Kembali Kutulis Surat Buatmu ” Gingga” by Sari Sari Jhie



Kepadamu Gingga

Kembali Kutulis Surat……

 

Hari ini hidup serasa ngelangsa, ketika buyar-buyar hujan membanjiri salah satu sudut kota yang tidak lama lagi mati, oleh arus kekuaasaan!!!. Kebencianku pada ketidak adilan, sesalku pada ketidak jujuran membuatku ingin menulis surat pada pemimpin sudut kota ini!! tetapi,,,,

Qalbuku, hanya ingin menulis surat untukmu.

 

“ Gingga” inilah yang ingin kukatakan,

Pada tempat ini…….

Pada kota ini……..

Inilah isi pesanku pada surat untukmu……….

Apa kabar gerangan pemimpin yang katanya mampu bertoleransi tetapi seakan menjilat kembali kata-katannya????

Bagaimanakah ia dalam persandaran kursi yang empuk hingga mampu membuatnya terbuai???

Siapakah mereka yang datang membawa ego tanpa negosiasi terlebih dahulu???

Gingga, Katakan pada mereka,,,

Jangan menjadi pecundang jikalau tidak ingin melempar batu sembunyi tangan!!!

Singgasana yang mereka tampilkan tidaklah seelok dengan Purnama, tidaklah sedahsyat bait Kejujuran……

Adakah yang membawa bekal tersebut, kesudut kota tua yang hampir mati oleh kekuasaan.???

Rambut diubunpun, hingga telapak kaki yang tergores oleh ayunan langkah pada satu nama Ketidak jujuran.

Bukan diri yang merasa sesal, namun ada seribu wajah yang mengharap sesuap nasi mengiba dengan jalan masing-masing,,,,

Kau tau Gingga, semua itu terlaksana menjadi ada karna ketidak jujuran dan ketidak adilan dari pemimpin sudut kota ini …………….

Ada juga seribu wajah yang muak pada mereka !

Mereka pandai bersembunyi dibalik wajah terpolos yang biasa mereka tampilkan untuk merengek mengejar kekuasaan.

Gingga, sampaikan apa yang kutulis dan katakanlah pada mereka dengan suara yang lantang,!!!

“Sudut kota ini tidak menginginkan hati sangar yang berparas cengeng, sudut kota ini menginginkan raut apa adanya, polos bukan pembodohan akan tetapi jujur & adil”

 

Gingga, jika telah usai kehendakmu kembalilah dengan segera untuk tunaikan tugasmu menerbitkan kejujuran & keadilan itu. Jika telah habis masa cendekiamu, pulanglah tanpa menoleh lagi, banyak yang ingin menyaksikan pelangi di senyummu termasuk diri ini, warna senyum yang bisa ditatap setiap waktu sebelum bergelut kedunia mimpi.

Gingga, tak ada yang tau mungkin perasaan lelah memutar pasir waktu bisa saja habis dimakan oleh pembaringanku. Inilah lemahku, karna hanya bisa menulis surat untukmu.

Demikianlah surat ini Gingga, baik-baiklah disana’ disudut kota tempatmu berpijak yang mungkin  tidak lagi berdawai.

Wassalam…

DARI KU

Kota Mati,   April 2011

(Artikel ini adalah artikel titipan dari seorang teman Sari Jhie..Thanks to her)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s