ETOS KERJA by Haeril Halim


ETOS KERJA
Haeril Halim

“bekerjalah dengan gembira, tetapi gembiralah juga karena bekerja” itulah sepenggal kalimat yang kutemukan dari buku catatan general knowledge ku. Sepintas sepenggal kalimat itu memberikan saya general meaning yang tiba-tiba saja muncul bahwa dalam bekerja itu kita harus banyak senyum agar kerja itu barokah dan menyenangkan orang lain, mungkin hal tersebut muncul dikarenakan pengalaman saya melihat beberapa sales yang tetap tersenyum menawarkan produknya dalam kondisi sesualit apapun, tapi toh itu bukan general view tentang aktifitas sales pada umumnya, ada juga yang bermuka kecut, jutek, ya gimana mau laku yak???? Tapi toh defenisi itu terbantahkan ketika melihat dikotomi para sales yang bekerja yang dimana ada yang senyum dan ada juga yang jutek. Ya hal tersebut memberiku pelajaran bahwa dalam menarik makna sebuah kalimat atau situasi kita harus mempertimbangkan dari berbagai sisi, defenisiku tersebut diatas dilator belakangi oleh pengalamanku yang selama ini banyak berinteraksi dengan sales atau banyak menyaksikan kinerja para sales.

Segera setelah itu saya mendapatkan makna baru dari kalimat tersebut, ini ditenggarai oleh pengamatan saya terhadap para pekerja teras yang ya ada di rumahku. Bising yang mereka ciptakan dari aktifitas pembuatan membuat atap untuk teras rumah ku sendiri pun mengusik aktifitas belajarku. Tapi toh kembali saya pada principal hidup saya bahwa segala sesuatunya baik itu negatif maupun positif terdapat pelajan bagi mereka yang mau berfikir. Bising dari luar rumah itupun sangat mengganggu kupingku tapi toh pada saat kutengok keluar rumah mereka tanpa sedikitpun terganggu dengan bising itu walaupun suara bising itu tepat berada ditangan mereka pada saat memotong besi atau atap dengan alat pemotong besi dalam terminologi tukangnya disebut gurinda. Mereka sangat nyantai dan bahagia plus penuh dengan canda tawa dengan teman mereka sekalipun mereka sesekali nampak serius bekerja tanpa canda sedikitpun tanpa terganggu ributnya suara gurindah tersebut. Subhanallah, mereka menciptakan makna baru terhadap kalimat diatas yang dengannya saya boleh menangkap makna baru tersebut dengan rasionalisasi “bahwa bekerja gembira dan gembira dalam bekerja tidak harus dengan senyum setiap waktu tapi ada fragment-fragment yang dimana senyum, tawa canda dan keseriusan itu dibutuhkan dan pelajaran paling penting yang sangat menamparku tentang bekerja adalah Resistensi. Ya itulah resistensi yang bisa membuat mereka tidak mendengar suara bising tersebut. Saya setuju dengan defenisi bapak Jansen Sinamo tentang 8 etos kerja; Kerja adalah RAHMAT; AMANAH; ; PANGGILAN; AKTUALISASI; IBADAH; SENI; KEHORMATAN; PELAYANAN. Maka tidak ada salahnya jika saya menurut versi saya pribadi menambahkan satu eto kerja lagi; Kerja adalah RESISTENSI.

Begitu banyak tanda-tanda di sekitar kita bisa dijadikan pelajaran dan hidup adalah proses belajar dan proses belajar itu memerlukan proses dialektis tuk membuat kita lebih bijak lagi dalam menyikapi masukan-masukan yang berasal dari lingkungan untuk lebih baik lagi dan tentunya dengan pemahaman yang lebih bijak tuk mencapai pemahaman yang paripurna. THANK YOU SO MUCH….

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s