Teroris versus Koruptor by Haeril Halim


TERORIS VERSUS KORUPTOR
Haeril Halim

Baru saja bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan pidato politik mengenai terorisme secara khusus merespon penyergapan para tersangka teroris yang dilakukan oleh tim Densus 88 Mabes Polri beberapa waktu lalu. Tak pelak ini adalah sebuah prestasi Kepolisian Indonesia di mata rakyat Indonesia dan rakyat International. Tidak hanya sampai disitu, Polri juga melakukan serangkain upaya lanjutan untuk melacak blog milik seorang yang diduga teroris dengan cara bekerja sama dengan FBI. “dahulu aksi terorisme mengincar para wisatawan asing di Indonesia untuk dijadikan target sasaran sekarang pola itu mengalami perubahan dimana mereka menjadikan pemerintah sebagai sasaran. Hal ini mereka lakukan untuk mendirikan sebuah Negara Islam”, kira-kira begitulah apa yang di sampaikan oleh bapak presiden dalam pidatonya.

Ada yang unik dari pernyataan presiden tersebut diatas yang dimana beliau sempat mengklaim bahwa modus baru ini merupakan kelanjutan sebuah peristiwa sejarah yang tidak tuntas di masa lalu. Ya dahulu memang ada aksi separatis yang bertujuan untuk mendirikan Negara islam dan mereka disebut gerakan separatis dan aksi mereka memperjuangkan aspirasi kelompok tidak bertujuan menakut-nakuti sebagai mana defenisi teror yang terdapat di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke III “Usaha ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan”. Sedangkan arti kata teroris (kata benda) dalam kamus yang sama “teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Contoh kalimatnya: berombolan teroris telah mengganas dengan membakar rumah penduduk dan merampas hasil panen”. Di dalam kamus Webster New World Edisi ke VI teror (asal kata teroris) diartikan sebagai “1. A Person or thing causing such fear (Intense for fear) terribleness done by a party or group…” artinya seorang atau sesuatu yang menyebabkan ketakutan yang dilakukan oleh sekelompok orang (untuk tujuan politik). Jadi jelas bisa kita lihat defenisi dari kedua sumber yang berbeda ini mendefenisikan terror itu sebuah aksi yang menimbulkan ketakutan dan diasosiasikan dengan aktivitas politik. Apakah defenisi ini sesuai defenisi tersirat bapak president diatas yang menyatakan terorisme sekarang ini merupakan kelanjutan dari proses sejarah yang tidak tuntas di masa lalu yang ingin mendirikan Negara Islam?? Dahulu mereka tidak disebut teroris tapi gerakan separatis. Kedua terminologi ini dalam ranah praktis sangat berbeda. Ini sangat jelas sebuah pengalihan asosiasi terorisme dari politik ke agama. Kenapa agama menjadi sasaran? Dari mana defenisi tersirat ini didapatkan oleh bapak SBY sedangkan makna denotasi kamus sendiri berkata lain? Ataukah defenisi terror yang seperti ini akan muncul di kamus edisi baru kelak? Ini yang harus di jelaskan oleh bapak SBY sebagai kepala Negara dan wajar jika kita sebagai anak bangsa yang cinta kepada Indonesia mempertanyakan hal ini.

Sesungguhnya jikalau kita menggunakan defenisi terror yang tersebut diatas, teroris sesungguhnya adalah para koruptor yang secara tidak langsung membuat kekhawatiran terhadap rakyat. Walaupn aksi para koruptor ini bukan aksi fisik tapi secara psikologis membuat rakyat ini takut dan cemas akan hari esok jika para koruptor masih tetap dibiarkan bergentayangan di bumi pertiwi ini dan melumat habis uang pemerintah sehingga rakyat miskin akan bertambah miskin dan menderita. Hal inilah sebenarnya yang harus dituntaskan oleh bapak SBY karena adanya kesenjangan antara yang kaya dan miskin itu menimbulkan efek psikologis sehingga ada sekelompok orang yang khilaf berbuat nekad sampai melakukan aksi pengeboman yang memakan korban yang tak lain juga adalah warga Negara Indonesia sendiri. Apabila kesenjangan sosial (menangkap dan menghukum semua para koruptor) itu bisa teratasi maka secara psikologis bisa menciptakan keharmonisan dalam masyarakat dan yakin dan percaya mereka akan berfikir dua kali untuk melakukan aksi-aksi nekat yang merugikan orang lain tersebut. Kapan ya negeri tercinta ini bebas dari koruptor???

Menarik melihat pemahaman terorisme dari bapak SBY apakah defenisi tersebut merupakan hasil sintesa dari bapak presiden mencermati fenomena terorisme yang ada di negeri ini? ataukah hanya merupakan defenisi pinjaman (taken for granted) dari sang Negara Adidaya, Amerika Serikat yang mengasosiasikan aksi terorisme agama Islam. Sampai sekarang belum ada bukti akurat yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan akademik tentang siapa sebenarnya pelaku penyerangan gedung World trade Center yang menjadi ikon perekonomian Amerika Serikat. Ataukah defenisi dari pemerintah Amerika itu sendiri hanya politis belaka? Buktinya kamus Webster terbiatan Cleveland, Ohio pada tahun 2002 tersebut tidak mengasosiakan terror dengan agama tertentu malahan mengasosiasikannya dengan politik. Kita harus kritis melihat fenomena ini. Ada sebuah upaya untuk mencitra burukkan Islam di masyarakat Amerika dan masyarakat Internasional.
Kerugian material dengan runtuhnya gedung kembar di Washington tersebut belum seberapa jika kita melihat berapa besar kerugian material yang disebabkan oleh invasi Amerika ke Afganistan dan Irak bahkan sangat banyak kerugian nyawa yang tak bisa digantikan dengan apapun. Keruntuhan gedung WTC jika dilihat dari sisi ekonomi bukanlah sebuah kerugian material oleh pemerintah Amerika serikat karena dalam era modern seperti ini bisa dikatakan setiap perusahaan mempunyai asuransi jika terjadi suatu bencana maka asuransilah yang akan menanggung semua beban (jaminan asuransi). Fakta yang ada juga menunjukkan banyak perusahaan asuransi yang terancam gulung tikar pasca penyerangan tersebut dikarenakan asuransi-asuransi yang menjamin WTC mungkin tidak mampu menutupi segala biaya asuransi gedung kembar tersebut. Ini hanya sebuah hipotesi patut dikaji lebih dalam lagi tuk mendapatkan kesimpulan yang lebih valid.

Satu lagi yang penting tuk menyikapi aksi separatis dan aksi pengeboman di Indonesia (saya tidak menyebutnya gerakan terorisme karena saya berdasar pada defenisi kedua kamus diatas) adalah pemerintah sebaiknya berinisiatif untuk membuka dialog dengan mereka yang terlibat aksi separatis dan aksi pengeboman. Kalau bapak SBY bisa membentuk Sekretariat Gabungan yang diketuai oleh Abu Rizal Bakri untuk melancarkan sumbatan komunikasi diantara para parpol koalisi kenapa tidak membangun sebuah komite khusus untuk menjembatani aspirasi bagi mereka yang sudah terhipnotis dengan nikmatnya aksi pengeboman karena bagaimanapun juga mereka mayoritas warga negara Indonesia. Saya kira lebih baik menyadarkan teroris dengan membuka ruang bagi mereka untuk berbicara tentang aspirasi mereka dari pada harus membunuh dan membinasakan teroris karena hanya akan menimbulkan kebencian yang mendalam dari mereka yang sudah masuk dalam lubang hitam aksi tak bermanusiawi tersebut. Langkah ini jika dilihat dari konteks demokrasi adalah cukup bijak. Dikarenakan ini masalah yang sangat serius jadi sebaiknya bapak presiden dengan segala otoritasnya mengambil langkah yang terbaik buat kemaslahatan bersama dan sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan pancasila.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Tulisan ini adalah secercah opini yang sifatnya non-ilmiah, maka untuk itu tidak layak untuk dikutip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s