Posted by: Haeril Halim | October 15, 2009

SKRIPSI vs “PW”

Suatu ketika pertama masuk universitas terbersit semua asa dalam angan bahwa apapun yang mengahadang di depan maka semuanya harus kita jalani dengan berani. “Kuliah, Paper atau Makalah, Penelitian, Skripsi pasti semuanya bisa aku atasi”. Itulah mungkin arogansi-spirit kita ketika kita menjabat sebagai maba atau mahasiswa baru di kampus. Kenapa sy sebut “arogansi”??? karena tatkala asa dah asyik masyik bersama dengan waktu, spiritpun mulai menemukan titik “wuenaknya” atau lg menemukan “PW”nya (Posisi Wuenak) yang membuat kita enggan tuk melakukan napak tilas terhadap file-file arogansi spirit premature kita pada saat berada di depan “gerbang universitas” tadi.

Begitu pula arogansi para “calon malaikat Negara” yang memberikan eksplanasi terhadap janji-janjinya kelak di alam pemerintahan, yang dalam tiap kesempatan penuh asa dan harapan tapi tatkalah udah dapat “PW” wah ga’ tau dech masih mau mikirin orang-orang terjanji atau malah dah sengaja dilupakan, kasian ya sudah terjanji di awal eh malah terlupakan akhirnya heheheeh akankah kita selalu mau memilih pemimpin yang pelupa???? So hati-hati memilih 2014 mendatang ya….. Biasanya PW mereka temukan tatkala sudah menjadi “malaikat Negara” yang di mana mereka temukan hal yang mereka bayangkan dalam arogansi-arogansi prematurnya yang mereka implementasikan dalam “janji-janji surge”, ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan. Tuk mengingat arogansinya sendiri ya manusiawi pasti mereka malu (karena ga bisa ngapa-ngapain hhehehe)  tapi kok tuk meninggalkan posisi sebagai “malaikat” kok pada enggan ya??????

Back to laptop!!!!

Ya di kalangan akademisi juga begitu halnya dikarenakan tiap dimensi kehidupan itu ada “PW” nya, ya hati-hati aja terhadap sesuatu yang wuenak-wuenak…hehehhehe…flashback, mmmmm mungkin setiap orang sering melakukannya, tapi mengambil pelajaran dari hasil flashback tersebut sangat susah tentunya secara psikologis. Banyak dari kita yang sadar bahwa langkah yang kita rajut saat ini akan berkontribusi minim terhadap masa depan kita tapi what can I do????? Contohnya: sebagai mahasiswa semester akhir banget (hehhehehe) sering terkendala terhadap penundaan mengerjakan skripsi karena berbagai alasan. Tapi toh setelah diselidiki menunda skripsi itu wueak loh ternyata karena bisa santai dan jauh dari masalah (bener ga’????) hehehhe don’ t  try this at home…tapi andai kita sadari “keenakan” yang kita dapatkan jika mengerjakan skripsi dengan tepat waktu tanpa penundaan wah pasti semua orang mau cepat menyelesaikan skripsinya (hahhahaha aku mau juga dong) dengan kata lain menunda skripsi itu ada wuenaknya yang bersifat statis doang (wuenaknya kecil ), but menyelesaikan skripsi dengan cepat tentunya wuenaknya besar loh……hayo mau pilih mana?? Wuenak yang kecil atau wuenak yang besar???? You are the decision maker of your own….sekali lagi tuk mengingatkan PENUNDAAN BUKAN HANYA TERJADI KARENA ADA NIAT PELAKUNYA TAPI JUGA KARENA ADANYA KESEMPATAN….hahahahaha..ayo nulis skripsi yuk teman-teman…

Prapaham terhadap angan dan cita-cita boleh-boleh saja dengan syarat tetap konsisten dan tidak terpengaruh jika sudah mendapatkan “PW”. Tuk pejabat terpilih jangan lengah pada posisi wuenak ya, kasian rakyat yang sudah lama nungguin perubahan..ok..Skripsi oh skripsi I am coming soon…

Salam Hangat,

Haeril Halim

English Department 05 Unhas Makassar

“We are free to know everything, but we don’t have a freedom to do every single thing because sometime what you want is not what you need”

BETULKAH KEPERGIAN ORANG YANG KITA PALING SAYANGI MEMBUAT KITA TERPISAH TOTAL DENGANNYA????

By Haeril Halim English Dept 05 UH

Ketika kematian datang, tak seorang pun mampu untuk mengatakan “eits tunggu dulu ces karena masih ada urusanku yang belum selesai atau tunggu bentar ya saya mau didik anak ku dulu biar kalau saya pergi nanti dia sudah bisa mandiri karena dengan begitu saya bisa tenang di alam ku nanti”. Tentu dengan sangat tegas malaikat akan mengatakan “sorry layau nama kamu sudah masuk daftar online untuk dijemput hari ini jadi siap tidak saip kayaknya kamu harus ikut dech”….ya begitulah may be percakapan antara manusia “patoa-toai” dengan malaikat gaul yang merakyat….he..he…he..saya tidak mengajak pembaca yang budiman untuk hanyut dalam lelucon dengan bahasa yang memang agak susah untuk diterima tersebut karena kayaknya konteksnya yang salah. Ok??? Yang ingin saya tekankan disini yaitu tentang kepergian seseorang ke alam penantiannya yang kekal tidak mewajibkan seseorang harus membereskan semua urusannya di dunia ini karena waktu yang diberikan kepadanya semasa hidupnya adalah setiap detiknya sangat berharga untuk berbuat kebajikan yang dapat menjadi investasi di akhirat kelak.

Ok baiklah kita serius ya…gini biasanya tuh setiap ada kerabat, family, anak, cucu, kakek, nenek, saudara, ayah bahkan ibu yang meninggal tentunya akan menyisahkan sedih yang amat mendalam karena kecintaan kita terhadap mereka? Mengapa kita cinta mereka? Tentunya jawabannya akan bermaca-macam tapi tentunya smuanya akan bermuara kepada karena kita sangat sayang mereka soalnya mereka begitu berharga buat kita dan telah mengajarkan banyak hal kepada kita. Saya sangat merasakan hal tersebut ketika kakek saya yang sangat saya cintai pergi untuk selama-lamanya pada 30 september 2003 (SEMOGA BELIAU MENDAPATKAN TEMPAT DI SISI ALLAH SWT…AMIN). Sebelum kakek saya “pergi” saya adalah orang yang tidak pernah menangis karena suatu hal, kecuali dimarahin kakak, dipukul orang dan tidak dibelikan mainan yang saya mau…he..he..he..just kidding. Iya pada saat beliau “pergi” air mata ini dengan sangat deras mengalir karena sedih yang tak terbendung begitu pun smua keluarga saya ikut larut dalam mendungnya suasana hatiku karena kepergian tersebut. Saya tidak berani untuk membujuk setiap orang yang nangis untuk berhenti nangis karena selain saya juga ikut nangis bahwa ternyata tidak bijak untuk melarang seseorang untuk nangis ketika tiba waktunya mereka untuk nangis. Dan juga konon kalau kita menangisi orang yang meninggal maka orang yang “pergi” tersebut akan ikut sedih dengan cara menangis juga dan bahkan bisa disiksa jika kita menangis dengan “skala besar” yaitu menggerutu. Apakah nangisku pada waktu itu kubawa berlarut-larut? Tentu tidak karena telah saya sebutkan tadi diatas bahwa semua itu ada waktunya baik sedih marah maupun tertawa.

Orang-orang “meninggal” tidak akan pernah akan mengakui bahwa dirinya “mati atau meninggal”, karena kematian itu bukan maunya mereka, tetapi sesuatu yang memisahkannya dengan apa yang dia inginkan selama hidupnya. Contohnya: kekekku memang telah meninggal tapi saya yakin dia sangat melarang saya untuk menangis ketika mengingatnya, karena dengan menangis ketika mengingatnya maka secara tidak langsung saya telah mengklaim bahwa beliau telah “completely” terpisah dengan saya. Hasil sintesa yang kudapatkan bahwa dari pada sedih memikirkan bahwa beliau telah meninggal apalagi sampai meneteskan air mata karena sedih, lebih-lebih bila lagi kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kesedihan tersebut maka hal itu akan membuat beliau disana menjadi sedih karena secara tidak langsung dirinya dianggap telah terpisah dengan kita, menurut saya beliau itu selalu mau dianggap “hidup” walaupun secara jasadi dia telah meninggal, tapi spirit serta nilai-nilar luhur yang beliau tanamkan semasa hidupnya dapat kita bangkitkan kembali, dengan bigitu beliau akan menjadi senang karena kita menggapnya tetap “hidup”. Apa bukti bahwa seseorang yang kita cintai yang telah meninggal itu masih bisa dikategorikan masih “hidup???, kita bisa nampakkan kembali spiritnya yang pantang menyerah jika memang semasa hidupnya orang yang meninggal tersebut adalah orang yang tegar dalam berusaha dan berusaha untuk lebih sopan jika semasa hidupnya dia selalu menganjurkan kita untuk selalu menghargai orang lain. Jadi menangisi orang yang telah meninggal adalah cara kuno yang hanya bisa membuat kita sedih tak berujung dan tak bisa mengambil keputusan terhadap apa yang sedang kita hadapi sekarang. Dengan kata lain “jangan pernah menganggap orang tua kita yang telah meninggal benar-benar berpisah dengan kita, Karena sesungguhnya kita tidak berpisah dengan mereka karena “WE ARE WHAT THEY WERE, WE WILL BE WHAT THEY ARE” yaitu bahwa mereka itu selalu hadir dalam setiap dimensi waktu, baik itu PAST, PRESENT DAN FUTURE. Kehadiran seseorang yang telah meninggal bisa kita rasakan dari nilai-nilai yang ia tanamkan kepada kita semasa hidupnya dan lain-lain. Dengan kata lain kita bisa “menghidupkan” dia dengan cara mengaplikasikan apa yang dia telah ajarkan semasa hidupnya kepada kita, sesungguh sebuah sikap sopan santun (yang diajarkan kepada oleh orang tua kita semasa hidupnya) yang dalam pengaplikasiannya adalah bentuk dari kehadiran orang tua kita setelah dia “pergi” meninggalkan kita. Ayo masih mau mengenang orang yang kita cintai dengan cara yang lama (kuno) atau dengan cara apa yang telah saya sebutkan diatas??? Silahkan tentukan sendiri karena itu bukan hak saya untuk memaksa setiap orang untuk berubah tapi ALHAMDULILLAH jika ada yang mau berubah setelah membaca artikel awam…ok Thanks….

Posted by: Haeril Halim | November 28, 2008

SUATU KETIKA SAKIT ITU MENJADI SESUATU YANG MENYENANGKAN

By Haeril Halim English Dept 05 UH

Judul diatas mungkin menjadi sesuatu yang aneh bagi orang-orang pada umumnya. Bagaimana tidak sakit yang selama ini yang menjadi ikon yang menandakan rasa yang tidak nyaman bagi mereka yang menyempatkan penyakit bersemayam dalam tubuhnya. Sungguh sesuatu yang sangat kontras memang karena bagaimana mungkin kata sakit terdistorsi oleh kata menyenangkan. Keduanya tidak pernah berada pada satu baris karena kedua kondisi itu sudah terset didalam mindset setiap orang bahwa kalau sakit itu tidak enak bahkan sangat tidak enak skali. Mau bukti kenapa sakit itu tidak mengenakkan bahkan menyakitkan. Kalau sesorang sakit ia tidak akan mampu untuk melakukan aktivitas layaknya yang dilakukan oleh orang sekitarnya yang lagi sehat apalagi jika mereka sedang memakan makanan yang menurut anda sangat enak tapi karena penyakitnya tersebut ia untuk sementara waktu tidak boleh mencicipi makanan tersebut. Wah sungguh keadaan yang tidak adil memang ya. Ya itulah sakit namanya sakit pasti tidak mengenakkan. Umumnya dalam hidupku juga kurasakan hal demikian bahwa sakit itu tidak enak karena selain kita secara fisik lemah tidak bisa beraktivitas tapi hati pun juga ikutan sakit ketika melihat seseorang memakan makanan yang sangat lezat yang dimana karena sakit kita untuk sementara waktu tidak boleh “menggilasnya”. Sungguh ironis rasa cemburu karena tidak bisa mencicipi makanan tertentu ternyata menimbulkan rasa sakit yang lebih dari pada sakit fisik yang kita alami. Hal itu wajar karena yang namanya manusia tetap manusia!

Terus kenapa di judul diatas saya berkomentar bahwa sakit itu menyenangkan? Weitz, itu pengecualian yang terjadi. Pernah memang kurasakan sakit yang menimbulkan rasa senang. Pasti tambah bingung nich, ya begitulah karena saya juga bingung terhadap rasa senang itu. Lo wong sakit kok senang, apa tidak “insane” namanya. Kapan hal itu terjadi? Hal tersebut terjadi kira-kira setahun yang lalu. Awalnya penyakitku itu menjengkelkan sekali sampai-sampai menggerakkan hatiku untuk memerintah jasmaniki beranjak ke apotik. Tapi pada saat tiba di apotik belum juga obatnya kuminum bahkan membelinya pun belum tiba-tiba terbersir di hatiku bahwa wah saya harus sering-sering sakit nih kalo gini caranya. Sesuatu yang mendistorsi istilah sakitku pada saat itu yang mengakibatkan saya selalu ingin sakit bahkan setiap haripun tidak apa-apa jika harus mengunjungi apotik untuk membeli obat untuk sakitku ini karena di apotik itu kutemukan juga obat yang merubah persepsiku tentang sakit, yaitu sakit itu sesuatu yang menyenangkan pada saat itu. Thanks!

Posted by: Haeril Halim | October 28, 2008

Budaya Minta Meminta

Budaya Minta Meminta

“mintalah engkau, pasti kuberi”

By Haeril Halim English Dept 05 UH

Pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini bukan berarti saya adalah orang yang ahli dalam “minta meminta” dan bukan juga ahli dalam “minta dimintai”. Sebagai manusia, dalam hidup ini, pastilah kita pernah ikut andil dalam paradox minta meminta ini, baik itu kita yang meminta maupun sebagai orang yang di tempati meminta.

Sebagai manusia ciptaan Tuhan (yang pasti yang namanya manusia pasti di ciptakan oleh Tuhan, manusia hanya mampu membuat kursi, lamari itu pun hanya membentuk dari apa yang telah diciptakan oleh /tuhan yaitu kayu sebagai bahan dasar lemari dan kayu. Ets, kok jauh bangat ngelanturnya ya?…ok back to laptop..) pastilah kita tahu dimana tempat kita meminta (pastinya kepada pencipta kita dong, masa’ kepada pembuat lemari..he..he..he..). etz, jangan heran dulu pada kesempatan ini saya tidak akan membahas etika meminta kepada Tuhan ataupun membahasa bagaimana cara Tuhan member kepada ciptaannya. Cakrawala saya tentang “budaya Tuhan dalam memberi” masih terlampau dangkal akan hal itu oleh karena itu kita focus saja yang pada “budaya minta meminta kepada sesame ciptaan Tuhan”.

Menurut hukum minta meminta yang saya anut, tatkala seseorang meminta kepada kita maka kita harus memberinya jika hal itu berada dalam kesanggupan kita dan juga kita memberikan kepada “si peminta” berdasarkan apa yang dia minta. Jangan memberikan kepada seseorang apa yang dia tidak minta karena pasti itu tidak sejalan dengan hukum awam yang saya anut tentang hukum minta meminta yaitu “mintalah kamu pasti kuberi”. Lo wong orang minta gunting kok dikasih cangkul gak nyambung kan? Ya iyalah masa’ ya iya dong!!1. ets ngelantur lagi nich…baiklah back to laptop lagi ya…Tukul arwana pernah berkata minta mintalah kepadaku pasti kuberi asalkan tidak lebih dari Rp. 1500…he..he..he..

Kita sebagai orang Indonesia termasuk orang-orang yang kaya raya yang tentunya suka memberi. Kita mempunyai sumber daya alam dengan melimpah, dengan senang hati kita berikan kepada pihak asing untuk dikelolah dan dengan hati yang sangat ikhlas menerima apa yang menjadi percikan dari kekeyaan alam kita yang telah di eksploitasi oleh si “Asing” (baca: pihak asing). Si Asing meminta dan kita dengan senang hati memberi, faktanya budaya minta meminta yang saya anut terbuktikan???” atau untuk konteks kenegaraan hal itu bisa diperluas lagi kayak gini “mintalah kekayaan alamku pasti kuberi” (walaupun mendapatkan cipratannya saja ga pa-pa lah yang penting dapat, dari pada gak dapat atau dengan kata lain mendingangan ada walaupun sedikit dari pada tidak ada sama skali bisa melarat kita?loh faktanya sekarang masyarakat Indonesia banyak yang sedang mendekati gari finis “melarat” belum lagi yang sudah finis melarat dari jutaan tahun yang lalu…he..he.. saya tidak ngelantur loh dalam hal ini tapi saya Cuma mencoba menyajikan fakta yang ada di Negara tercinta ini dengan bahasa saya yang sangat amburadul (satu lagi nich budaya kita yang bangga akan keamburadulannya. Maafkan saya ya karena bangga akan keamburadulan saya. Semoga juga yang orang-orang yang merasa dirinya amburadul mencoba untuk menjauhkan dirinya dari keamburadulan baik itu warga kelas bawah, atas, menengah yang amburadul maupun para pejabat kita yang mungkin masih ada sebagaian kecil yang yang sangat senang akan keamamburadul (mudah-mudahan tidak ada yang amburadul dalam membuat kebijakan…amin). Pembaca yang budiman ini merupakan fakta yang ada di negara kita sebagai mahasiswa janganlah kita menjadi amburadul dalam setiap hal karena yakin dan percaya keamburadulan adalah bapaknya amburadul jadi amburadul tambah amburadul hasilnya tetap si mr. konstan “amburadul”.

Para pembaca yang budiman dalam member dan meminta haruslah disertai dengan alasan yang logis, memberikan kepada seseorang 70% ataupu lebih dari itu kan bisa disebut “insane” apalagi namanya kalau bukan “gila”. Marilah kita semua sadar akan hukum minta meminta dan memberi ini, kita sebagai bangsa yang kokoh yang berdiri tegak dari sabang sampai merauke yang dimana kita dibentengi oleh kekayaan alam kita sendiri belum mampu untuk mengelolah dengan baik apa yang kita miliki sehingga banyak pihak luar yang membabtis dirinya pandai dalam mengelolah sumberdaya alam datang meminta kepada kita dan kita memberinya dengan senang hati tanpa keraguan sedikitpun dan tanpa keuntungan yang “banyakpun”. ayo kita sama-sama dalam membangung Negara ini, walapun kita harus member kepada si peminta (baca: asing) berikanlah dengan senang hati tapi dengan pertimbangan yang logis yaitu harus seimbang pembagiannya. Kalaupu kita harus “pelit” (tidak mau memberikan sumberdaya alam kita untuk dikelolah oleh si “asker”) marilah kita sama –sama untuk terus belajar sehingga kita semua menjadi orang yang pandal mengelolah bangsa kita (baca:kekayaan alam kita) untuk kemakmuran kita bersama sehingga semua orang-orang yang dengan terpaksa lari mendekati garis melarat maupun yangt telah melarat bisa kita bawa keluar dari kemelaratan menuju kebahagiaan. Amin!!

Posted by: Haeril Halim | October 18, 2008

Budaya Mentang-Mentang

Budaya Mentang-Mentang

By: Haeril Halim English Dept 05

Para pembaca yang budiman sebelum saya memulai topik tentang ini budaya mentang-mentang ini dengan sangat jujur akan saya katakan bahwa tulisan ini terinspirasi dari kapsul-kapsul Prie-GS yang saya dengarkan di radio Smart FM. Jadi kata-kata “budaya mentang-mentang ini” adalah asli milik si empunya mas prie gs. Kan tidak ada salahnya saya mencoba untuk membahasnya (tentunya dalam gaya bahasaku sendiri) juga kepada para pembaca yang belum sempat mendengarkan kapsul-kapsul beliau. Ijinkan aku ya?

Baiklah kita mulai saja.

Ada sesuatu yang unik dinegara kita ini, dimana banyak orang yang menganut budaya mentang-mentang dan anehya tanpa pernah sadar bahwa mereka menganut budaya mentang mentang ini. Banyak fenomena-fenomena disekitar kita yang bisa menjelaskan tentang hal ini baiklah kita lihat satu persatu apa-apa saja sih budaya mentang mentang ini disekeliling kita.

Mentang-mentang orang tua, seenaknya bentak-bentak anaknya, mentang-mentang anak seenaknya membangkang perintah orang tua.

Mentang-mentang tukang becak, seenaknya nrobos sana sisi tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Mentang-mentang penumpang kok seenaknya mau diantar oleh si tukang becak dengancara instan melalui jalur-jalur yang dilarang yang dapat mengaggu jalur lalu lintas.

Mentang-mentang tenaga pengajar bisanya cuma memanfaatkan kesempatan dan kesempitan terhadap anak muridnya yang cewek (kalo brani yang cowok dong, jangan cuma kepada wanita. Loh itukan namanya jeruk makan jeruk…he..he..)…mentang-mentang siswa takut untuk melaporkan shoft sexual harassment gurunya kepada pihak yang berwenang”. Mentang-mentang pihak yang berwenang eh malah takut akan kehilangan sosok figur guru pintar dan suka sangat suka melakukan soft harassment kepada mahasiswanya.

Mentang-mentang pejabat, eh malah memanfaatkan kursinya untuk memindahkan uang dari “saku” kantor ke saku pribadinya. Mentang-mentang rakyat kecil eh maunya menerima amplop untuk memilih pemimpin yang akan tidak memperhatikannya setelah terpilh nanti.

Itulah contoh beberapa kasus budaya mentang-mentang di negara kita yang meliputi bidang pemerinthan, pendidikan dan juga kehidupan masyarakat (ekonomi).

Marilah kita semua sadar akan budaya mentang-mentang ini. Sebenarnya saya juga memanfaatkan budaya mentang-mentang ini yaitu: mentang-mentang ada kesempatan nulis eh malah nyinggung orang (ets, yang pastinya orang yang tersinggung karena tulisan saya ini berarti dia masih sedang dimabuk cinta oleh budaya mentang-mentang ini. Memang budaya mentang-mentang ini menghasilkan sesuatu kepuasan bagi orang yang mentang-mentang tapi merugikan orang lain yang dimentang-mentangi, contohnya siswa cewek yang kerap terusik oleh budaya mentang-mentang gurunya yang suka dengan itu dech!!!

Ayo kita berantas budaya mentang-mentang di Negara kita khususnya dalam realitas pendidikan kita biar tidak ada lagi siswa baik itu cowok, cewek maupun lain dari keduanya itu yang mendapat perlakuan mentang-mentang dari gurunya.

Posted by: Haeril Halim | October 18, 2008

CINTA, BENARKAH MEMILIKI ATAU TERMILIKI?

CINTA, BENARKAH MEMILIKI ATAU TERMILIKI?

By: Haeril Halim,English Dept 05 UH

Cinta, ya cinta!!! Ya that’s right, itulah cinta. Cinta kadang membuat orang tertawa, sedih, menangis, bahkan cinta bisa berujung kematian yang tak termaknai sebagai sebuah kematian oleh orang yang dimabuk cinta. Cinta itu tak bisa dibendung, air mata kadang mengalir dengan sendirinya tatkala mengingat cinta itu sendiri, bahkan saya yang sekarang ini lagi menulis tentang cinta tidak tahu kenapa tiba-tiba air mata ini serasa ingin keluar untuk menyambut sang cinta padahal sebenarnya tidak ada niat untuk mengingatnya apalagi mengenangnya karena cinta itu tidak untuk cukup untuk dikenang dengan meneteskan air mata. Beribu bahkan berjuta buku, novel, syair-syair yang terinspirasi karena cinta, bahkan cinta itu sendir tidak pernah bermaksud untuk membuat orang menangis, menulis puisi, atau mendekatkan seseorang denga kematian. Tidak percaya, tanyalah kepada cinta, saya yakin cinta tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita karena kita ini kasar sedangkan cinta itu sangat halus tanpa cacat sedikitpun, tapi toh kenapa cinta bisa menyebabkan seseorang sakit padahal dia itu suci dan bersih. Mungkin itulah pertanyaan klasik yang mungkin tak dapat dijawab oleh sang pecinta. Manusia telah berbuat banyak demi cinta, tapi pernahkah kita sadar apa yang telah cinta perbuat kepada kita? Saya pun tidak bisa semudah itu untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Benarkah cinta itu memiliki ataukah termiliki? Mungkin kalau kita menanyakan kepada seseorang apakah cinta itu memiliki atau termiliki? Umumnya mereka akan menjawab ya pasti dong cinta itu memiliki. Simak baik-baik “cinta itu memiliki”, kalimat tersebut secara linguistik tidak ada salahnya karena sudah tersusun dengan baik strukturnya. Tapi coba lihat dari segi semantik maknanya, sepertinya ada yang ganjal. Cinta itu suci sedangkan manusia itu sangat sulit untuk tetap suci bahkan menusia sering yang menodai cinta tapi cinta yang murni tak akan pernah ternodai karena cinta itu hakikatnya suci bersih sedangkan manusia kadang suci dan kadang juga sangat tidak suci. Jadi kalau disimpulkan manusia tidak sejenis dengan cinta, sangat jauh berbeda. Tapi toh kenapa manusia selalu mengatakan bahwa cinta itu memiliki? Menurut hemat saya cinta itu tidak memiliki apa-apa (selain kesuciannya sendiri), tapi menusialah yang selalu sok untuk memiliki cinta bahkan mungkin jika diberi pilihan kepada cinta mungkin cinta tidak akan pernah mau untuk memiliki manusia karena manusia itu egois. Jadi berdasarkan penjelasan diatas, apakah cinta itu memiliki atau termiliki. Silahkan putuskan sendiri. Thanks.

 

 

Categories