The British Chevening Awards


The British Chevening Awards

Chevening scholarships 2011/12 and beyond

The Chevening scholarship scheme is currently being reviewed.  A final decision on eligibility requirements, selection criteria, target regions and priority study areas for 2011/2012 is expected by the end of January 2011.

However we have decided to start accepting applications from Indonesian candidates for 2011/2012 Chevening scholarships via this website.

As in previous years we are likely to offer full scholarships for one year Master degrees at United Kingdom universities and other professional institutions.  The scholarships would cover living costs, tuition fees and return airfares.

Candidates should be aware that Chevening 2011/2012 is likely to be more closely aligned with delivery of the FCO’s priorities. More information about these is available here

The Chevening scheme is highly competitive, with only the best applicants invited for interview. We particularly encourage applications from individuals based in eastern Indonesia. Candidates will need to meet the following basic requirements:

-Indonesian citizens.

-Excellent first degree with a minimum GPA >=3.0.

-Good level of spoken and written English language (IELTS 6.5).

-Minimum of 2 years full time post-graduate (S1) work experience.

-Clear commitment to long-term career development.

-Must be able to demonstrate leadership potential and the capacity to play an important role in Indonesia’s future development.

-We regret that we are unable to accept applications for MBAs.

-Previous recipients of a Chevening award are not eligible to apply.

-Employees, employee’s relatives (or former employees who have left employment within the last two years) of the FCO, including FCO posts, the British Council or any Chevening sponsors are not be eligible for these awards.

When the review of the Chevening scheme is finalised further details on eligibility criteria and other information relevant to applications will be posted on this page and this link as well as  the Chevening Facebook page .

What is Chevening?

The Chevening programme, has, over 26 years, provided more than 30,000 Scholarships at Higher Education Institutions (HEIs) in the UK for postgraduate students or researchers from countries across the world.

Many talented graduates and young professional Indonesians have been supported by the Chevening Programme, which has seen over 1,000 Scholarships awarded to Indonesians since the scheme began in 1984.

Largely funded by the Foreign and Commonwealth Office (FCO), the Scholarship scheme also receives significant contributions from HEIs and other organisations in the UK, and from a wide range of overseas sponsors including governmental and private sector bodies, with which the FCO or its overseas Posts have partnership agreements.

The programme is managed by us, on behalf of the FCO, both in the UK and overseas.

FURTHER INFORMATION PLEASE VISIT: http://www.britishcouncil.org/indonesia-common-chevening.htm

JANGAN PANGGIL DIA RADEN AJENG! (ruangbaca.com)


JANGAN PANGGIL DIA RADEN AJENG!

Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananata Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2003
Halaman: 301 halaman
Rating: ****

Pada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, ia sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Titik. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.

Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Hanya segelintir yang tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”. Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disempitkan dan disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

****

Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14) Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.

Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu.”

Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.

Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.

Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106). Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.

Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya. Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini? Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.

Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.

Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “…dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.

Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.

***

Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “…Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169) Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “…yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, …pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, …dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145) Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.

Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Bahkan, tak akan ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak. Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas.

Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.

Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.

ZEN RACHMAT SUGITO,
Bekerja di Riset Independen Arsip kenegaraan (RIAK) Jakarta

–zen rachmat

 

SUMBER ASLI TULISAN INI : http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&linkto=NzY=.&when=MjAwNTEwMjI=

 

Raden Ajeng Kartini (1879-1904)


Pejuang Kemajuan Wanita

Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan. [*]TokohIndonesia/DPT

***
Biografi
Nama: Raden Ajeng Kartini
Lahir: Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal: Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)
Suami: Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Pendidikan:  E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar

Prestasi:
– Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
– Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang

Kumpulan surat-surat:
– Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Penghormatan:
– Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
– Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar

Sumber:
– Album Pahlawan Bangsa Cetakan ke 18, penerbit PT Mutiara Sumber Widya
– Wajah-Wajah Nasional cetakan pertama. Karangan: Solichin Salam

SUMBER ASLI: http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html

Kumpulan Surat Kartini yang Memberikan Inspirasi (kompas.com)


Penulis: RDI

Sabtu, 18 April 2009 | 18:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini, putri asal Jepara ini dikenal sebagai salah seorang pahlawan wanita di Indonesia. Sumbangsih untuk memajukan kaumnya patut diberi apresiasi setinggi-tingginya. Tak heran jika sampai saat ini kelahiran Kartini masih terus diperingati. Salah satunya adalah dengan mengadakan pemutaran film dokumenter, seperti yang dilakukan Erasmus Huis, Sabtu (18/4).

Film tersebut diberi judul Noem mij maar Kartini. Kartini adalah seorang putri Bupati di daerah Jepara, ia tidak mempunyai nama belakang, atau pun nama tengah. Yang ada hanyalah gelar keluarga di depan namanya. Hidup pada abad ke-19 di Jawa saat pemerintahan Hindia-Belanda bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi bagi kaum perempuan. Banyak aturan tradisional yang harus dipatuhi, perempuan pada zaman itu tidak mempunyai kebebasan.

Hidup mereka terkekang dan terkurung dalam sangkar emas, itulah yang dirasakan Kartini. Sebelum dilarang sepenuhnya untuk keluar rumah, Kartini sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Belanda. Namun, itu tidak bertahan lama, ia dan adik perempuannya harus kembali ke ‘sangkar’ mereka. Merasa terkungkung, Kartini berusaha berontak.

Ia menuliskan beberapa artikel mengenai penderitaan yang dialami oleh para wanita di sekelilingnya. Beberapa artikelnya sempat dimuat surat kabar. Untuk membunuh rasa bosannya, Kartini juga sering membaca buku-buku yang berbahasa Belanda. Ia pun rajin menulis surat kepada Stella, sahabat penanya yang berada di Belanda.

Dalam surat yang ditulisnya menggunakan bahasa Belanda, Kartini secara lugas menceritakan keprihatinannya terhadap nasib perempuan-perempuan yang ada disekitarnya. Hak-hak mereka dirampas, dipaksa untuk menikah muda, mereka dilarang untuk bersekolah, dan masih banyak lagi. Kartini mempunyai keinginan untuk membawa kaumnya menuju masa yang lebih baik.

Impian Kartini lainnya adalah, ia ingin bersekolah di Eropa. Sehingga saat sang ayah menyuruhnya untuk menikah, Kartini langsung menolak. Ternyata penolakan tersebut menyebabkan ayahnya sakit keras, dokter yang mengobatinya menyarankan agar Kartini mengikuti kemauan sanga ayah, agar penyakitnya tidak semakin parah. Maka dengan sangat terpaksa Kartini menjadi istri keempat dari Raden Adi Pati Djoyo Adi Ningrat.

Setelah menikah impian Kartini tetap membara, ia terus berusaha untuk mencerdaskan kaum perempuan. Namun sayang, sebelum ia melihat cita-citanya telah terwujud, Kartini meninggal saat melahirkan putra pertamanya.

Masih Relevan

Surat-surat Kartini memang ditulis beberapa ratus tahun yang lalu. Namun sampai saat ini isi dari surat tersebut tetap relevan. Hal itu dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Ia merasa takjub karena beberapa ratus tahun yang lalu, seorang Kartini sudah mempunyai pemikiran untuk memajukan kaum perempuan. “Kumpulan surat itu bukti kalau RA Kartini sudah mempunyai pemikiran yang jauh ke depan, jarang sekali orang yang seperti Kartini pada saat itu,” kata dia.

Meutia juga merasa, kegiatan korespondensi yang dilakukan Kartini patut dicontoh perempuan saat ini, karena tukar-menukar informasi dapat dijadikan suatu cara untuk meningkatkan derajat perempuan.

Apresiasi yang sama juga ditunjukan oleh Nicholas Van Dame, Duta Besar Belanda untuk Indonesia . Menurutnya, memberikan inspirasi bagi masyarakat internasional. Sampai-sampai kumpulan surat Kartini itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

SUMBER ASLI : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2009/04/18/18333115/Kumpulan.Surat.Kartini.yang.Memberikan.Inspirasi

Liberalisme dan Feminisme


Gerlombang liberalisme di Indonesia masuk berbagai pintu. Salah satu pintu yang boleh dikatakan sukses adalah pintu isu kesetaraan gender. Isu ini bahkan telah berhasil menembus kebijakan negara. Alhasil, gender mainstreaming menjadi salah satu program penting dalam semua lini program yang dicanangkan pemerintah. Selain itu, pemerintah juga meratifikasi MDGs (Milenium Development Goals) yang salah satu indikatornya adalah pengarus-utamaan gender. Targetnya sangat telanjang: menyamakan peran laki-laki dan perempuan. Artikel ini tidak akan membicangkan masalah ini. Yang akan menjadi fokus adalah asal-muasal dari mana gerakan ini muncul di negeri ini? Apakah tepat konteks sosial Indonesia?

Gerakan perempuan di Indonesia mulai menyeruak ke permukaan setelah terbit buku kompilasi surat-menyurat Kartini dengan teman-teman Belandanya (Ny. Abendanon, Stella, Ny. Ovink-Soer, dll) bertajuk Door Duisternis Tot Licht (1911). Buku ini menjadi populer ketika Armin Pane, pujangga angkatan Balai Pustaka, menerjemahkannya dan memberinya judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini dianggap memberi inspirasi bagi kaum wanita di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya agar sejajar dengan laki-laki. Alhasil kata “emansipasi wanita” menjadi kata-kata yang sangat familiar di negeri ini; dan Kartini pun didaulat sebagai salah seorang pahlawan wanita kebangga bangsa ini.

Dalam surat-suratnya, Kartini bercerita tentang kegetiran dan nestapa yang dialaminya sebagai anak-wanita seorang priyayi Jawa (Bupati). Ia selalu ditempatkan sebagai makhluk kelas dua setelah saudara laki-lakinya. Perannya dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki. Ayahnya menikah secara poligami yang membuatnya sangat tidak senang, sekalipun akhirnya ia harus menerima kenyataan menjadi istri keempat Bupati Rembang.
Atas pengalaman yang dialaminya itu, Kartini sampai pada kesimpulan bahwa wanita Indonesia harus bergerak dan bangkit melawan penindasan ini. Untuk bangkit itu, “Kartini bercita-cita memberi bekal pendidikan kepada anak-anak perempuan, terutama budi pekerti, agar mereka menjadi ibu yang berbudi luhur, yang dapat berdiri sendiri mencari nafkah sehingga mereka tidak perlu kawin kalau mereka tidak mau.” (Sulastin Sutrisno, Surat-Surat Kartini, Djambatan, 1985: xvii).

Sampai pada titik ini, pemikiran-pemikiran feminis Kartini terlihat terang-benderang, walaupun akhirnya ia memilih untuk meninggalkan pemikiran-pemikirannya ini. Kartini rupanya lebih senang menjadi wanita Jawa apa adanya. Ia memilih untuk menikah, punya anak, dan tidak bekerja mencari nafkah sendiri seperti yang ia angankan sebelumnya. Bahkan pernikahan poligami yang sebelumnya sangat dimusuhi dan dianggapnya sangat “diskriminatif” terhadap wanita, akhirnya ia jalani. Keputusannya ini sangat disayangkan oleh teman-teman Balandanya, terutama Stella. Stella kecewa atas perubahan pikiran dalam diri Kartini. Sebagai seorang penganut feminisme yang sudah mendarah-daging, Stella betul-betul tidak dapat mengerti keputusan Kartini.
Kartini sendiri tidak terlihat sama sekali merasa tertindas atas pernikahan poligaminya itu. Bahkan beberapa saat setelah pernikahannya Kartini menulis surat kepada J.H. Abendanon dan istrinya yang menunjukkan bahwa pernikahannya, sekalipun pernikahan keempat bagi suaminya, sama sekali baik-baik saja.
“Kawan-kawan yang baik dan budiman. Saya tahu betul-betul, bagaimana surat ini diharap-harapkan, surat saya yang pertama dari rumah saya yang baru. Alhamdulillah, di rumah itu dalam segala hal keadaan saya baik dan menyenangkan; di situ yang seorang dengan dan karena yang lain bahagia…” (Surat-Surat Kartini, hal. 348).
***
Mencermati perjalanan hidup Kartini seperti itu, patut dipertanyakan dari mana Kartini punya pikiran feminis pada awal-awal suratnya? Padahal, sejatinya Kartini adalah wanita Jawa yang ternyata lebih menghayati kehidupan budayanya. Kesenangannya justru lahir dalam harmoni mengikuti ritme budaya tempat sekian lama ia hidup dan sudah mendarah daging sejak lahir. Ia tidak pernah senang menjadi wanita pemberontak seperti yang diajarkan para feminis.

Pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab kalau kita tidak mencermati di mana Kartini bersekolah dan dengan siapa ia berkirim surat. Kartini bersekolah di sekolah Belanda karena ia seorang anak bupati yang bisa menikmati sekolah bersama dengan anak-anak Belanda. Menjelang abad ke-20 saat Kartini bersekolah adalah saat ide-ide politik etis yang dipengaruhi kelompok liberal di Belanda tengah menjadi arus wacana utama di Hindia Belanda (baca: Indonesia).

Selain karena arus wacana politik etis, karena bersekolah di sekolah Belanda sudah tentu Kartini akan menyerap berbagai paham yang tengah berkembang di Barat. Salah satu yang tidak bisa dihindari adalah liberalisme. Pandangannya tentang kedudukan laki-laki dan perempuan pun hampir bisa dipastikan banyak terpengaruh pandangan-pandangan liberal yang diajarkan guru-guru belandanya di sekolah. Dari sekolah Belanda ini pula Kartini bertemu dengan buku-buku dan surat kabar yang berhaluan liberal.

Pengaruh feminis yang paling meyakinkan dalam surat-suratnya adalah teman-teman korespondensinya sendiri. Stella Zeehandelar adalah salah seorang yang paling feminis dibanding teman-temannya yang lain. Usianya lebih tua 5 tahun dari Kartini, anak dari orang tua Yahudi-Belanda. Ia penganut sosialis yang sangat kuat dan aktivis feminis sejak masih di Belanda sampai bekerja di Indonesia. Kartini berkenalan dengan Stella pada tahun 1899 melalui redaksi De Hollandse Leile, majalah wanita yang saat itu sangat populer. Teman-temannya yang lain pun rata-rata berpaham liberal seperti pada umumnya orang-orang yangd atang dari Belanda pada abad ke-19 dan 20.

Paham feminis yang muncul dalam surat-surat Kartini hampir bisa dipastikan berasal dari dua sumber di atas: sekolah Belanda dan teman-teman Belandanya. Beruntung bahwa Kartini sesungguhnya tidak benar-benar menjadi feminis yang ekstrim: memusuhi laki-laki. Feminisme bagi Kartini hanya sebatas wacana yang bergolak dalam pikirannya. Selebihnya ia sampaikan itu dalam surat-suratnya. Kartini sendiri tidak pernah berniat sama sekali mempublikasikan pikiran-pikirannya itu, bahkan sampai ia meninggal tahun 1904 dalam usia 25 tahun beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Justru yang mempromosikan pemikiran-pemikiran feminis ini adalah Mr. J.H. Abendanon, Menteri Agama, Pengajaran, dan Kerajinan Hindia Belanda. Ia mengumpulkan semua surat-surat Kartini, menyusunnya, kemudian menerbitkannya tujuh tahun setelah Kartini wafat. Abendanon sendiri, secara politis, adalah penganut aliran etis (baca: liberal) di Belanda. Sangat wajar kalau ia kemudian mempromosikan ide-ide liberal seperti yang tercermin dalam surat-surat Kartini. Secara tidak langsung Abendanon ingin mengajarkan feminisme-liberal kepada masyarakat Indonesia, namun meminjam tangan anak bangsa Indonesia sendiri, Kartini. Inilah sesungguhnya awal mula benih feminisme-liberal ditaburkan di bumi Indonesia yang sesungguhnya tidak menyimpan masalah besar dalam hubungan laki-laki perempuan, sejak Islam datang ke negeri ini. Wallâhu A’lam.

Sumber Asli Postingan ini : http://www.insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=45%3Aliberalisme-dan-feminisme&catid=13%3Atiar-anwar-bachtiar

Writing Contest-Beat Blog


“Green Your Mind!”

Kamu blogger yang peduli lingkungan? Senang menulis tema perubahan iklim, polusi, konservasi, dan isu-isu lingkungan lain? Ikuti Beat Blog Writing Contest.

Hadiah:

Juara I: uang tunai Rp 5.000.000,00 + Blackberry

Juara II: Uang tunai Rp 3.000.000,00 + Blackberry

Juara III: Uang tunai Rp 1.500.000,00 + Blackberry

17 nominator akan mendapat hadiah hiburan uang tunai Rp 500.000,00

Tulisan para pemenang dan nominator akan diterbitkan dalam sebuah buku.

Para nominator terpilih akan mendapat kesempatan ikut acara “Report from the Field”.

Ketentuan:

  • Memiliki blog pribadi dan wajib memasang banner BeatBlog Writing Contest pada blog dan tulisan yang diikutkan dalam lomba.
  • Tulisan bertema lingkungan hidup.
  • Karya orisinal, bukan terjemahan, atau contekan (copy paste). Kutipan dan referensi harus disebutkan sumbernya (bisa berupa tautan asal kutipan/referensi tersebut).
  • Melakukan pendaftaran di Form Pendaftaran mulai 5 Januari – 15 Februari 2011
  • Panjang tulisan tidak dibatasi.
  • Menggunakan bahasa Indonesia (termasuk didalamnya bahasa serapan, atau bahasa sehari-hari).
  • Artikel yang diikutsertakan dalam lomba :
a. Artikel baru
b. Artikel lama yang pernah dipublikasikan di Blog peserta paling lama satu tahun, terhitung sejak Januari 2010 dan belum pernah memenangkan lomba apa pun.
  • Batas waktu penyerahan karya penulisan ditunggu hingga tanggal 20 Februari 2011.

Hal-hal yang dijadikan penilaian:

1. Kesesuaian dengan tema

2. Orisinalitas

3. Kreativitas

4. Gaya penyajian.

Dewan Juri :

1. FX. Rudy Gunawan

2. IGG Maha Adi

3. Happy Salma

Informasi lebih lanjut : http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=685

The World Bank 2011 International Essay Competition on Youth Migration


Youth Migration

Young people are on the move. Improvements in transportation, technology development and increased international trade, as well as issues such as unemployment, war, health and economic hardship have prompted more young people to migrate within and across national borders in search of work, education and a better quality of life. The United Nations Population Fund (UNFPA) estimates that young people between 15 and 30 years of age account for about one-third of all migrants

Nearly all young people are affected by migration in some way. Some are migrants themselves or are considering migrating abroad or within their home country. Others experience migration through the departure of friends or family members, and still others, in receiving countries, encounter the political debate on immigration and integration policies in their country and may experience cohabitation with new immigrants. Young people are major stakeholders in migration and yet youth are largely absent in the debate on international migration policies and the effects of migration on development.

The World Bank International Essay Competition 2011 would like to hear your views on the opportunities, challenges and implications of youth migration.

Questions to address in your essay / video :

1) How has migration (international or internal, in a sending or a receiving country) affected you, your family, your community, or your country?

2) How do you perceive the benefits of migration (increased opportunities for young people, remittances) versus the risks (brain drain, illegal immigration and exploitation of young immigrants)?

3) What actions can you recommend for broadening opportunities for young migrants in their countries of destination and their countries of origin?

We encourage you to draw on personal experiences when possible and focus on providing your own creative solutions for managing migration in a way that most benefits young people. You do not have to be a migrant yourself to respond on this essay, as you may refer to the experience of your friends and family or other migrants who enter, leave or move within your country. As migration is a multi-dimensional issue, please feel free to explore any aspect of migration that you relate to most, such as :

Rural to urban migration
international migration policy
role of diasporas
forced migration
integration of immigrants
migration and development
remittances
skilled migration / brain drain

Further information please visit: http://www.essaycompetition.org

Genosida di Indonesia?


“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”

Pramoedya Ananta Toer.

Tulisan ini terinspirasi ketika penulis membaca kembali buku-buku Mas Pramoedya, Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels, yang diterbitkan kembali oleh penerbit Lentera Dipantera. Membaca kembali karya-karya Mas Pram yang sudah lama ternyata masih sangat relevan dalam situasi saat ini. Apalagi ini menjelang Pilpres…nuansa sebagai bangsa terjajah sangat kental terasa, dan benar kata Mas Pram, inilah negeri budak, budak di antara  dan bagi bangsa-banga lain. Ternyata memang kenyataannya, penjajalahn selama hampir tiga abad tersebut belum memberikan pelajaran yang berharga bagi bangsa ini untuk lebih menaikkan status sosialnya di mata bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Membayangkan ketika menelusuri Jalan Raya di Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan sebutan Jalan Daendels, terbayang sebuah penderitaan yang mengerikan pernah dialami bangsa ini. Sebuah Genosida! Begitu Mas Pram, memberikan sebuah penggambaran. Dan dalam sejarahnya bangsa ini, genosida itu ternyata tidak hanya pada waktu pembangunan jalan tersebut (yang sekarang sangat dinikmati oleh anak bangsa ini) telah memakan sebanyak 12.000 jiwa dalam pembangunannya. Pembangunan dari Anyer sampai Penarukan yang berjarak 1000 Kilometer, merup[akan satu dari sekian kisah tragedi terbesar dalam sejarah yang terjadi di tanah Hindia. Mas Pram, mengatakan kita bangsa kaya, tapi lemah.

Marilah kita tengok sedikit dalam buku tersebut, dimana saja terjadi Genosida di Indonesia. Mas Pram mencatat, bahwa pembunuhan pertama kali terjadi di Bandanaira (Pulau Banda), 1621, dilakukan Belanda, pada zaman Jan Pietersz Coen. Jumlah Korban tidak pernah disebutkan dengan pasti, dalam kesaksian itu, hampir semua penduduk dikatakan meninggal dan sebagian kecil memilih untuk melarikan diri dari kerja paksa tersebut. Akibatnya Belanda, harus mendatangkan Budak-budak dari daerah dan negara lain. Sungguh bisa dibayangkan, genosida yang terjadi tidak hanya berupa pelenyapan suku dan ras, akan tetapi telah terjadi pelenyapan budaya masyarakat Banda. Genosida yang terjadi dalam sejarah perjalanan anak bangsa ke-2 terjadi setelah Perang Jawa, periode 1825-1830, dengan arsiteknya Jenderal Van den Bosch, berupa kerja tanam paksa atau istilah kerennya cultursteelsel! tidak diketahui jumlah pastinya. Jepang dengan tragedi Kalimantan Baratnya, berapa jumlahnya? tidak tahu pasti! Genosida lainnya, Masih ingat tragedi yang digambarkan paling kejam dalam buku pelajaran sejarah (zaman saya dulu ada Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa/PSPB) yaitu zamannya Westerling di Sulewesi Selatan, menurut mantan Diplomat RI, Manai Sophian (ini bapaknya almarhum Sophan Sophian), tercatat 40.ooo orang meninggal, tapi Belanda mengklaim hanya 5000 orang yang meninggal. Lagi-lagi dengan jumlah angka yang tidak pasti. Selanjutnya yang paling parah terjadi justru Genosida yang terjadi atara anak bangsa. Tgadei 65, samnpai saat ini berapa jumlah korbanya juga belum diketahui pasti, ada yang menyebut angka 500.000, 1.000.000 dan bahkan 2.000.000-2.550.000. Jika ini benar maka ini merupakan pembantain yang paling besar dalam sejarah umat manusia. Pembataian ini lebih tinggi dari apa yang dilakukan oleh rezim Khmer Merah di Kamboja pada tahun 1970-an dan banyak intelektual terbunuh. Begitu juga pada tragedi 65, banyak sekali intelektual yang terbunuh. Jumlah pasrtinya? sampai saat ini pun tidak jelas. Sungguh bangsa yang gampang melupakan sejarah bangsanya sendiri.

Marilah sedikit menegok makna genosida yang kelihatannya angker, dan apakah tepat untuk tulisan ini. Dari Wikipedia (www.id.wikipedia.org), penulis menemukan istilah Genosida (genosid), yaitu sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di USA. Kata ini diambil dari Bahasa Yunani γένος genos (‘ras’, ‘bangsa’ atau ‘rakyat’) dan bahasa Latin caedere (‘pembunuhan’). Dalam sejarahnya tercatat belasan genosida terjadi di dunia, ini, mulai dari pembantaian bangsa Kanaan oleh bangsa Yahudi pada milenium pertama sebelum Masehi, pembantaian bangsa Helvetia oleh Julius Caesar pada abad ke-1 sebelum masehi, pembantaian suku bangsa Keltik oleh bangsa Anglo-Saxon di Britania dan Irlandia sejak abad ke-7, pembantaian bangsa-bangsa Indian di benua Amerika oleh para penjajah Eropa semenjak tahun 1492, pembantaian bangsa Aborijin Australia oleh Britania Raya semenjak tahun 1788, pembantaian Bangsa Armenia oleh beberapa kelompok Turki pada akhir  Perang Dunia I, pembantaian Orang Yahudi, orang Gipsi (Sinti dan Roma) dan suku bangsa Slavia oleh kaum Nazi (dibawah Hittler) Jerman pada Perang Dunia II, pembantaian suku bangsa Jerman di Eropa Timur pada akhir Perang Dunia II oleh suku-suku bangsa Ceko, Polandia dan Uni Soviet di sebelah timur garis Perbatasan Oder-Neisse, pembantaian lebih dari dua juta jiwa rakyat oleh rezim Khmer Merah pada akhir tahun 1970-an, pembantaian bangsa Kurdi oleh rezim Saddam Hussien Irak pada tahun 1980-an, Efraín Rios Montt, diktator Guatemala dari 1982 sampai 1983 telah membunuh 75.000 Indian Maya, pembantaian suku Hutu dan Tutsi di Rwanda (yang secara menarik digambarkan dalam Film “Hotel Rwanda”, yang diarahkan oleh Terry George dan diproduksi tahun 2004, berdasarkan sudut pandang seorang petugas di hotel, Paul Rusesbagina yang menyaksikan genosida tersebut) pada tahun 1994 oleh terutama kaum Hutu, pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991-1996, pembantaian Srebrenica, kasus pertama di Eropa yang dinyatakan genosida oleh suatu suatu keputusan hukum, dan pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh milisi Janjaweed di Sudan pada tahun 2004. Menarik, kenapa tragedi genosida yang terjadi di Indonesia dari masa kolonial sampai kontemporer tidak pernah disebutkan?

Hanya karena jumlah korban yang gak jelas dan ketidakseriusan pemerintah mengungkapkan fakta kah yang menjadi kendala utamanya? Memang benar, bahwa jumlah korban dalam peroistiwa “genosida” yang terjadi di Indonesia, pembantaian 65, yaitu eksponen partai komunis Indonesia, yang dilakukan oleh bangsa sendiri sampai saat ini belum menunjukkan angka yang pasti. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali (bulan Desember). Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis – perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang lebih menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Studi yang dilakukan oleh Geoffrey Robinson, yang ditulisnya dalam sebuah buku Sisi Gelap Pulau Dewata, Sejarah Kekerasan Politik (Yogyakarta: LKiS, 2006) dan Robert Cribb (ed) dalam bukunya The Indonesian Killings, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966 (Yogyakarta: Mata Bangsa dan Syarikat Indonesia 2003) tidak bisa memberikan data pasti berapa jumlah korbannya.

Penulis menjadi tertegun, apakah memang benar bangsa ini ramah dan menghargai sejarahnya? Penulis menyadari bahwa fondasi nasionalisme bangsa ini dibangun memang dari suatu ketiadaan dan kekosongan atas nama nasionalisme yang akhirnya menjadi suatu bentuk identitas nasional bangsa ini. Walaupun sesungguhnya memang bangsa ini dibangun atas dasar konsepsi imagine societies seperti apa yang dikemukakan oleh Bennedict R’OG Anderson (Professor Emiritus, South East Asia, Cornell University, USA) tapi apakah benar bahwa bangsa ini sungguh rapuh dan lemah seperti yang diuangkapkan oleh Pramoedya? Kalau kita lihat, dalam fondasi sejarahnya, mulai dari zaman pra sejarah, kerajaan, kolonialisme dan kemerdekaan, bangunan bangsa ini dilandasi dengan sifat kekerasan dan haus akan kekuasaan. Berbagai tragedi perjalanan anak bangsa menunjukkan keramahan bangsa ini hanya ada dalam tatatarn figurasi panggung. Studi representasi sosial menunjukkan bahwa bangsa ini memang dibangun atas pengkarakteran kekuasaan dalam pentas politik budayanya.

Dalam sejarahnya bangsa ini adalah bangsa yang cepat bertindak dan cepat pula melupakan sebuah peristiwa, bagi bangsa ini apa yang terjadi saat ini hanyalah semata-mata kesalahan sejarah. Bangsa ini tidak pernah belajar untuk berusaha mengetahui sebuah kebenaran. Ketika bangsa ini berdiri dalam sebuah konstruksi sosial politik penguasa, maka sudah jelas sebuah kebenaran apapun dalam sejarah yang berusaha untuk ditampilkan penguasa akan diterima begitu saja. Tentu saja tanpa syarat! Ini sungguh menarik bagaimana kekuatan sosial politik Indonesia di desain untuk melupakan setiap tragedi genosida dalam bangsa ini mulai dari kolonialisme sampai 65. Hanya saja, hak asasi manusia yang terlanggar tidak pernah dibuka tuntas. Ambillah contoh yang paling mendasar adalah pembuatan jalan 1000 kilometer dari Anyer sampai Penarukan, bagaimana reaksi pemerintah Belanda terhadap persitiwa ini, hanya studi kecil yang dilakukan dan hasilnya pun angka bulat yaitu 5000! ini menunjukkan bahwa tidak ada suatu upaya seriusn untuk melihat dengan jernih persoalan ini. Bangsa ini juga tidak memiliki keberanian untuk membentuk tim pencari fakta untuk mengungkapkan kejadian-kejadian itu. Semua komisi-komisi yang dibentuk mulai zaman Soekarno sampai sekarang mandul! Dan anak bangsa tetap ada dalam situasi kebingungan dan ketidaktahuan akan informasi sesungguhnya yang terjadi pada anak bangsa.

Apa yang bisa diharapkan dari sebuah tulisan singkat ini, penulis hanya menginginkan setidaknya mulailah sejarah di dudukkan kepada porsinya. Setiap upaya mempertanyakan sejarah, janganlah dimaknai sebagai sebuah usaha untuk membangkit ideologi tertentu utamanya KLM (komunisme, Leninisme dan Marxisme) tanpa memahami betul apa sebenarnya iti dari ideologi-ideologi tersebut. Pemaham sejarah bangsa ini harus ditujukan untuk perbaikan bagi kemanusiaan bagi generasi penerus, agar kesalahan pelaku sejarah  tidak diulangi lagi. Semangat membuka wacana ini bukanlah membuka luka lama atas sekelompok orang di negara tercinta ini, akan tetapi lebih berusaha untuk mendudukkan persoalan dalam kerangka mindset pemikiran untuk mengakhiri sikap saling curiga antara anak bangsa. Penilaian sejarah seharusnya tidak diletakkan kembali pada apa yang benar atau yang salah, atau nilai mana yang benar dan salah, akan tetapi haruslah dilihat bahwa sejarah merupakan suatu yang historis (berlangsung dalam suatu periode tertentu) dan harus dilihat dari perspektif yang utuh pula. Dengan harapan, bangsa yang dikenal sebagai “budak” ini mulai berani membongkar relasi kuasa yang tercipta dari sebuah budaya politik dan hegemoni yang dilakukan negara untuk membungkan rakyatnya. Dengan keterbukaan, kejujuran dan kesadaran atas apa yang terjadi setidaknya bangsa ini lebih menghargai konteks artinya sebuah “perjuangan”. Pedih, marah, malu adalah rasa yang wajar dimiliki oleh setiap orang. Akan tetapi melupakan sebuah kekerasan yang terjadi adalah sebuah perbuatan yang juga menyedihkan. Ruang ini penting dilakukan untuk membuka tabir sejarah yang ingin dilupakan atau sengaja dilupakan oleh bangsa ini…
terimaskih mas Pram untuk pelajaran ini..

SUMBER ASLI TULISAN INI : http://nyanyoataraxis.wordpress.com/2009/06/14/genosida-di-indonesia/

14 Pembantaian Umat Manusia yang Disebut Genosida


Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematisterhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah)bangsa tersebut. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, RaphaelLemkin, pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan diAmerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani genos (“ras”, “bangsa” atau “rakyat”) danbahasa Latin caedere (pembunuhan)

Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalamyurisdiksi International Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnya ialah kejahatanterhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan Agresi.Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang PengadilanHAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan ataumemusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agamadengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yangberat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakankemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahirandalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.Ada pula istilah genosida budaya yang berarti pembunuhan peradaban denganmelarang penggunaan bahasa dari suatu kelompok atau suku, mengubah atau menghancurkansejarahnya atau menghancurkan simbol-simbol peradabannya.

Genosida telah berlangsung sejak bumi ini berdiri dan menyebabkan penderitaan bagiberbagai bangsa(walaupun ada kasus genosida yang di karanga untuk tujuan tertentu). Berikutbeberapa contoh kasus genosida yang pernah terjadi di muka bumi.

1. Genosida KanaanGenosida ini dilakukan kepada bangsa kanaan oleh bangsa yahudi. Dalam sejarahdikatakan bahwa peristiwa penghukuman bangsa kanaan ini dilakuka karena bangsa kanaantidak patuh terhadap Tuhan. Dalam sejarah ke-Kristenan yang disebutkan dalam kitab Ulangan.Atas perintah Allah bangsa Israel membunuh bangsa Kanaan (Ul 20:17-18)

2. Genosida HelvetiaGenosida ini terjadi pada abad ke-1 sebelum masehi yang dilakukan oleh kaisar romawiyaitu julius caesar .

3. Genosida KeltikAdalah genosida yang dilakukan oleh anglo-saxon inggris di britania raya dan irlandiasejak abad ke-7 kepada bangsa celtic.

4. Genosida Bangsa Indian.Bangsa indian merupakan bangsa yang menjadi penghuni paling utama di amerikasebelum ditemukkannya amerika oleh columbus. Ketika orang-orang eropa masuk tahun 1492maka mulailah terjadi genosida secara besar-besaran untuk meberangus bangsa india.

5. Genosida Bangsa AborijinSuku aborigin sudah mulai mendiami daerah australia semenjak sekian lama. Ketikabritania raya menginvasi australia dan ditemukannya australia oleh penjelajah james cook.Maka dimulailah pembantaian terhadap orang aborigin tahun 1788.Pada tahun 1770, James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambilalih daerahtersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya.Kolonisasi Inggris di Australia, yang dimulai pada tahun 1788, menjadi bencana besar bagipenduduk aborigin Australia. Wabah penyakit dari eropa, seperti cacar, campak dan influenzamenyebar di daerah pendudukan. Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australiasebagai nomad yang dapat diusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian.Hal ini berakibat fatal, yaitu terputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengan kondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi inimengakibatkan populasi bangsa aborigin berkurang hingga 90% pada periode antara 1788 ±1900. Seluruh komunitas aborigin yang berada pada daerah yang cukup subur di bagianselatan bahkan punah tanpa jejak.

6. Genosida bangsa Armenia.Merujuk kepada sebuah peristiwa sekitar Perang Dunia I (dari tahun 1915 ± 1917) ketikamenurut laporan beberapa pihak banyak orang Armenia dibantai oleh tentara KerajaanOttoman TurkiTurki sampai sekarang masih menyangkal adanya pembantaian atau genosida. Namunmereka mengakui bahwa memang terjadi kematian secara besar-besaran yang terjadi karenapeperangan dan hal-hal yang bersangkutan seperti wabah penyakit dan kelaparan. Namun halini tidak terjadi secara sistematis.Namun sebagian besar ilmuwan dari negara Barat dan Rusia menyatakan bahwasebuah genosida pernah terjadi dan hal ini dilaksanakan secara sistematis oleh kaum TurkiMuda. Sampai saat ini ada 22 negara yang mengakui adanya genosida ini.Selama berabad-abad, Armenia ditaklukkan oleh orang Yunani, Romawi, Persia, Bizantium,Mongol, Arab, Turki Ottoman, dan Rusia. Sejak abad ke-17 hingga masa Perang Dunia I,sebagian besar tanah orang Armenia dikuasai oleh orang Turki Ottoman, yang mengakibatkanorang Armenia menderita akibat diskriminasi, penganiayaan agama, pajak yang berat dantindakan kekerasan, meski mereka merupakan salah satu suku bangsa minoritas terbesar dikerajaan Ottoman..Akibat munculnya nasionalisme Armenia, orang Turki membantai beribu-ribu orangArmenia antara tahun 1894 hingga 1896. Akan tetapi pembantaian yang paling mengerikanterjadi pada bulan April 1915, saat berlangsungnya Perang Dunia I. Ketika itu orang Turkimelakukan pembersihan etnis dengan menggiring orang-orang Armenia ke gurun pasir Suriahdan Mesopotamia. Menurut perkiraan para sejarawan, antara 600.000 hingga 1,5 juta orangArmenia dibunuh atau mati kelaparan dalam peristiwa ini. Pembantaian terhadap orangArmenia konon merupakan genosida pertama pada abad ke-20.

7. Genosida Yahudi/ HolocaustHolocaust adalah genosida ( pembantaian ras manusia ) yang unik dan tersadis yangpernah ada di muka bumi. Perusakannya dilakukan secara sistematis karena golongan agama,ras, etnik, kebangsaan dan jenis kelamin terbantai dalam jumlah yang belum tertandingi sampaisekarang.Bersamaan dengan jatuhnya korban bangsa Yahudi, 9 atau 10 Juta orang Gipsi, Slavs ( Sukudi Poles, Ukraina, and Belarusia), homoseksual, dan orang-orang cacat serta tidak mampudibunuh. Total korban diperkirakan mencapai 20 Juta Manusia dibantai di kamp. konsentrasimilik Nazi Jerman.

8. Genosida JermanGenosida ini dilakukan kepada bangsa jerman oleh bangsa ceko,polandia, dan rusia pada akhir perang dunia ke 2. Dilakukan di sebelah timur perbatasan oder-neisse.

9. Genosida Kamboja. Genosida ini dilakukan oleh pasukan khmer merah di kamboja. Khmer Merah (seringkalidisebut Khmer Rouge, yang merupakan namanya dalam Bahasa Perancis) adalah cabangmiliter Partai Komunis Kampuchea (nama Kamboja kala itu). Khmer adalah nama suku bangsayang mendiami negara ini.Pada tahun 1960-an dan 1970-an, Khmer Merah melaksanakan perang gerilya melawanrezim Pangeran Shihanouk dan Jendral Lon Nol. Pada bulan April 1975, Khmer Merah yangdipimpin oleh Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan dan menjadi pemimpin Kamboja. Iamemerintah sampai tahun 1979 dan dalam masa pemerintahannya, terjadi pembunuhan massal terhadap kaum intelektual dan lain-lain. Setelah diusir oleh orang Vietnam, Khmer Merah masih bercokol di daerah hutan di Kamboja.Pada dasawarsa 1990-an, Khmer Merah mengundurkan diri ke pegunungan Dongrek.Sudah sekian lama PBB mencoba mendirikan sebuah tribunal untuk mengadili para anggotaKhmer Merah. Tetapi upaya ini secara kontinu dijegali oleh banyak politisi Kamboja karenabanyak yang memiliki hubungan dengan Khmer Merah. Akhirnya dicapai kompromi padatanggal 3 Oktober 2004 di mana akhirnya pemerintah mendukung didirikannya sebuah tribunal.

10. Genosida Bangsa Kurdi Genosida ini dilakukan oleh rezim saddam husein yang memerintah irak di seputarahtahun 1980. Suku Kurdi berasal dari rumpun bangsa Indo-Eropa. Mereka dikenal sebagai sukuyang mendiami daerah pegunungan di perbatasan Iraq, Iran dan Turki sejak 8000 tahun yanglalu. Menurut Profesor Mehrdad R Izady, seorang pakar Kurdi dari Universitas Harvard, sejarahsuku ini dapat dibagi menjadi 4 periode.Di mata dunia, Kurdi adalah potret etnis yang malang. Mereka tercerai-berai di seanteroempat negara berbeda: Turki, Suriah, Iraq dan Iran. Sedihnya lagi, karena minoritas di keempatnegara itu, sering kali kepentingan bangsa Kurdi diabaikan oleh pemerintah masing-masingnegara tempat mereka berdiam. Akibatnya gampang ditebak, mereka ingin memisahkan diridari negara induk masing-masing lalu mendirikan negara KurdiTentu saja keinginan mereka, yang dinilai sebagai gerakan separatisme, segeraditentang oleh pemerintah masing-masing negara. Bahkan tidak hanya ditentang, tetapi jugaditumpas. Itulah yang menyebabkan Saddam membumihangus kawasan utara yang didiamiKurdi. Amerika dan koalisinya membuat aturan zona larangan terbang di langit Iraq kawasanini.

11. Genosida Indian MayaGenosida ini berhasil membunuh kurang lebih 75.000 indian maya. Dilakukan oleh diktator guatemala efrain rios montt.

12. Genosida RwandaPembantaian di Rwanda, yang didunia internasional juga dikenal sebagaigenosida Rwanda, adalah sebuahpembantaian 800.000 suku Tutsi dan Hutumoderat oleh sekelompok ekstremis Hutuyang dikenal sebagai Interahamwe yangterjadi dalam periode 100 hari pada tahun1994.Peristiwa ini bermula pada tanggal6 April 1994, ketika Presiden Rwanda,Juvenal Habyarimana menjadi korbanpenembakan saat berada di dalampesawat terbang. Beberapa sumber menyebutkan Juvenal Habyarimanatengah berada di dalam sebuah helikopter pemberian pemerintah Perancis. Saat itu,Habyarimana yang berasal dari etnis Hutu berada dalam satu heli dengan presiden Burundi,Cyprien Ntarymira. Mereka baru saja menghadiri pertemuan di Tanzania untuk membahasmasalah Burundi. Sebagian sumber menyebutkan pesawat yang digunakan bukanlah helikopter melainkan pesawat jenis jet kecil Dassault Falcon.Peristiwa tragis penembakan Presiden Habyarimana kontan mengakhiri masa 2 tahunpemerintahannya. Lebih mengerikan lagi, peristiwa ini memicu pembantaian etnis besar-besaran di Rwanda. Hanya dalam beberapa jam setelah Habyarimana terbunuh, seluruhtempat di Rwanda langsung diblokade. Dalam seratus hari pembantaian berbagai kalanganmencatat tidak kurang dari 800.000 jiwa atau paling banyak sekitar satu juta jiwa etnis Tutsi menjadi korban pembantaian. Lalu setelah Kigali jatuh ke tangan oposisi RPF pada 4 Juli 1994,sekitar 300 mayat masih saja terlihat di alam terbuka di kota Nyarubuye berjarak 100 km daritimur Kigali. Korban yang jatuh di etnis lain (Twa dan Hutu) tidak diketahui, akan tetapikemungkinan besar ada walaupun tidak banyak jumlahnya.

13. Genosida Serebrenica Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991 ±1996. Pembantaian Srebrenica (disebut juga Genosida Srebrenica) merujuk kepadapembunuhan sekitar 8000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak pada Juli 1995 di daerahSrebrenica, Bosnia oleh pasukan Serbia Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladi. JenderalMladic kini menjadi buronan internasional yang telah didapati bersalah karena genosida danberbagai kejahatan perang lain di Yugoslavia. Pada 27 Februari 2007, Mahkamah Internasionalmenetapkan kejadian ini sebagai sebuah genosida. Selain pasukan Serbia Bosnia, pasukanparamiliter Serbia Scorpion (kalajengking) juga turut bersalah atas pembantaian ini.Meskipun demikian, dalam keputusan Mahkamah Internasional tersebut disebutkan bahwaSerbia tidak bersalah atas tindakan genosida. Namun, MI tetap mengecam Serbia karena gagalmencegah ataupun mengadili pelaku pembantaian ini, sekalipun Serbia memiliki hubungan eratdengan militer Serbia Bosnia.Menurut Komisi Federal untuk Orang Hilang, jumlah korban yang dikonfirmasi sampaisaat ini mencapai 8.373 jiwa. Pembantaian Srebrenica dianggap secara meluas sebagaipembunuhan massal terbesar di Eropa semenjak Perang Dunia II. Ia juga merupakan kejadianpertama yang ditetapkan sebagai genosida secara hukum. Akibat bentuk kejadian ini, jumlahsebenarnya, butiran terperinci, dan sebab kejadian dipertikaikan sampai kini. Kejadian inidianggap sebagai kejadian paling menakutkan dan kontroversial dalam sejarah Eropa modernpasca Perang Dunia II.Pada tahun 1992, peperangan pecah antara Serbia dan Bosnia. Karena kekejaman danpembersihan etnis yang dilakukan para tentara Serbia, umat Muslim Bosnia harus mengungsike kamp-kamp pengungsian. Srebrenica adalah salah satu kamp terbesar dan dinyatakan olehPBB sebagai zona aman. Kamp itu sendiri dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari NegeriBelanda.Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Korps Drina dari tentara Serbia Bosnia mulaimenggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica. Pada tanggal 11 Juli pasukan Serbiamemasuki Srebrenica. Anak-anak, wanita dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencariperlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-lakiberumur 12-77 untuk ³diinterogasi´. Pada tanggal 13 Juli pembantaian pertama terjadi digudang dekat desa Kravica. Pasukan Belanda menyerahkan 5000 pengungsi Bosnia kepadapasukan Serbia, untuk ditukarkan dengan 14 tentara Belanda yang ditahan pihak Serbia.Pembantaian terus berlangsung. Pada 16 Juli berita adanya pembantaian mulai tersebar.Tentara Belanda meninggalkan Srebrenica, dan juga meninggalkan persenjataan danperlengkapan mereka. Selama 5 hari pembantaian ini, 8000 Muslim Bosnia telah terbunuh.

14. Genosida Darfur  Pembantaian kaum berkulit hitam di Darfur oleh milisi Janjaweed di Sudan pada 2004.Janjaweed adalah suatu istilah yang merujuk terutama pada orang-orang bersenjata di wilayahDarfur,Sudan bagian barat. Menurut definisi PBB, Janjaweed terdiri dari para pejuang kulit hitamberbahasa Arab, yang intinya berasal dari kaum Abbala (peternak unta) dengan melibatkankaum Baggara (peternak sapi). Sejak tahun 2003, kelompok ini telah menjadi aktor utamadalam konflik Darfur, yang mempertentangkan kaum Arab Sudan nomaden dengan populasinon-Arab Sudan yang menetap (sedentary) dalam perebutan sumber daya dan alokasi lahan.

SUMBER : http://www.scribd.com/doc/44390496/14-Pembantaian-Umat-Manusia-Yang-Disebut-Genosida

Genosida


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Genosida atau genosid adalah sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan (membuat punah) bangsa tersebut. Kata ini pertama kali digunakan oleh seorang ahli hukum Polandia, Raphael Lemkin, pada tahun 1944 dalam bukunya Axis Rule in Occupied Europe yang diterbitkan di Amerika Serikat. Kata ini diambil dari bahasa Yunani γένος genos (‘ras’, ‘bangsa’ atau ‘rakyat’) dan bahasa Latin caedere (‘pembunuhan’).

Genosida merupakan satu dari empat pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnya ialah kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan Agresi.

Menurut Statuta Roma dan Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, genosida ialah Perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara membunuh anggota kelompok; mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok; menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang menciptakan kemusnahan secara fisik sebagian atau seluruhnya; melakukan tindakan mencegah kelahiran dalam kelompok; memindahkan secara paksa anak-anak dalam kelompok ke kelompok lain.[1]

Ada pula istilah genosida budaya yang berarti pembunuhan peradaban dengan melarang penggunaan bahasa dari suatu kelompok atau suku, mengubah atau menghancurkan sejarahnya atau menghancurkan simbol-simbol peradabannya.

Contoh genosida

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Genosida