Fenomena tak Terbahasakan: Rumah tapi bukan Rumah


Ya itu sebuah rumah tapi tempat itu bukan sebuah rumah, tidak memenuhi sebagian besar syarat sebagai sebuah rumah tapi itu juga rumah secara fungsional. Susah untuk mengatakan ya itu rumah dan sangat sedih mengatakannya itu bukan sebuah rumah. Itulah gangguan fikiran yang mengoyak perasaan ketika melihat tempat itu.

Tatkala pagi menyapa tempat itu adalah bukan rumah, siangpun demkian adanya bahkan menjelang magrib pun ketika aku lewat tempat itu bukan rumah. Begitu seterusnya setiap hari, pagi, siang hingga sore menjelang magrib. Itu yang membuatku mengambil kesimpulan itu adalah bukan sebuah rumah. Dinding tidak ada, perabot tidak ada dan tempat tidur tidak ada.

Ya tapi ketika malam tiba, aku melihat tempat itu masih bukan sebuah rumah, berselang beberapa menit aku mengambil kesimpulan lagi bahwa itu adalah sebuah rumah. Karena tempat itu memberikan kenyamanan untuk nikmat sebuah nikmat Tuhan setiap hari.

Tapi kok aku masih ragu itu sebuah rumah. Kucari defenisi rumah di kamus besar bahasa Indonesia. Kutemukan seperti ini “Rumah n 1. Bangunan untuk tempat tinggal; 2. Bangunan pada umumnya (seperti gedung). Melihat defenisi tersebut saya kembali percaya bahwa itu adalah bukan sebuah rumah.

Tak puas dengan usaha tersebut, aku mencoba mencari bantuan lain untuk meyakinkanku bahwa itu adalah sebuah rumah. Maka segera kubuka kamus “Webster’s New World” Fourth Edition. Kucari entri “house” sebagai terjemahan dari kata rumah. Kutemukan tepat seperti ini: house: 1. Building for human beings to live in; building or part of building occupied by one family. Ya itulah entri pertama yang sedikit masuk akal dari phenomena yang kuliat tersebut tapi sayangnya lagi-lagi defenisi bahasa inggris tersebut berkoalisi makna dengan makna yang ada di kamus besar bahasa Indonesia tadi. Aku sempat kecewa. Karena apa kamus tadi menyebut family “sedangkan kondisi yang aku lihat itu sama sekali tak ada cirri-ciri family.

Ya Tuhan, kondisi ini membingungkanku dan sedikit menyelami lebih dalam empatiku terhadap sesama mahlukmu. Kuingin mencoba menyempurkan defenisi untuk pak tua itu agar kondisinya tempatnya tinggal sempurna secara linguistik. Pengertian rumah bisa saja kuambil jika hanya berdasarkan pengalaman empirisku tentang rumah. Tapi aku tidak adil jika mengambil defenisi tersebut berdasarkan “mental imageku” tentang rumah. Karena apa yang aku tempati tinggal dari kecil hingga aku menulis note ini adalah tepat seperti defenisi rumah yang ditawarkan oleh kedua kamus tersebut. Aku mau mengucapkan Alhamdulillah untuk kondisiku tapi tak tega jika mengingat kondisi tempat pak tua tersebut.

Tapi bagaimana dengan kondisi tempat pak tua tersebut tinggal, tempat seluas 1,5 meter yang hanya cukup baginya untuk meluruskan badan, itupun dengan sedikit membungkukkan badannya setiap malam saat tidur agar bisa dinamis dengan tempat tersebut. Tempat yang beralaskan karton, dinding belakangnya “menyewa” pagar sebuah show room mobil ternama di Makassar. Dinding samping kiri dan kanan serta di depannya hanya akrab dengan udara malam yang menemaninya tidur pulas, plus suara kendaraan lalu lalang. Tempat itu hanya menjadi “rumah” selama 7 jam setiap hari karena tatkala sang fajar menyingising maka dunia berputar 360 derajat, abrakadabra tempat itu sudah bukan rumah pak tua tadi. Ia menjadikannya rumah hanya selama 7 jam setiap hari dan akan menjadi tempat ramai bagi pedagang dan pembeli ketika fajar akan segera menyingsing.

Apakah kondisi tersebut patut disebut sebagai rumah???? Maaf pak tua aku tak bisa membantumu secara linguistik untuk menyempurkan defenisi tersebut, itulah kendala bahasa yang tidak mampu mewakili realitas. Kita punya bahasa tapi tidak pro terhadap pak tua tadi, tapi aku selalu yakin bahwa kita punya hati nurani untuk si pak tua. Salam hormat dariku pak tua. Note ini aku persembahkan untukmu.

Salam Makassar, Minggu 3 Juli 2011

Haeril Halim

2 thoughts on “Fenomena tak Terbahasakan: Rumah tapi bukan Rumah

  1. Nice analogi….mendekati feature..enak di baca..btw blogmu aku link loh di daftar link ku “mereka malaikat tak bersayap”

    • makasih tuk appresiasinya…oh ya i visited your blog, it is a nice blog…..aq pasang link blogmu di blogrollku jg ya..thanks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s