LANGUAGE LITERACY

Posted: December 10, 2011 in My Articles
Tags:

Istilah ini terinspirasi dari istilah media literacy, yaitu sebuah kemampuan memahami pesan-pesan media yang sarat akan tendensi, baik maupun buruk. Saya mencoba menerapkan istilah tersebut dalam konteks linguistik, Language Literacy. Adalah sangat penting bagi kita untuk memahami pesan-pesan linguistik dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari kesalahpahaman komunikasi. Language Literacy ini lebih tepat diterjemahkan sebagai Kemelekan Linguistik, bukan dalam artian seberapa cakap seseorang berbahasa tapi dalam konteks seberapa cakap bahasa (makna) itu dipahami oleh seseorang.

Kemelekan bahasa ini didapatkan bukan hanya dengan mempelajari aspek-aspek formal bahasa seperti grammar, tetapi lebih kepada pemahaman terhadap pengguna bahasanya. Tanpa harus menganaktirikan, tentunya grammar juga membentuk makna (makna yang telah kita sepakati bersama atau konvensi). Grammar mengatakan kepada pembelajar bahasa bahwa Setelah subjek maka yang datang adalah kata kerja atau verb, dan setelah kata kerja adalah giliran objek. Istilah ini lebih kita kenal dengan sebutan SPO dalam grammar bahasa Indonesia. Ketika seseorang mengatakan “Aku pergi ke pasar”. Maka menurut grammar tuturan tersebut benar dan bermakna. Tapi pada tuturan “Pergi ke pasar aku”. Maka tidak ada toleransi buat grammar untuk membenarkan tuturan tersebut. Tapi seseorang dengan kemampuan Language Literacy yang baik maka ungkapan tersebut walaupun tidak grammartikal tetap bermakna dan dapat dipahami. Karena jelas siapa penuturnya (ketika si penutur berkata langung kepada si pendengar), aktivitasnya jelas, dan juga objeknya jelas (pasar yang dimaksud harus dipahami oleh si pendengar).

Tentunya masih banyak aspek-aspek language literacy yang menarik untuk kita kaji bersama. Tulisan ini baiknya kita jadikan sebagai pintu untuk menuju analisis terhadap aspek-aspek tersebut lebih dalam lagi. Sama dengan pesan-pesan media, pesan-pesan linguistik penuh dengan tendensi, baik maupun buruk. Oleh karena itu sanga dibutuhkan pemahaman linguistik yang baik dalam sebuah proses komunikasi.

Salam,
Haeril Halim

Bahasa sebagai alat komunikasi adalah tesis awal dalam perkembangan ilmu bahasa. Tesis tersebut tumbuh seiring dengan kompleksitas relasi manusia dengan manusia, manusia dengan istitusi, dan manusia dengan bahasa itu sendiri. Bahasa berevolusi tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.

Tahap pertama tersebut diatas berkonteks pada sistem komunikasi sehari-hari antara orang tua dan anak, dimana terjadi proses pembelajaran bahasa antara orang yang sudah mengetahui bahasa dengan orang yang belum mengetahui bahasa. Dalam konteks nyata kita dapat lihat bagaimana perjuangan orang tua dalam memberikan pelajaran bahasa kepada balita hingga mereka bisa berbahasa dengan penuh makna kepada dirinya sendiri, kepada orang tuanya dan berakhir kepada orang lain selain ayah, ibu, saudara, kakek, dan nenek. Makna adalah pembelajaran penting dalam proses perekrutan bahasa oleh manusia saat usai dini dalam lingkungan keluarga, tentunya dengan medium kasih sayang dan kesabaran dari kedua orang tua.

Tahap kedua, ketika seseorang sudah mendapatkan pembelajaran bahasa makna dari orang tuanya, maka manusia akan mencoba berhubungan dengan institusi. Dengan bahasa jugalah mereka akan berinteraksi dengan intitusi tersebut. Bahasa jugalah yang menentukan sukses tidaknya interaksi kedua pihak tersebut. Institusi awal tersebut adalah sekolah dan ia umumnya mengikat dengan apa yang kita sebut bahasa formal dengan restriksi-restriksi DOs dan DON’Ts atau apa yang harus dan tidak harus dalam berbahasa. Disinilah letak paksaan berbahasa muncul. Paksaan-paksaan berbahasa tersebut diiming-imingi oleh kesuksesan yang akan diperolah pada institusi-institusi yang lebih besar setelah keluar dari institusi pertama tersebut (kesuksesan mendapatkan pekerjaan). Kesuksesan dan ketidaksuksesan dalam institusi ini akan berujung pada angka-angka simbolik yang diterjemahkan dengan apa yang kita sebut peringkat atau ranking. Semakin tinggi simbol-simbol angkanya maka semakin sukses kecakapan berbahasanya dan begitupun sebaliknya.

Ketiga, relasi manusia dengan bahasa dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dimana manusia mencoba menkontekstulisasikan perilaku bahasanya. Disini manusia mencoba menghayati, bukan sekedar mempelajari, kedua kemampuan bahasa yang mereka dapatkan; Kapan harus berbahasa makna dan kapan harus berbahasa formal. Pemahaman yang mendalam akan hal ini akan berujung pada dua hal : menjadi seorang penutur yang baik dalam keluarga dan menjadi seorang professional dalam dunia kerja. Inilah dikotomi bahasa dalam masyarakat kita dimana dalam lingkungan keluarga bahasa informal dipandang sebagai simbol keakraban dan bahasa formal (dalam dunia kerja) diidentikkan dengan profesionalitas).

Bahasa melakukan perjalanan-perjalanannya yang begitu kompleks sering tanpa kita sadari. Kompleksitas tersebut adalah murni buatan manusia. Manusia adalah pengguna bahasa, manusia adalah raja dari bahasa itu sendiri dan manusia adalah faktor yang menentukan jalannya bahasa dengan didampingi oleh power-power yang lahir dari institusi. Institusi punya peran yang besar dalam mengendalikan bahasa tapi yang harus kita ingat adalah manusai adalah pengendali institusi-institusi tersebut. Jadi realitas bahasa adalah manusia dengan institusi itu sendiri, formal dan tidak formal hanyalah embel-embel bahasa yang sering nampak dipermukaan saja.

Salam,
Haeril Halim

Applications for the academic year 2012-2013 are invited for Visiting Fellowships.

These are offered to support research in any area of the arts, humanities, or the social sciences that has relevance to the study of Islam or the Muslim world (particularly anthropology, economics, geography, history, international relations, law, literature, philosophy, politics, religion, and sociology).

Applications would normally be scholars or writers at the postdoctoral or equivalent level, but senior researchers are also eligible. An academic affiliation is not a necessary requirement.

Each Fellowship carries a stipend of £4,000 and membership of the Common Room. The stipend is intended as a supplementary award and may be held in conjunction with other research grants, stipends, or sabbatical salaries. Fellowships are tenable from 1 October 2012 for nine months, though shorter periods will be considered.

Read the rest of this entry »

 1.Introduction

Content
·1.Introduction·2. Entry Requirements

·3. List of Master and PhD Programs

·4. Application Documents

·5. Application Procedure

·6. Scholarship

·7. Application Schedule

·8. Visa Application and 

Admission Registration

·9. Cost (in RMB Yuan)

Shenzhen Institutes of Advanced Technology, Chinese Academy of Science (hereinafter referred to as “SIAT”), offers 8 Master’s Degree programs and 2 PhD Degree programs to international students. The duration of a Master program is 2-3 years, and a PhD program 3-6 years.

A degree certificate and a graduation certificate will be awarded to those who have completed the prescribed courses and passed thesis/dissertation defense.

All the programs are offered in English.

Read the rest of this entry »

French Eiffel Scholarship 2012/2013 for master (beasiswa s2) and phd (beasiswa s3) programme
Eiffel scholarships

The French Ministry of Foreign and European Affairs launched the Eiffel excellence scholarshipprogramme in January 1999 to support French centres of higher education in their international outreach initiatives, in a context of mounting competition among developed countries, to attract elite overseas students on master’s, engineering and PhD courses.
Calendar Session 2012/2013

Read the rest of this entry »

Things to Prepare Before Applying a Scholarship

Getting a scholarship for an overseas study is a competitive process. This is because many people like you want the scholarship, but not all can be awarded. The cholarship money is simply not enough to fund all at once. Also, the scholarship providers want to ensure that only the best, well prepared applicants are selected and so the money is spent rightly and efficiently to what it is intended for. So, you have to be a winner!

Lots of people have won scholarship. You hear this every time. But how have they done this good job? Are they luckier or more superior or intelligent than others? No, they are not! If you ask them about the winning secrets are, they may simply give you the following lists: things to prepare or consider before applying a scholarship.

Read the rest of this entry »

Beasiswa S1 Sarjana ITB Untuk Semua (BIUS)
Peminat program Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS) dapat mendaftar masuk ITB melalui dua jalur penerimaan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), yaitu:

Read the rest of this entry »

Greetings from IIEF,

Eligibility
Fellows
How to apply for ALA Fellowships funding
Fact sheet
More information

Chevening Scholarship Applications 2012/13 Are Now Open

The British Chevening Awards programme, funded by the British Government (Foreign and Commonwealth Office) and administered by the British Council, has awarded over 1000 scholarship and fellowships to Indonesians since 1984.

Full scholarships are offered for one year Master degrees at United Kingdom universities and other professional institutions. The scholarships would cover living costs, tuition fees and return airfares.

Read the rest of this entry »