TERORISME DAN TELA’AH STRUKTUR by Haeril Halim


TERORISME DAN TELA’AH STRUKTUR

Haril Halim

Membicarakan terorisme dari sudut pandang penyimpangan prilaku dari sebuah ajaran atau dogma sudah sangat popoler dibahas bahkan pembahasan yang berlebihan seperti ini terkesan menyudutkan salah satu agama. Padahal sesungguh tidak ada ajaran agama manapun yang mengajarakan pengikutnya untuk melakukan aksi terror kepada orang lain. Jangankan melarang aksi terror, menyakiti perasaan seseorangpun dilarang oleh agama karena akan mengakibatkan sebuah afek yang awalnya bersifat personal tapi kemudian bisa membesar menjadi masalah sosial.

Apa yang tulisan ini tawarkan adalah sebuah perspektif baru dalam memahami terorisme yaitu dengan landasan pemikiran bahwa aksi teror itu lahir dari sebuah keadaan tidak adil atau injustice phenomenon. Titik awal terorisme lahir bukan karena adanya sekelompok orang yang menyalah artikan ajaran agama mereka tapi terlebih dari suatu kondisi sosial yang menstimulasi mereka untuk melakukan prilaku menyimpan kemudian merasionalisasikan tindakan mereka sebagai jihad atau perang suci di jalan Tuhan. Hal ini berlandaskan pada teori sebab akibat yaitu tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa adanya sebab yang mendahuluinya.

Memahami terorisme sebagai sebuah fenomena sosial tidaklah salah jika kita melakukan pendekan struktur untuk mengakrabi fenomena ini. Layaknya sebuah bahasa, terorisme juga memiliki struktur. Para ahli sosial seperti Levi Strauss yang memberikan penekanan lebih terhadap study tentang struktur karena sedikit banyak sebuah struktur akan memberikan kita gambaran terhadap apa yang distrukturinya.

Layaknya sebuah struktur bangunan, struktur terorisme juga memilik titik-titik yang saling menghubungkan satu sama lain. Titik-titik ini terhubung satu sama lain membentuk apa yang kita sebut jaringan terorisme. Ironisnya walapun titik-titik ini berfungsi menghubungkan satu sama lain tapi secara struktur mereka memiliki kekuatan yang berbeda beda. Ada yang menopang beban yang ringang dan ada yang berat. Hal seperti ini kasat mata bisa kita saksikan dimana terorisme juga memiliki seorang pemimpin yang diibaratkan sebagai titik yang menopang tanggung jawab terbesar secara struktural.

Secara kultural seorang pemimpin sangat dihargai dan tewasnya seorang pemimpin merupakan simbol dari kehancuran sebuah organisasi. Sekali lagi hal ini sesuatu yang kasat mata. Tertangkapnya Amrozi dan Imam Samudra yang di klaim sebagi petinggi kelompok terorisme yang sempat beberapa kali melakukan aksi tak manusiawi di Indonesia secara struktural merupakan pukulan telak bagi organisasi yang dipimpinnya. Tapi apakah cukup hannya dengan kepuasan kasat mata? Reward dari kepuasan kasat mata ini tidak lebih hanyalah sebuah pujian dan ucapan selamat atas suksesnya pemerintah menangkap pimpinan jaringan terorisme. Apakah hal ini berarti hilangnya terorisme dari negeri ini?

Mengapa diatas terdapat penggunaan frasa “secara kasat mata” karena ini juga merupakan prilaku cultural yang hanya fokus terhadap apa yang kita lihat. Meminjam istilah seorang pemikir dan juga ahli sosiologi kritis asal prancis Pierre Bourdieu yang mengatakan bahwa perilaku individu yang kasat mata merupakan hasil olahan dari pola kognitif suatu kelompok masyarakat atau lebih dikenal habitus. Contohnya jika dengan kekuasaan atau paksaan kita berhasil membuat seseorang tidak melakukan kebiasaan yang sangat senang dilakukannya, secara kasat mata kita berhasil tapi sesuangguhnya tidak bergeraknya fisik orang tersebut melakukan kebiasaannya bukan berarti matinya habitus yang mengontrol perilakunya.

Jika dikaitkan dengan terorisme tewasnya Amrozi dan Imam samudra belum tentu mematikan habitus para kader-kader teroris, serendah apapun posisi mereka secara struktural. Pergantian pemimpin terjadi dalam dimensi waktu tapi penghapusan habitus menurut Bourdieu tidak tergantung pada dimensi waktu. Intinya kesuksesan memberangus habitus itu may be yes, may be no jika hanya dengan pemorak-morandaan struktur.

Sesuai tesis awal tulisan ini yaitu terorisme lahir dari sebuah injustice phenomenon maka langkah terbaik untuk menumpas terorisme tidak dengan perlawanan senjata, pertumpahan darah, hukuman mati atau penyebaran dogma-dogma baru untuk berubah habitus para kader-kader teroris. Tidak dapat disangkali walapun pemimpin terorisme sudah dihukum mati tapi yang masih tersisa adalah para kader-kader yang secara struktural masih rendah (waktu bisa menjadikan mereka diakui sebagai pemimpin) dan permata berharga atau nafas terorisme itu sendiri yaitu habitus. Tapi apa yang penting untuk pemerintah lakukan untuk menghapus habitus para teroris yaitu dengan menghadirkan kondisi yang betul-betul berkeadilan bagi seluruh rakyat tanpa memandang Ras, Suku atau Agama.

Jika solusi diatas masih terlaku abstrak, langkah praktis yang bisa dilakukan adalah membuka ruang publik untuk mereka yang merasa tidak mendapatkan keadilan atau aspirasi mereka belum tercapai. Walaupun aspirasi mereka sangat sulit untuk dicocokkan dengan konteks sosial bernegara kita, yang ada niscaya dengan metode dialog akan dilahirkan solusi-solusi baru yang lebih berkeadilan tanpa harus mentaklik butakan aspirasi awal mereka dan menggap aspirasi mereka sebagai harga mati yang harus dicapai. Solusi-solusi baru yang dimaksud di sini adalah solusi yang diambil apabila menemui jalan buntu yang kedua belah pihak setujui bersama tanpa harus menghilangkan sama sekali aspirasi awal keduanya.

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

*Tulisan ini adalah secercah opini yang sifatnya non-ilmiah, maka untuk itu tidak layak untuk dikutip



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s