
Istilah ini terinspirasi dari istilah media literacy, yaitu sebuah kemampuan memahami pesan-pesan media yang sarat akan tendensi, baik maupun buruk. Saya mencoba menerapkan istilah tersebut dalam konteks linguistik, Language Literacy. Adalah sangat penting bagi kita untuk memahami pesan-pesan linguistik dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari kesalahpahaman komunikasi. Language Literacy ini lebih tepat diterjemahkan sebagai Kemelekan Linguistik, bukan dalam artian seberapa cakap seseorang berbahasa tapi dalam konteks seberapa cakap bahasa (makna) itu dipahami oleh seseorang.
Kemelekan bahasa ini didapatkan bukan hanya dengan mempelajari aspek-aspek formal bahasa seperti grammar, tetapi lebih kepada pemahaman terhadap pengguna bahasanya. Tanpa harus menganaktirikan, tentunya grammar juga membentuk makna (makna yang telah kita sepakati bersama atau konvensi). Grammar mengatakan kepada pembelajar bahasa bahwa Setelah subjek maka yang datang adalah kata kerja atau verb, dan setelah kata kerja adalah giliran objek. Istilah ini lebih kita kenal dengan sebutan SPO dalam grammar bahasa Indonesia. Ketika seseorang mengatakan “Aku pergi ke pasar”. Maka menurut grammar tuturan tersebut benar dan bermakna. Tapi pada tuturan “Pergi ke pasar aku”. Maka tidak ada toleransi buat grammar untuk membenarkan tuturan tersebut. Tapi seseorang dengan kemampuan Language Literacy yang baik maka ungkapan tersebut walaupun tidak grammartikal tetap bermakna dan dapat dipahami. Karena jelas siapa penuturnya (ketika si penutur berkata langung kepada si pendengar), aktivitasnya jelas, dan juga objeknya jelas (pasar yang dimaksud harus dipahami oleh si pendengar).
Tentunya masih banyak aspek-aspek language literacy yang menarik untuk kita kaji bersama. Tulisan ini baiknya kita jadikan sebagai pintu untuk menuju analisis terhadap aspek-aspek tersebut lebih dalam lagi. Sama dengan pesan-pesan media, pesan-pesan linguistik penuh dengan tendensi, baik maupun buruk. Oleh karena itu sanga dibutuhkan pemahaman linguistik yang baik dalam sebuah proses komunikasi.
Salam,
Haeril Halim



























