FUNGSIONALITAS ELEMEN TANDA *Sebuah Sentilan Semiotika by Haeril Halim


FUNGSIONALITAS ELEMEN TANDA
Haeril Halim

Semiotika, sebagaimana umum dipahami adalah studi tentang tanda. Ada dua pionir studi kesemiotikaan, Ferdinan De Saussure, seorang linguis asal Eropa dan Charles Sander Pierce yang notabene seorang filosof di Amerika. Teori mereka berdua the signified-signifier and the Icon-index-symbol theories oleh Saussure dan Pierce saling berdialektika satu sama lain walaupun mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Orang-orang setelahnya lah yang mengkonstraskan pemikiran mereka berdua yang berujung pada dikotomi dan trikotomi tanda.

Saussure menekankan hubungan dualitas antara “penanda” dan “petanda”. Dengan kata lain penanda adalah “bunyi atau coretan yang bermakna” (aspek material bahasa) sedangkan petanda adalah konsep ide dari penanda atau apa yang ada dipikiran kita tentang penanda. Dikotomi ini dilatarbelakangi oleh background Saussure sebagai seorang strukturalis yang “hobi” akan pengoposisibineran terhadap sesuatu hal, contohnya kalau ada siang pasti ada malam, lemah lawanya kuat dan lain lain sebagainya. Konsepsi tanda ala Pierce terbagi atas tiga yaitu tanda ikonik, simbolik, dan indeksikal. Adanya kesenjangan antara konsep dan realitas membuat Pierce mencoba menjembatani kemelut dunia perlambangan dengan konsep trikotomisnya yang boleh dikatakan selaras dengan ajaran trinitas yang dia percayai sebagai seorang kristiani. Menurut Pierce tanda itu menghasilkan hubungan ikonik atau hubungan kesamaan seperti ujung pensil dengan geometri. Hubungan indeksikal dapat kita lihat yaitu awan gelap di langit yang dengan otomatis menunjukkan pikiran kita untuk berkesimpulan bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Sedangkan simbol adalah hubungan tanda dengan tanda lainnya sebagai hubungan kesepatakan atau konvensi seperti terlihat dalam traffic light yaitu lampu merah adalah tanda berhenti, kuning tanda untuk berhati-hati/pelan dan hijau tanda sebagai instruksi untuk jalan.

Bagaimanapun juga semiotika adalah bidang ilmu yang kompleks dan sangat tidak matematis seperti dalam konsep tersebut diatas oleh Saussure dan Pierce bahwa tidak selamanya “merah” adalah tanda berhenti dan sebagainya. Pengaplikasian semiotika secara parsial memang mudah kita pahami dalam contoh yang sederhana seperti tanda lalu lintas tersebut diatas namun apabila kita aplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang menuntut kita untuk memahami tanda secara kompleks, tidak secara terpisah atau parsial seperti ikon, indeks, simbol maupun tanda maupun petanda versi Saussure. Sifat tanda yang selalu berubah adalah faktor yang berkontribusi dalam kompleksitas ini. Sebagai contoh mitos-mitos lokal yang “awetkan” oleh orang-orang tua terdahulu melalui tradisi lisan, tidaklah akan memadai analisnya dengan analisis parsial tersebut diatas. Namun sebagai alternatif perlu kita pertimbangakan dalam memahami kompleksitas tanda dalam suatu masyarakat yaitu dengan melihatnya dalam perspektif fungsionalitas elemen tanda.

Fungsionalitas elemen tanda bisa kita pahami dengan melihat apa fungsi tanda tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut adalah contohnya:

Fungsi Pemersatu atau fungsi integritas. Tanda-tanda kebudayaan yang khas dalam setiap wilayah atau kebudayaan adalah tanda-tanda yang berfungsi untuk mengikat orang-orang yang berkecimpung dalam sebuah kebudayaan. Contohnya ketegasan dalam berbicara orang-orang bugis Makassar adalah tanda linguistik yang mengikat seseorang dimanapun dia pergi sekalipun berada jauh dari arenanya. Mitos-mitos “tobarani” atau mitos-mitos penggambaran sebagai orang berani dan tegas dalam literatur bugis Makassar akan secara otomatis mengintegrasikan antara kata dan perbuatan orang-orang yang merasa dirinya bugis Makassar.

Contoh lain adalah kerusuhan yang terjadi antar dua kelompok mahasiswa dikarenakan pembakaran lambang kampus dari salah satu pihak yang berusuh. Dari analisis Pierce “lambang universitas” hanya akan diketahui dengan pendekatan simboliknya bahwa suatu lambang adalah simbol dari universitas tertentu contohnya universitas Hasanuddin yang lambangnya ayam jantan. Tapi dengan melihat fungsi perlambangan dapat kita ketahui bahwa analisis ala Pierce tersebut sangat dangkal karena ada aspek penting lain yang perlu untuk kita ketahui dari sekedar tahu bahwa sebuah lambang tertentu adalah lambang dari sesuatu. Sangat jelas bahwa alasan kedua kelompok mahasiswa rusuh satu sama lain adalah karena adanya fungsi integritas dari lambang yang menyatukan mahasiswa dan lambang universitasnya bahwa siapapun yang menghina (membakar) lambang persatuan mereka maka akan mendapatkan perlawanan. Jadi ada aspek psikologis yang diciptakan oleh sebuah lambang untuk mengikat sebuah komunitas untuk bersatu.

Tentunya dalam konteks kehidupan bermasyarakat lebih baik memahami fenomena semiotis dengan pendekatan fungsionalisme lambang karena pendekatan teoritik ala Saussure dan Pierce akan kurang memadai untuk mengcover fenomana kebudayaan yang kompleks. Selain fungsionalitas elemen tanda ada juga relativisme lambang yang bisa dijadikan sebagai alat untuk menjelaskan fenomena semiotik dalam tingkat kebudayaan oleh karena itu kajian semiotika budaya sangat menarik dalam kajian semitik dewasa ini. Namun khusus untuk kesempatan kali ini hanya membahas mengenai fungsi integritas elemen tanda. Penjelasan tentang pendekatan semiotik lainnya akan dibahas pada kesempatan yang lain.
Sekian dan terima kasih!

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Artikel ini adalah tulisan pertama saya yang dipublikasikan di majalah LIDAHIBU Jogyakarta. Majalah LIDAHIBU adalah sebuah majalah yang memfokuskan diri terhadap sentilan-sentilan atau kasak-kusuk mengenai dunia linguistik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s