MENCARI HANDUK TATKALA SEDANG MENGENAKAN HANDUK?


Judul diatas adalah fenomena lucu yang mengelitik skaligus sarat makna akan pemahamanku tentang existensiNya. Suatu ketika tatkala mau mandi, sy kebigungan mencari handuk sampai-sampai sy membongkar segala isi kamar dengan maksud menemukan handuk ku tersayang tersebut tp apa yang terjadi setelah 15 menit kebingungan mencari handuk, sy duduk dan melihat kebawah ternyata handuk yang sy cari tesebut sudah kukenakan jauh sebelum sy mandi, ketika lagi beres2 kamar. Dengan sedikit senyum menyindir diri sendiri akibat “silly mistake” tersebut, tiba2 itu mengingatkanku tentang cerita tentang ikan dan samudra yang pernah say baca di buku imam Khomeini yang berjudul Rahasia Bismillah. Kira2 seperti ini hikayat antara ikan dan samudra tersebut:

Suatu hari segerombolan ikan di lautan yang luas sedang mengutarakan aspirasi kepada pimpinan kelompoknya untuk member mereka gambaran atau arah bagi mareka. Mereka menuntut agar diberi petunjuk untuk menemui sang lautan. “ wahai yang mulia”, kami bermaksud mengahadap lautan” berilah kami petunjuk dimana dan bagaimana kami bisa menghadap lautan yang telah meberi kita kehidupan, bukankah karena ia (lautan) kami semua ada dan tanpa dia kami semua tiada”. Pemimpin ikan tersebut terdiam sambil sedikit tergelitik karena pernyataan sekelompok ikan tersebut. “sudah lama kami hidup tapi tidak tahu dimana tempatnya dan di mana arahnya”, tambah sekelompok ikan tersebut.

Menanggapi kehendak keras dari pengikutnya tersebut sang pemimpin ikan tersebut hanya mangatakan “kawan-kawan pertanyaan seperti itu tidak layak bagi kalian dan orang2 seperti kalian”. “lautan terlalu luas untuk kalian capai, itu bukan urusanmu. Itu juga bukan posisimu. Diamlah”. “cukuplah kalian yakini bahwa kalian berada karena adanya dan tidak akan ada tanpa keberadaannya”, tambah sang pemimpin tersebut.
Mendegar respon dari pemimpinnya, maka para ikan tersebut berkata “jawaban ini tidak akan ada gunanya bagi kami. Larangan tidak akan menahan kami untuk bertemu dengan lautan. Kami harus menujunya”
Gusar dengan hasrat bodoh anak2 buahnya, sang pemimpin dengan singkat berkata “saudara2 lautan yang kalian cari, yang kalian ingin temui ada bersamamu dan kalian bersamanya. Ia meliputi kalian dan kalian meliputinya. Yang meliputi tidak terpisah dari yang diliputi”.

Mendengar jawaban pemimpinnya seakan mereka mendapat kesan bahwa mereka dihalang-halangi tuk bertemu lautan, mereka bangkit tuk membunuh sang pemimpin

Kemudian sang pemimpin bertanya “kenapa kalian ingin membinuku”

Ikan2 tersebut berkata “karena, menurutmu, lautan yang kami cari adalah lautan yang di situ kita berada. Bukan kah kita berada di dalam air bukan lautan. Apa hubungan air denga lautan? Kamu hanya ingin menyesatkan kami. Kamu hanya memperdayakan kami.

“demi Allah bukan begitu”. Jawab sang pemimpin. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya sebetulnya lautan dan air itu satu dalam hakikat. Diantara keduanya tidak ada perbedaan. Air adalah nama lautan dari segi hakikat dan wujud. Lautan adalah nama baginya dari segi kesempurnaan, kekhususan keluasan, dan kebesaran diatas semua fenomena”.

Ya kurang lebih begitulah posisi sy ketika saya mencari handuk padahal, saya sedang mengenakannya. Sy tidak sadar bahwa sy sedang memakai handuk tp toh kenapa ada hasrat tuk mencari dimana handuk sy berada yang nyatanya ada pada diri saya sendiri, that’s silly mistake.

Dalam kasus ikan tersebut, sama dengan ketidaksadaran sy. Mereka mencarai lautan yang menghidupi mereka tapi mereka tidak tahu dengan jelas apa lautan itu. Lautan yang mereka cari dan mereka ingin temui sesungguhnya ada bersama mereka. Ia meliputi mereka. YANG MELIPUTI TIDAK TERPISAH DENGAN YANG DILIPUTI. Lautan itu adalah yang dimana ikan2 tersebut berada. Lautan bersama mereka dan mereka bersama lautan.

Dalam konteks keagamaan begitu banyak fenomena ketidaksadaran yang sejenis dengan kisah tersebut diatas yang termanifestasikan dalam banyak bentuk atau dalam pengalaman kita sehari2. Hikayat tersebut memberika kita “enlightenment” yang sangat sederhana bahwa hubungan Tuhan-ciptaan seolah-olah hubungan antara penghuni lautan dan lautan. Tentunya perbandingan tersebut belum cukup tuk menggambarkan kebesaran hakikat Tuhan. Itu hanya contoh sederhana untuk upaya penyederhanaan hakikat yang sangat jauh dari lingkup pengalaman kita.

Hal lain yang juga bisa di tarik dari sini bahwa beragama dengan hanya modal kepercayaan tanpa ilmu adalah sesuatu yang kurang lengkap di kehidupan saat sekarang ini. Gunakan hati untuk mempercayai tp gunakan juga akal untuk mengenali apakah yang kita percayai tersebut sudah benar atau masih perlu perbaikan. Karena ciri mukmin sejati adalah mereka yang mampu mensinkronkan antara hati dan fikirannya. Demikian wassalam..thanks

Salam Hangat,

Haeril Halim. Hasanuddin University Alum. ’10. Grantee IELSP batch VI periode juni-agustus 2009 Ohio University, Athens, Ohio, U.S.

Cinta dan Perkawinan Menurut Plato


Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”

Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

CATATAN – KECIL :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
________________________________________________________
Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

(Source: dikutip langsung dari http://www.dudung.net/print-artikel/cinta-dan-perkawinan-menurut-plato.html)