Sofa depan Kamarku by Haeril Halim


Sofa depan Kamarku
“Haeril Halim”

Di depan kamarku terdapat dua sofa yang berbeda nasib dan berbeda posisi. Kemungkinan dikarenakan posisinya berbeda, maka nasibnya juga berbeda. Dengan berbicara dalam konteks keartisan bisa dikatakan seperti ini “sofa yang satu lebih tenar dan populer dari pada sofa yang satunya”. Sesuatu yang populer dan tenar biasanya jadi bahan perhatian, dicari dan dibutuhkan walaupun hanya sekedar ingin dilihat walaupun sejenak. Tapi apakah sesuatu yang tidak populer otomatis akan tidak diperhatikan, jika tidak mau mengatakannya terabaikan. Jawabnya belum tentu! Kebelumtentuan itulah yang sedikit menyemangati sesuatu yang tidak populer tersebut! Dalam hal ini untuk sedikit mengangkat atau merasionalisasi ketidakpopuleran salah satu sofa depan kamarku tersebut.

Berbicara lebih ril, kenyataan menunjukkan keduanya bernasib sama secara fisik yang apabila diperhadapkan dengan sofa baru yang lebih “kinclong” pastilah keduanya akan segera mendapatkan koper elemninasi tuk terpredikatkan “tidak populer” secara otomatis. Tapi ditengah ketidakpopuleran itu ternyata muncul juga predikat populer yang membedakan keduanya, barangkali inilah yang disebut populer dalam ketidakpopuleran. Sekaligus membuktikan sebuah tesis ilmiah bahwa hidup itu memang adalah sebuah panggung kontestasi bahkan dalam dunia kesofaanpun bisa ada kontestasi. Ah ada-ada saja ya.

Tapi bukan itu yang ingin kutulis disini. Apa yang saya maksud dengan populer adalah intensitasku bercengkarama dengan kedua sofa itu. Sofa panjang di dpn kamarku secara alamiah lebih terpopulerkan oleh prilaku ku yang lebih intens bercengkrama dengannya. Sofa mini nan kecil yang posisinya sedikit jauh dari kamarku sangat jarang kumanfaatkan. Mungkin dikarenakan sofa pertama yang karena posisinya lebih strategis otomatis menjanjikan banyak cahaya untukku membaca buku, lebih mengijinkanku tuk berbaring sambil meluruskan kakiku menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dari sela-sela pintu teras atas karena ukurannya yang lumayan besar. Kesulitan memberikan fasilitas layaknya sofa pertama tawarkan adalah faktor yang membuat sofa kedua kurang populer ditambah lagi posisinya yang berada tepat disamping kamar ponakanku yang persis berada disamping tangga.

Secara lisan saya tidak pernah mengakui melakukan aksi diskriminatif terhadap keduanya tetapi kesadaran pribadi dengan melakukan refleksi terhadap prilaku alamiahku terhadap keduanya menyadarkanku bahwa saya sudah bersikap diskriminatif terhadap sofa kedua. Tapi apakah prilaku ku yang tidak mempopulerkan sofa kedua berarti saya melupakan sofa kurang beruntung itu????? Jawabannya dan secara sadar saya tegaskan adalah TIDAK!!! Keduanya tetap menaungi fikiranku cuman intensitas berinteraksiku dengan kedua yang memang berbeda. Setiap selesai mandi saya lebih sering bertemu sang sofa kedua dan setiap kali bertemu saya selalu memikirkan akan nasibnya yang kurang populer.

Dalam konteks kehidupan, tidak semua hal atau tidak semua orang dalam hidup kita akan kita beri porsi yang sama untuk berinteraksi, mungkin interaksi dengan ayah-ibu lebih menonjol dari pada interaksi dengan saudara kandung yang tinggal jauh di tempat lain. Ataupun yang terjadi sebaliknya seperti ketika kita kuliah jauh dari orangtua otomatis interaksi dengan orangtua akan berkurang dan yang pasti sangat jelas adalah interaksi kita dengan teman sekampus akan jauh lebih banyak ketimbang interaksi dengan kedua orangtua. Tapi apakah itu berarti kita mengabaikan orangtua? Jawabannya sekali lagi TIDAK!!! Dalam konteks lain, memberi duit belanja yang sama jumlah kepada dua orang anak yang berbeda kebutuhan adalah masuk kategori adil tapi tidak bijaksana. Ukuran keadilan sering kita artikan apabila semua mendapat proporsi yang sama. Tentu dalam hidup “adil” saja tidak cukup tapi dibutuhkan kebijaksaan untuk menimbang dan menilai sikap “adil” kita terhadap sesama manusia! Semoga bermanfaat! Sekian Wassalam…

Salam Hangat,

Haeril Halim, 23 tahun, Alumni Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin 2010, Grantee IELSP 2009 Ohio University Amerika Serikat, Asisten Pengajaran bahasa Inggris pada MKU dan jurusan Sastra Inggris Unhas.

(Makassar, 2 November 2010 pukul 22.30 WITA)

*Tulisan ini hanyalah sebuah text refleksi yang sifatnya non-ilmiah dan juga sifat pembuatannya sangat dadakan. Untuk itu segala argumentasi didalamnya tidak harus ditela’ah dalam ranah ilmiah tapi hanyalah sebagai sebuah refleksi terhadap kehidupan kita. Terlebih lagi waktu pembuatannya berpapasan lagi nonton Overa Van Java ckckckc.

2 thoughts on “Sofa depan Kamarku by Haeril Halim

  1. Kisah sederhana dari sofa yang menginspirasi, suatu tolak ukur yg simpel namun besar manfaat. Dengan membaca cerita tersebut saya teringat pada saat sekolah dulu, dimana dalam hal pemberian uang jajan. Yap, mungkin karena beranggapan ingin berbuat adil pada anak2nya orang tuaku memberikan porsi uang jajan yg sama dengan adik-adik saya yangg masih duduk di bangku SD, dengan saya yang sudah duduk di bangku SMP, serta kakakku yang duduk di bangku SMA. Tapi sebagai seorang anak yah, kita nurut aja tanpa ada protes, dan itu berlanjut hingga saya lulus SMA. makanya saat membaca kisah di atas saya kembali teringat akan peristiwa itu. saya sangat setuju, “berbuat adail tidak selamanya bijaksana”. *sorry, jadi curhat! tapi I laki it, good job……

    • makasih ya ayi; tuk kunjungannya, jgn bosan ya berkunjung ke blog ini…

      sy terinspirasi membuat tulisan ini ketika mendengar perbicangan seseorang tentang adil n bijaksana, dan kebetulan jg pas tiba dirumah liat sofa jadi sy buat dech tulisannya..heheheh..iya itu yg harus kita sadari bersama bahwa adil saja belum cukup tanpa bijaksana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s