tersebut sangat dangkal karena ada aspek penting lain yang perlu untuk kita ketahui dari sekedar tahu bahwa sebuah lambang tertentu adalah lambang dari sesuatu. Sangat jelas bahwa alasan kedua kelompok mahasiswa rusuh satu sama lain adalah karena adanya fungsi integritas dari lambang yang menyatukan mahasiswa dan lambang universitasnya bahwa siapapun yang menghina (membakar) lambang persatuan mereka maka akan mendapatkan perlawanan. Jadi ada aspek psikologis yang diciptakan oleh sebuah lambang untuk mengikat sebuah komunitas untuk bersatu.

Tentunya dalam konteks kehidupan bermasyarakat lebih baik memahami fenomena semiotis dengan pendekatan fungsionalisme lambang karena pendekatan teoritik ala Saussure dan Pierce akan kurang memadai untuk mengcover fenomana kebudayaan yang kompleks. Selain fungsionalitas elemen tanda ada juga relativisme lambang yang bisa dijadikan sebagai alat untuk menjelaskan fenomena semiotik dalam tingkat kebudayaan oleh karena itu kajian semiotika budaya sangat menarik dalam kajian semitik dewasa ini. Namun khusus untuk kesempatan kali ini hanya membahas mengenai fungsi integritas elemen tanda. Penjelasan tentang pendekatan semiotik lainnya akan dibahas pada kesempatan yang lain.
Sekian dan terima kasih!

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Artikel ini adalah tulisan pertama saya yang dipublikasikan di majalah LIDAHIBU Jogyakarta. Majalah LIDAHIBU adalah sebuah majalah yang memfokuskan diri terhadap sentilan-sentilan atau kasak-kusuk mengenai dunia linguistik.