“NOW”, by Haeril Halim


NOW

If I could trace a century, but no more,

If I could trace a year, but no more,

If I could trace a month, but no more,

 

If I could trace a week, but no more,

If I could trace a day, but no more,

If I could trace an hour, but no more,

 

If I could trace a minute, but no more,

If I could trace a second, but no more,

If I could trace a millisecond, but no more,

 

But NOW here I am,

Neither olden, a time of completed,

Nor future, a time of not yet to come,

 

But NOW, it is my EXISTENCE,

Be good to every of the second you meet,

I tell yaa,

 

Because it is NOW where you are in,

Where you are to be,

Where you are going to be.

 

Makassar, 6 am of 2 Februari, 2011

*Haeril Halim, a man of his own who made this poem of existence.

“COLOR”, A Poem by an African which has been nominated for the best Poem of 2005


COLOUR

When I was born, I was black.
When I grow up, I’m black.
When I’m ill, I’m black.
When I go out in the sun, I’m black.
When I’m cold, I’m black.
When I die, I’m black.

But you –

When you’re born, you’re pink.
When you grow up, you’re white.
When you’re ill, you’re green.
When you go out in the sun, you go red.
When you’re cold, you go blue.
When you die, you’re purple.

And you have the nerve to call me coloured?

 

Composed by Malcom X

SOURCE

~~~~THE GEOGRAPHY OF A WOMAN~~~~


Between 18 and 20 a woman is like Africa:

Half discovered, half wild, naturally beautiful with fertile deltas.

Between 21 and 30 a woman is like America:

Well developed and open to trade, especially for someone with cash.

Between 31 and 35 she is like India:

Very hot, relaxed and convinced of her own beauty.

Between 36 and 40 a woman is like France:

Gently aging but still a warm and desirable place to visit.

Between 41 and 50 she is like Yugoslavia:

Lost the war, haunted by past mistakes and massive reconstruction is now necessary.

Between 51 and 60, she is like Russia:

Very wide and borders are unpatrolled. The frigid climate keeps people away.

Between 61 and 70, a woman is like Mongolia,

with a glorious and all conquering past but alas, no future.

After 70, she becomes like Afghanistan.

Everyone knows where it is, but no one wants to go there.

 

SUMBER KUTIPAN

PUISI TERAKHIR BJ. HABIBI UNTUK ISTRINYA AINUN HABIBI


Saya menemukan puisi ini beberapa waktu lalu, banyak yang bilang puisi ini “hoax”, tapi belum ada bukti juga mengenai itu. Intinya hoax atau tidaknya mari kita nikmati saja aspek-aspek bahasa yang ada dalam puisi ini.


Puisi BJ Habibie utk almarhum istrinya

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,

calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

~~~~THE GEOGRAPHY OF A WOMAN~~~~


Between 18 and 20 a woman is like Africa:

Half discovered, half wild, naturally beautiful with fertile deltas.

 

 

Between 21 and 30 a woman is like America:

Well developed and open to trade, especially for someone with cash.

 

 

Between 31 and 35 she is like India:

Very hot, relaxed and convinced of her own beauty.

 

 

Between 36 and 40 a woman is like France:

Gently aging but still a warm and desirable place to visit.

 

 

Between 41 and 50 she is like Yugoslavia:

Lost the war, haunted by past mistakes and massive reconstruction is now necessary.

 

 

Between 51 and 60, she is like Russia:

Very wide and borders are unpatrolled. The frigid climate keeps people away.

 

 

Between 61 and 70, a woman is like Mongolia,

with a glorious and all conquering past but alas, no future.

 

 

After 70, she becomes like Afghanistan.

Everyone knows where it is, but no one wants to go there.

 

DIKUTIP DARI SALAH SATU NOTE SEORANG SAHABAT DI FACEBOOK

PUISI UNTUK INDONESIA (By Haeril Halim)


PUISI UNTUK INDONESIA

Jika aku Presiden,
Aku bukanlah Penguasa,
Bukan Pengusaha,
Bukan Budak Jabatan,
Bukan Penjanji,
Bukan juga Pemimpi,
Melainkan seorang Pemimpin sejati.

Jika aku Presiden,
Akan kucabut “akar” Merapi,
Akan kutaklukkan laut Mentawai,
Akan kurawat tanah Wasior,
Akan kudamaikan lempeng bumi yang mengitari tanah pertiwi,
Semua itu hanya untuk rakyat Indonesia semata.

Jika aku Presiden,
Bencana Lapindo,
Bencana Banjir Bandang Sumatra,
Bencana gempa dan Tsunami Aceh,
Bencana Wasior,
Bencana Merapi,
Bencana Mentawai,
Dan Bencana Krakatau yang sedang mengintip Indonesia,
Semuanya Bukanlah teguran buatku,
Melainkan tempatku mencurahkan perhatian buat Indonesia.

Jika aku Presiden,
Mentri, Gubernur, Bupati, Camat,Lurah,
Hingga Kepala Desa,
Semuanya adalah bawahanku,
Tapi suara jeritan dan air mata rakyatku,
adalah luka batinku yang harus segera kusembuhkan dengan tanganku sendiri.

Jika Aku Presiden,
Tak akan kubiarkan satu pasal hukumpun membatasi kesempatanku,
Untuk berinteraksi dengan seluruh rakyat Indonesia,
Karena Indonesia adalah jiwa dan ragaku.
Hidup dan matiku hanya untuk Indonesia.

Jika Aku Presiden
Aku selalu yakin Bangsa ini adalah bangsa yang bermartabat,
Bangsa yang besar dan maju,
Bangsa yang menghargai derita rakyatnya.

Jika Aku Presiden,
Semua itu bukan janji,
Bukan inginku,
Dan juga bukan angan-anganku,
Melainkan panggilan jiwaku,
Untuk itulah Aku menjadi Presiden.

Makassar, 28 Oktober 2010, *Haeril Halim, Seorang Warga Negara Indonesia.